Dugaan Penyimpangan Insentif Pemakaman Covid-19, Ini Kata Wali Kota Malang

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Malang Pemerintah Kota (Pemkot) Malang membantah tudingan laporan Malang Corruption Watch (MCW) yang menyebut ada penyelewengan dana insentif bagi tim pemakaman COVID-19.

Wali Kota Malang Sutiaji memastikan, dana insentif pemakaman jenazah COVID-19 sudah disalurkan kepada tim yang berhak menerima insentif tersebut.

"Tidak ada penggelapan dan sebagainya," kata Sutiaji di Malang, Kamis, 2 September 2021.

Sutiaji menjelaskan dana insentif petugas pemakaman jenazah yang terkonfirmasi positif COVID-19 tersebut sebesar Rp1,5 juta untuk per makam. Jumlah tersebut dibagi Rp750 ribu untuk penggali kubur, dan sisanya untuk petugas pemakaman, dilansir dari Antara.

Ia menjelaskan dana insentif untuk memakamkan pasien konfirmasi positif COVID-19 itu, telah sesuai dengan aturan yang telah dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Malang. Ia memastikan, dana yang belum diterima secara penuh, bukan diakibatkan keterlambatan pencairan.

"Bukan terlambat, jadi, uang itu bukan ada di brankas. Karena, jumlah pasien yang meninggal, itu tidak dianggarkan berapa jumlahnya, karena tidak bisa diprediksi," ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pemakaman Kota Malang, Taqruni Akbar menegaskan, tidak ada penyelewengan dana insentif tim pemakaman seperti yang dilaporkan MCW. Saat ini proses usulan insentif mulai Mei hingga Agustus 2021 memang masih berlangsung.

"Jadi untuk mekanisme usulan itu harus selesai SPJ yang sudah terealisasi, baru bisa mengajukan lagi," jelasnya.

Sebagai informasi, dana insentif tim pemakaman pasien konfirmasi positif COVID-19 di Kota Malang yang sebesar Rp1,5 juta tersebut, bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) 2021.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Rp 750 Per Jenazah

Pekerja menguburkan jenazah korban virus corona COVID-19 di TPU Pedurenan, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (7/7/2021). Indonesia memperluas pembatasan untuk memerangi gelombang virus corona COVID-19 yang mematikan. (REZAS/AFP)
Pekerja menguburkan jenazah korban virus corona COVID-19 di TPU Pedurenan, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (7/7/2021). Indonesia memperluas pembatasan untuk memerangi gelombang virus corona COVID-19 yang mematikan. (REZAS/AFP)

Insentif tersebut, diberikan kepada tim pemakaman, dan tim penggali kubur, dengan besaran masing-masing Rp 750 ribu untuk tiap jenazah. Proses pencairan insentif tersebut, dilakukan setelah pendataan oleh kelurahan setempat.

"Anggaran tersebut dikoordinir oleh kelurahan. Jadi dana tersebut begitu cair, kita serahkan ke Kelurahan," ujarnya.

Sebelumnya, Malang Corruption Watch (MCW) dalam laporannya menyebutkan adanya dugaan pungutan liar (pungli) dana insentif petugas pemakaman COVID-19. Lembaga ini menemukan beberapa penggali kubur tidak memperoleh hak kesejahteraannya secara penuh.

Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa di Pemakaman Plaosan Barat dan LA Sucipto Blimbing, Kota Malang, salah seorang penggali kubur melaporkan baru mendapatkan tiga kali pembayaran meskipun total penggalian kubur mencapai 11 kali.

Peristiwa serupa juga terjadi di Pemakaman LA Sucipto Blimbing, Kota Malang. Petugas mengaku sudah melakukan penggalian lebih dari 30 makam. Namun saat ini, yang bersangkutan hanya menerima insentif Rp 3 juta.

Selain itu, juga ditemukan dugaan pungli dengan dalih syarat administrasi, dimana dari total nilai insentif sebesar Rp 750 ribu, dilaporkan dipotong Rp 100 ribu. Sehingga, petugas hanya mendapatkan insentif sebesar Rp 650 ribu.

MCW menilai, mekanisme penyaluran dana insentif bagi penggali kubur juga tumpang tindih, karena semua diberikan langsung oleh Satgas COVID-19, dan kemudian diambil alih oleh lurah, sehingga menyebabkan adanya potensi penyelewengan.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel