Dubes RI: Berjualan di Rusia Tidak Menjelimet Seperti di Eropa Barat

Liputan6.com, Jakarta - Sudah rahasia umum di dunia industri dagang Indonesia bahwa berdagang produk ke negara-negara Eropa tidaklah mudah. Uni Eropa yang mayoritas anggotanya negara Eropa Barat juga memiliki aturan dagang yang ketat.

Federasi Rusia bukanlah negara Uni Eropa, dan Duta Besar RI untuk Rusia Wahid Supriyadi mengakui bahwa berdagang di Negeri Beruang Merah itu tidaklah rumit.

"Ternyata tidak sejelimet di negara-negara Eropa barat," ujar Wahid di Kementerian Luar Negeri, Kamis (16/1/2020).

Salah satunya adalah pada produk makanan. Bagi produk Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) cukup memiliki Izin Rumah Tangga (IRT). Usaha kecil pun tak perlu repot minta izin ke otoritas yang lebih besar seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Contohnya makanan saja, minimal ada izin rumah tangga (IRT), kan biasanya rumah tangga enggak sampai ke BPOM. Jadi lebih mudah," ucapnya.

Produk seperti buah pun lebih mudah lagi masuk Rusia. Itu penting karena buah-buahan tropis Indonesia punya peluang besar di pasar Rusia.

Dubes Wahid berkata satu buah naga di Rusia bisa seharga Rp 200 ribu. Produk mangga arum manis Indonesia pun sudah mulai masuk ke negeri itu.

Tantangan di Rusia sejauh ini masih masalah image saja. Pihak KBRI di Moskow pun berusaha menjembatani antara dua negara lewat acara seperti Festival Indonesia dan Business Forum yang diadakan tiap tahun sejak 2016.

Pebisnis Indonesia pun mulai tertarik merambah ke Rusia.

"Sekarang yang berminat itu banyak sekali, jadi sudah mulai kita tidak mengejar-ngejar. Justru sekarang kita menolak. Kita betul-betul kurasi," jelas Dubes Wahid.

Inggris Keluar Uni Eropa, Peluang Bisnis Makin Tinggi

Bendera Inggris dan Uni Eropa berkibar berdampingan dengan latar Menara Big Ben di London (AP)

Brexit sudah di depan mata. Bulan ini adalah terakhir kalinya Inggris menjadi bagian Uni Eropa.

Sejak referendum Brexit pada 2016, Partai Konservatif Inggris berjuang di parlemen agar dasar hukum Brexit bisa lolos. Tujuan itu baru saja tercapai setelah kemenangan Perdana Menteri Boris Johnson di Pemilu Inggris. 

Lantas bagaimana efek ke Indonesia? Menteri Asia dan Pasifik Inggris Heather Wheeler berkata dampak Brexit amatlah bagus bagi Indonesia, terutama dari segi ekonomi.

"(Brexit) akan memiliki dampak yang tentunya sangat bagus," ujar Heather Wheeler di Jakarta pada Selasa malam, 14 Januari 2020.

Dengan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, Inggris memiliki kesempatan bisnis yang lebih luas karena tak perlu mengikuti regulasi ketat Uni Eropa. Menteri Heather yakin peluang ini bisa menambah investasi kedua negara.

"Dan jika di antara kita bernegosiasi, menghilangkan hambatan perdagangan, maka itu akan memicu pertumbuhan ekonomi negaramu dan ekonomi negara saya dengan investasi dan ekspor dari Inggris dan investasi dari Indonesia," ia menjelaskan.

Ia berkata salah satu potensi ekspor dari Indonesia adalah produk kayu. Ketika Inggris menjadi bagian Uni Eropa, aturan ekspor produk kayu harus mengikuti Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). 

Kebijakan SVLK itu dikeluhkan pengusaha kayu karena biaya verifikasinya mahal. Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) menyebut dampaknya adalah tidak maksimalnya ekspor.

Menteri Wheeler pun kembali menegaskan bahwa usai Brexit, maka Inggris akan memasuki periode untuk memperkuat persahabatan dengan mitra-mitranya di dunia.

"Pada pasca-Brexit kita ingin Inggris mendunia untuk ekspansi dan bergabung dengan semua sahabat-sahabat kami. Kami telah bekerja dengan kalian selama lebih dari 70 tahun, hampir 100 tahun. Jadi ini saat yang menarik," ujarnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: