Duduki Afghanistan, Artinya Taliban juga Kuasai Kekayaan Mineral Senilai Rp 14.455 Triliun

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Afghanistan disebut menjadi salah satu negara termiskin di dunia. Namun, pejabat militer dan ahli geologi AS pada 2021 lalu mengungkapkan jika negara yang terletak di persimpangan Asia Tengah dan Selatan telah memiliki deposit mineral senilai USD 1 triliun atau setara Rp 14.455 triliun.

Kekayaan tersebut terdiri dari besi, tembaga, emas, kobalt, dan logam tanah jarang yang tersebar di seluruh provinsi. Bahkan cadangan lithium yang dimiliki tercatat paling besar di dunia.

Namun melansir CNN dan Independent, Jumat (20/8/2021), konflik seiring Taliban yang menguasai Afghanistan telah mendorong bangsa dengan kekayaan mineral besar ini masuk ke dalam krisis kepemilikan sumber daya yang diperkirakan bernilai miliaran dolar.

Hal ini tentunya akan membawa isu baru yang masih belum terselesaikan karena dapat mengubah prospek perekonomian negara ini.

Selama bertahun-tahun, potensi mineral itu tidak dimanfaatkan dengan baik karena terjadi konflik secara dua dekade belakangan ini.

Sekarang, Taliban menduduki wilayah tersebut dan para ahli mengkhawatirkan tentang masa depan dari cadangan mineral tersebut.

Padahal, komponen dari mineral tersebut memiliki peran penting karena dapat mengatasi krisis iklim, misalnya seperti mengisi baterai isi ulang.

Menurut ilmuwan dan pakar keamanan Ecological Futures Group Rod Schoonover, Afghanistan tentu saja merupakan salah satu daerah yang kaya akan loga mulia dan logam untuk ekonomi yang akan muncul di abad ke-21.

Tantangan keamanan, kekurangan infrastruktur dan kekeringan tingkat tinggi telah mencegah ekstraksi mineral paling berharga di masa lalu. Mengingat pengalihan wilayah ini tidak mungkin dapat segera diubah di bawah kendali Taliban.

Oleh karena itu, adanya peluang tersebut membuat negara-negara seperi China, Pakistan, dan India mungkin mencoba terlibat meskipun keadaan masih kacau. China telah mengatakan siap untuk menjalin hubungan persahabatan dengan Taliban setelah perebutan kekuasaan.

“China akan menjadi satu-satunya pembeli potensial,” ujar kepala eksekutif Tribeca Investment Partners Ben Cleary.

Kaya Akan Sumber Daya Alam

Mineral langka di Bumi ada di Afghanistan? Dari tengah atas, searah jarum jam: praseodymium, cerium, lanthanum, neodymium, samarium, dan gadolinium (U.S. Department of Agriculture / Peggy Greb)
Mineral langka di Bumi ada di Afghanistan? Dari tengah atas, searah jarum jam: praseodymium, cerium, lanthanum, neodymium, samarium, dan gadolinium (U.S. Department of Agriculture / Peggy Greb)

Sebelum presiden Joe Biden mengumumkan akan menarik pasukan AS dari Afghanistan awal tahun ini untuk menyiapkan panggung kembalinya kenali Taliban atas prospek ekonomi negara yang suram.

Pada 2020, menurut laporan dari US Congressional Research Service bulan Juni lalu, diprediksi 90 persen warga Afghanistan hidup di bawah tingkat kemiskinan.

Dalam profil terbarunya, Bank Dunia menggambarkan kerapuhan ekonomi negara ini dan ketergantungan bantuan dari negara lain.

“Pengembangan dan diversifikasi sektor swasta dibatasi oleh ketidakamanan, ketidakstabilan politik, dan institusi yang lemah,”

Tak hanya itu, dengan infrastruktur yang tidak memadai serta pertumbuhan praktik korupsi yang begitu subur di Afghanistan akan membuat lingkungan bisnis yang sulit untuk mendapatkan keuntungan.

Berbagai negara yang berada di bawah pemerintahan yang lemah dikenal sebagai negara yang memiliki kutukan sumber daya.

Upaya yang sudah diusahakan untuk mengeksploitasi sumber daya alam menjadi gagal memberikan mafaat bagi masyarakat lokal dan ekonomi domestik.

Meskipun demikian, pengungkapan tentang kekayaan mineral di Afghanistan sendiri telah dibangun di atas survei yang sebelumnya sudah dilakukan Uni Soviet dengan menawarkan janji manis.

Badan Energi Internasional mengatakan pada bulan Mei lalu bahwa pasokan dan permintaan global lithium, tembaga, niken, kobalt, dan logam tanah jarang perlu ditingkatkan supaya dunia tidak gagal untuk mengatasi krisis iklim.

Terdapat tiga negara⎼China, Republik Demokratik Kongo, dan Australia⎼ saat ini sudah menyumbang 75 persen dari produksi global yang menghasilkan lithium, kobalt, dan logam tanah jarang.

Segala sumber daya yang dihasilkan dapat digunakan oleh banyak bahan bakar dan inovasi teknologi baru, seperti mobil listrik, jaringan listrik, baterai, dan magnet yang dibutuhkan untuk membuat turbin angin bekerja.

Menanggapi hal tersebut, pemerintah AS telah memperkirakan deposit lithium di Afghanistan dapat bersaing dengan yang ada di Bolivia, tempat bagi cadangan lithium terbesar yang tercatat di dunia.

“Jika Afghanistan dalam beberapa tahun bisa lebih tenang, pengembangan sumber daya mineralnya bisa menjadikan wilayah tersebut menjadi yang terkaya dalam satu dekade ke depan,” ujar pimpinan Survei Geologi Afghanistan Mirzad.

Lika Liku Birokrasi

“Sayangnya, apa yang selama ini terjadi di wilayah Timur tersebut tidak pernah membuat orang merasa aman dan sebagian besar kekayaan tersebut masih ada di dalam tanah,” jelas mantan direktur Timur Tengah dan Asia Tengah dana Moneter Internasional Mosin Khan.

Seluruh sumber daya yang terdapat di bawah tanah Afghanistan membutuhkan investasi dan pengetahuan teknis yang jauh lebih besar dari yang pernah ada. Tak hanya itu, bersabar menunggu waktu yang tepat juga perlu.

International Energy Agency (IEA) memprediksi waktu yang dibutuhkan rata-rata sekitar 16 tahun dari penemuan deposit untuk sebuah tambah jika ingin memulai produksi. “Saat ini meral hanya menghasilkan USD 1 miliar di Afghanistan per tahunnya,” jawab Khan.

Adapun sekitar 30-40 persen telah disedot oleh korupsi dan panglima perang serta Taliban yang sudah memimpin proyek pertambangan kecil lebih dulu. Namun, ada kemungkinan bahwa Taliban menggunakan kekuatan barunya untuk mengembangkan sektor pertambangan.

Jika diibaratkan satu lintasan, terdapat beberapa konsolidasi, dan beberapa penambangan yang dilakukan tidak lagi memerlukan regulasi. “Mengingat Taliban perlu mencurahkan segala perhatiannya untuk menyelesaikan masalah keamanan dan kemanusiaan, sepertinya ada peluang untuk ditolak,” tambah Schoonover.

Tantangan yang mungkin menjadi pertimbangan adalah investasi asing akan sulit didapat sebelum akhirnya Taliban menggulingkan pemerintah sipil Afghanistan yang didukung oleh Barat.

Menarik modal swasta akan menjadi lebih sulit dibanding sekarang terutama karena banyak bisnis dan investor global yang berpegang pada standar lingkungan, sosial, dan tata kelola yang semakin tinggi. Tentunya, investor tidak akan mengambil resiko ini.

Titik Terang Bagi China

Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)
Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

"China telah memulai program pengembangan energi hijau yang sangat signifikan. Lithium dan tanah jarang sejauh ini tak tergantikan karena kepadatan dan sifat fisiknya. Mineral tersebut menjadi faktor dalam rencana jangka panjang mereka." ujar Schoonover

Jika China turun tangan, Schoonover mengatakan akan ada kekhawatiran tentang keberlanjutan proyek pertambangan mengingat rekam jejak China. Alasannya karena penambangan tidak dilakukan dengan hati-hati dan nantinya akan berdampak pada kerusakan ekologis

Beijing saat ini mungkin skeptis untuk bermitra dalam usaha dengan Taliban mengingat ketidakstabilan yang sedang berlangsung, dan mungkin fokus pada wilayah lain. Khan menunjukkan bahwa China sempat ragu sebelumnya, setelah sebelumnya mencoba berinvestasi dalam proyek tembaga yang kemudian terhenti.

"Saya percaya mereka akan memprioritaskan geografi baru/perbatasan lainnya jauh sebelum Afghanistan yang dipimpin Taliban," kata mitra RK Equity Howard Klein, yang memberi nasihat kepada investor tentang lithium.

Reporter: Caroline Saskia

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel