Dubes China untuk AS Sebut Politisasi Asal Muasal COVID-19 Berlawanan dengan Kemanusiaan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Washington, D.C. - Duta Besar China untuk Amerika Serikat, Cui Tiankai, meminta agar tak ada politisasi terkait asal-muasal COVID-19. Ia berkata China mendukung penuh WHO yang sedang melakukan investigasi di Wuhan.

Dubes Cui berkata, menuduh tanpa alasan adalah hal yang berlawanan dengan spirit kemanusiaan. Ia meminta agar hati-hati dalam membuat tuduhan terkait COVID-19.

"Saya pikir ketika orang-orang membuat tuduhan, mereka harus membuktikan tuduhan-tuduhan tersebut, dan mengucapkan hal-hal itu ketika kita masih menghadapi pandemi adalah hal yang berlawanan dengan spirit kemanusiaan," ujar Dubes Cui kepada CNN, seperti dikutip Xinhua, Senin (8/2/2021).

Lebih lanjut, Dubes Cui memuji tim WHO yang sedang berada di Wuhan untuk memeriksa asal virus corona. WHO baru datang ke Wuhan sekitar setahun setelah pandemi merebak.

"Mereka bekerja sangat keras. Mereka mencoba untuk melihat semua fakta. Kita sangat mendukung mereka," ujar Dubes Cui.

Ia pun meminta agar masyarakat melihat pandemi dari sudut pandang ilmuwan, bukan politikus.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Minta Ada Pencarian di Seluruh Dunia

Foto pada 15 April 2020, sekeranjang udang yang dijual di salah satu toko  di Pasar Baishazhou Wuhan di Wuhan, provinsi Hubei. Lebih dari 90 persen kios pasar basah di Wuhan telah kembali buka sejak pemerintah mencabut aturan lockdown di wilayah pusat pandemi corona tersebut. (Hector RETAMAL/AFP)
Foto pada 15 April 2020, sekeranjang udang yang dijual di salah satu toko di Pasar Baishazhou Wuhan di Wuhan, provinsi Hubei. Lebih dari 90 persen kios pasar basah di Wuhan telah kembali buka sejak pemerintah mencabut aturan lockdown di wilayah pusat pandemi corona tersebut. (Hector RETAMAL/AFP)

Selain memuji ilmuwan WHO, Dubes Cui turut menyarankan agar tracing (pelacakan) serupa dilakukan di berbagai negara. Ia mengacu pada laporan-laporan media bahwa sebelumnya ada kasus-kasus COVID-19 di berbagai negara.

"Jadi supaya umat manusia bisa bersiap lebih baik ketika dihadapi virus lain lagi. Tolong jangan mempolitisasi seluruh isunya. Tolong biarkan ilmuwan melakukan pekerjaan profesional mereka," jelasnya.

Pertama kali COVID-19 dideteksi di Wuhan pada Desember 2019. Dr. Li Wenliang mencoba mengumumkan kasus itu ke orang-orang terdekatnya, tapi akhirnya ditegur oleh otoritas di China.

Peringatan Dr. Li ternyata benar dan virus Corona menyebar di Wuhan dan seluruh dunia. Pada 7 Februari kemarin adalah tepat setahun usai Dr. Li meninggal akibat COVID-19.

Wuhan Kenang Dr. Li Wenliang

Karangan bunga dan foto mendiang dokter Li Wenliang terlihat di Cabang Houhu Rumah Sakit Pusat Wuhan di Wuhan di provinsi Hubei, China, Jumat, (7/2/2020). Li Wenliang sebelumnya memberikan peringatan kepada publik tentang potensi munculnya virus corona pada Desember 2019. (AFP/STR)
Karangan bunga dan foto mendiang dokter Li Wenliang terlihat di Cabang Houhu Rumah Sakit Pusat Wuhan di Wuhan di provinsi Hubei, China, Jumat, (7/2/2020). Li Wenliang sebelumnya memberikan peringatan kepada publik tentang potensi munculnya virus corona pada Desember 2019. (AFP/STR)

Sejumlah warga Wuhan berinisiatif untuk mengenang Dr. Li Wenliang yang meninggal pada 7 Februari 2020 akibat COVID-19. Sang dokter pernah memberi peringatan tentang penyakit "mirip SARS' sebelum wabah menyerang.

Pesan yang disebar Dr. Li Wenliang membuat kesal otoritas Wuhan karena dianggap membuat gaduh. Ia lantas mendapat teguran, tapi ternyata wabah benar-benar terjadi.

Dr. Li Wenliang tertular COVID-19 dan mengembuskan napas terakhirnya di Wuhan dalam usia muda: 34 tahun.

Berdasarkan laporan AP News, Minggu (7/2), warga memberikan simpatinya di Wuhan Central Hospital dengan meninggalkan bunga. Ada pula yang meninggalkan ayat Bible, yakni Matius 5:10.

"Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga," demikian bunyi ayat tersebut.

Kematian Dr. Li Wenliang disebut masih topik yang sensitif di China, meski banyak netizen yang mendukungnya. Pihak keluarga masih enggan memberikan wawancara.

Petugas lantas meminta warga memindahkan bunga mereka taman di belakang rumah sakit. Seseorang menuliskan pesan di bunga mereka: "Terima kasih Dr. Li Wenliang."

Infografis COVID-19:

Infografis 9 Waktu Tepat Cuci Tangan Hindari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis 9 Waktu Tepat Cuci Tangan Hindari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: