Duduk Perkara Polisi Tembak Polisi di Lampung

Merdeka.com - Merdeka.com - Polisi tembak polisi kembali terjadi. Kali ini, peristiwa itu melibatkan dua orang personel Polda Lampung berpangkat Aipda (Ajun Inspektur Polisi Dua).

Keduanya yakni, Kepala Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polsek Way Pengubuan Aipda RS dan rekannya Aipda Ahmad Karnain (AK).

Kabid Humas Polda Lampung Kombes Zahwani Pandra Arsyad mengatakan peristiwa itu terjadi pada Minggu (4/9) malam. Pemicunya dendam.

Adalah Aipda RS nekat menembak Aipda Ahmad Karnain lantaran kesal aib atau keburukannya yang selalu diumbar korban.

"Korban bernama Aipda Ahmad Karnain (41) yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Putra Lempuyang Polsek Way Pengubuan Polres Lampung Tengah," kata Pandra dalam keterangannya, Senin (5/9).

"Korban ini mempunyai istri bernama saudari Etty Meyrini dan dua orang anak perempuan yang berumur 14 tahun dan 10 tahun. Diketahui korban tinggal di lK V RT 02, Kelurahan Bandar Jaya Barat, Kecamatan Terbanggi Besar, Kabupaten Lampung tengah," sambungnya.

Pandra menjelaskan, kejadian yang terjadi pada Minggu (4/9) sekitar 21.15 Wib itu, salah satu saksi bernama Mahmuda mendengar adanya suara ledakan di kediaman AK.

"Selanjutnya saksi mendengar suara anak 'tolong-tolong' dari rumah (AK), lalu saksi keluar rumah, melihat ada sepeda motor yang tidak saksi ketahui jenisnya dan berapa orang yang mengendarai ke arah jalan ke dalam atau arah barat," jelasnya.

"Kemudian lanjutnya, saksi Wayan Sueden saat sembahyang mendengar suara letusan dan ada teriakan minta tolong dari kediaman Ibu Etty. Kondisi pada saat akan menolong korban (AK) sudah pada posisi duduk di lantai bersandar di kursi," sambungnya.

Bersama istrinya, korban dibawa ke Rumah Sakit Harapan Bunda dengan menggunakan mobil. Namun, sesampainya di rumah sakit tersebut, nyawa AK sudah tidak dapat tertolong.

Pelaku Ditangkap

Berangkat dari adanya laporan polisi, Tim Gabungan Tekab 308 Polres Lampung Tengah dengan Tim Resmob Polda Lampung menuju ke lokasi kejadian.

"Dari hasil penyelidikan didapatkan identitas terduga pelaku yaitu berinisial RS berpangkat Aipda. RS diketahui menjabat KA SPKT yang juga berdinas di Polsek Way Pengubuan Lampung Tengah," jelasnya.

"Selanjutnya, pada hari Minggu, 4 September 2022 sekira jam 23.45 Wib, berdasarkan hasil lidik anggota dilapangan, dilakukan pendalaman-pendalaman terhadap lingkungan kerja, lingkungan tempat tinggal dan lingkungan keluarga dari korban," sambungnya.

Pandra menyebut, pihaknya mendapatkan informasi antara korban dan terduga pelaku mempunyai hubungan yang tidak baik di lingkungan kerjanya.

"Ketika dilaksanakan upaya paksa dan pelaku (RS) dihadapkan dengan fakta-fakta yang ada, pelaku tidak bisa mengelak dan mengakui perbuatannya dan tersangka di di bawa ke Mapolres Lampung Tengah untuk proses selanjutnya," sebutnya.

Dari hasil penangkapan tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti yaitu 1 pucuk senjata api jenis revolver, 1 unit sepeda motor dinas Bhabinkamtibmas merk Kawasaki KLX, baju yang di gunakan pelaku saat melakukan penembakan terhadap korban, 1 buah helm warna hitam
dan 1 buah jaket warna hitam.

"Motif sementara yang kami dapatkan dari keterangan tersangka, hingga tega melakukan penembakan terhadap korban, diduga karena pelaku dendam terhadap korban. Karena korban selalu membuka aib/keburukan tersangka kepada kawan-kawannya, dan terdapat kabar di grup WhatsApp bahwa istri dari pelaku belum membayar uang arisan online. Motif pastinya nanti kita tunggu hasil pendalaman dari penyidik," ungkapnya.

Atas perbuatan pelaku yang tega menghabisi rekannya sendiri, dia diancam dengan Pasal 338, sebagaimana dimaksud dalam KUHPidana dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

"Selain itu, di internal kepolisian pelaku akan di kenakan sanksi etik, pasal 13 ayat 1 pp no 01 tahun 2003 jo pasal 5 ayat 1 huruf b perpol no.07 tahun 2022, pasal 13 ayat 1 pp nomor 01 tahun 2003 jo pasal 8 huruf c perpol nomor 07 tahun 2022 serta pasal 13 ayat 1 perpol nomor 01 tahun 2003 jo pasal 13 huruf m perpol nomor 07 tahun 2022, dengan Sanksi Pemberhentian dengan tidak hormat (PTDH)," katanya. [rhm]