Dugaan Permainan Tender Kilang Minyak Pertamina, Seperti Apa?

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Pekanbaru - PT Kilang Pertamina Internasional sudah menyelesaikan tender perencanaan pembangunan kilang minyak baru di Tuban, Jawa Timur. Kehadirannya merupakan keinginan Presiden Joko Widodo untuk mengurangi ketergantungan impor minyak dan gas Indonesia dari luar negeri.

Pemenang tender kilang minyak ini adalah konsorsium JO Hyundai Co Ltd, diumumkan pada Mei 2021. Di dalamnya terdapat PT Rekayasa Industri (Rekind) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Belakangan, lelang proyek bernilai Rp50 triliun ini diduga berjalan tak sehat. Center of Energy and Resources (CERI) menemukan adanya pengondisian agar konsorsium JO Hyundai Co Ltd dimenangkan.

CERI yang berkantor di Kota Pekanbaru, Riau, menemukan indikasi adanya pejabat penting di BUMN mengintervensi panitia lelang memenangkan konsorsium tersebut.

"Wamen 1 BUMN mengintervensi, salah satunya upaya menciutkan porsi PT Rekind dari 17 persen menjadi 2 persen dalam konsorsium itu agar lolos," kata Sekretaris Eksekutif CERI Hengki Seprihadi di Pekanbaru, Senin siang, 19 Juli 2021.

Hengki menjelaskan, upaya penciutan ini bertujuan menghindari risiko gagal dalam tender. Pasalnya PT Rekind diduga punya masalah dalam kondisi keuangan sehingga berisiko kalau nilainya di konsorsium tidak diciutkan.

Di sisi lain, CERI juga menemukan bukti PT Rekind dalam dokumen Kilang Olefin TPPI itu melampirkan laporan keuangan tahun 2018. Hal dianggap telah melanggar SOP di Pertamina karena seharusnya PT Rekind melampirkan laporan keuangan tahun 2019 yang sudah diaudit, dan lazimnya dirilis awal tahun 2020.

"Ada kelalaian tim tender tidak memverifikasi laporan keuangan karena lelang itu harus menggunakan neraca keuangan satu tahun terakhir," kata Hengki.

Pernyataan Ahok

Kilang minyak PT Pertamina. (Liputan6.com)
Kilang minyak PT Pertamina. (Liputan6.com)

Berdasarkan data diperoleh CERI, dokumen lelang seharusnya dimasukkan para peserta tender pada 28 April 2020. Namun, diundur oleh tim lelang pada 3 Agustus 2020 karena permintaan konsorsium tadi.

Seiring berjalannya waktu, salah satu tim tender diangkat menjadi Direktur Utama PT Rekind. CERI menduga ini sebagai upaya sistematis memenangkan konsorsium tersebut.

Penelusuran CERI, konsorsium JO Hyundai Co Ltd tidak punya pengalaman dalam perencanaan pembuatan kilang. Meskipun dalam dokumen tender, konsorsium ini menyatakan sebagai leader kilang di Turkmenistan.

"Kami telusuri, ternyata leader kilang di Turkmenistan itu adalah Toyo Engineering," tegas Hengki.

Terkait temuan adanya indikasi intervensi tersebut, CERI telah mengirim surat elektronik berisi konfirmasi dan klarifikasi kepada Wamen 1 BUMN. CERI mengirim surat itu pada 17 Juli 2021 pagi dan sampai 19 Juli belum ada jawaban.

"Surat mohon informasi dan konfirmasi CERI itu berisi pertanyaan apakah benar ada intervensi tersebut berdasarkan bukti yang kami miliki," kata Hengki.

Surat itu selain dikirim kepada Wamen 1 BUMN, juga dikirim tembusan kepada Menteri BUMN, Dewan Komisaris Pertamina Holding, Dewan Direksi Pertamina Holding, dan Dewan Direksi PT Pertamina Kilang International (KPI) serta Ketua Tim Tender Proyek DBC Olefin TPPI bentukan KPI.

Sebelum mengeluarkan pernyataan ini, CERI juga mencoba mengonfirmasi kepada Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal Ahok. CERI hanya mendapat jawaban singkat.

"Surat itu kan ditujukan ke Wamen 1 BUMN, saya tidak dalam kapasitas menjawabnya, tetapi sikap saya sudah disampaikan pada rapat-rapat antara BOC dengan BOD, mereka tahu kok," terang Hengki menirukan jawaban Ahok.

Bantahan Wamen BUMN

Hengki menyebut CERI punya banyak bukti, misalnya dokumen, terkait tender kilang ini. Tak menutup kemungkinan pihaknya melakukan upaya hukum karena menilai kilang ini sangat penting bagi Indonesia kedepannya.

"Karena kilang TPPI Olefin Tuban memang merupakan salah satu proyek strategis nasional yang digagas Presiden Jokowi," kata Hengki.

Hengki juga meminta penegak hukum memberikan atensi khusus dari indikasi fakta-fakta yang ada. Pasalnya kilang ini dibangun niat baik Presiden Jokowi tapi ada permainan dari oknum-oknum.

Selain itu, Hengki juga menyarankan Tim Komite Audit bentukan Dewan Komisaris Pertamina mengevaluasi ulang informasi-informasi yang terus berkembang.

"Bila perlu mengundang penegak hukum untuk melakukan audit forensik terhadap pihak terkait," kata Hengki.

Terpisah, Wakil Menteri BUMN Pahala Nugraha Mansury membantah temuan CERI terkait tender di PT Kilang Pertamina Internasional tersebut.

Melalui pesan di Whatsapp, Pahala menyatakan tender berjalan sesuai aturan. Dia membantah adanya intervensi kepada tim tender untuk memenangkan salah satu konsorsium.

"Tidak benar ada saya mengintervensi apalagi mengakali," tegas Pahala.

Pahala menyatakan dirinya justru meminta tim tender untuk melakukan evaluasi bagaimana hasil penilaian terhadap para konsorsium tersebut (JO Hyundai Co Ltd).

"Justru saya meminta tim untuk melakukan evaluasi bagaimana hasil penilaian atas para konsorsium tersebut dan dipastikan," tegas Pahala dalam pesan tertulisnya.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel