Duka Orang Tua Korban Pengeroyokan di Tangsel, Berharap Anak Hadir dalam Mimpi

Merdeka.com - Merdeka.com - MIH, remaja yang tewas dianiaya dan dikeroyok sejumlah ABG di Jalan Pamulang II, Tangerang Selatan, Minggu (24/7) kemarin dikenal sebagai anak baik. Kepergiananak kedua dari pasangan Muhamad Ikbal Ola Andriani ini memberi duka mendalam kepada orang tua, keluarga dan teman-teman korban.

Duka mereka salah satunya terlihat saat pemakaman MIH. Isak tangis mereka mengiringi prosesi itu.

Muhamad Ikbal (50), ayah MIH, menceritakan betapa dia kehilangan MIH. Apalagi dia tidak bertemu sempat dengan putra bungsunya itu pada Sabtu (23/7).

"Sabtu pagi tanggal 23 itu saya benar-benar tidak bertemu Ifan (MIH), saya pergi ngojek dia sudah keluar, saya pulang istirahat dia juga masih di luar. Tengah malam saya pulang, dia keluar. Biasa kalau malam Minggu, saya izinkan dia pulang malam sampai jam 12.00 kadang sebelum subuh. Main di sekitaran, sama anak-anak kompleks,' ucap Ikbal ditemui di Perumahan Pondok Benda Barat, Tangerang Selatan, Selasa (26/7).

Sempat Pulang ke Rumah

Ikbal mengaku, saat berada di rumah sepulang mengojek, dia sempat mendapat laporan ibunya, kalau MIH sempat pulang ke rumah sekitar pukul 24.00 WIB, namun pergi kembali dengan alasan handphone miliknya tertinggal di rumah temannya.

"Saya sempat miss call, nadanya aktif. Ya sudah saya cuma cek saja, saya takutnya HP itu dicuri atau hilang," jelas Ikbal.

Namun, saat baru mulai terlelap dari istirahatnya, rumah kontrakan yang ditinggali Ikbal, Ola Andriani dengan MIH, itu diketuk petugas Polsek Pamulang. Anggota Polsek tersebut mengabarkan anaknya MIH di RSUD Tangsel.

"Saya baru tersadar Ifan meninggal dunia, saat diantar ke ruang pemulsaraan jenazah RSU Tangsel, sekitar pukul 04.00 WIB. Hari itu benar-benar saya enggak melihat dia. Dari saya berangkat ngojek sampai saya pulang tengah malam," jelas dia.

Ikbal yang menerima ikhlas takdir kematian MIH, dengan cara mengenaskan itu berharap, anaknya dapat hadir ke dalam mimpinya. Dia juga mendoakan tidak ada lagi aksi kekerasan dan tawuran oleh anak-anak.

"Saya sampai ngucap, Ifan datang kek ke mimpi bapak, bapak mau bertemu. Tapi saya yakin anak saya anak baik, meninggalnya bagus, yang datang ngelayat, sampai ke pemakaman itu penuh. Kejadian ini jadi harapan buat saya agar kekerasan dan aksi - aksi tawuran itu engga akan ada lagi, sudah ini yang terkahir jadi pelajaran buat semua," ungkap dia.

Tertinggal dari Teman

Sementara polisi masih mendalami kasus pengeroyokan dan penganiayaan yang menyebabkan MIH (18) tewas di Jalan Pamulang II, Tangerang Selatan, Minggu (24/7) dini hari lalu. Berdasarkan penyelidikan polisi, korban ternyata tertinggal dari teman-temannya sehingga menjadi bulan-bulanan para pelaku.

Kapolres Tangerang Selatan AKBP Sarly Sollu menegaskan, tiga pelaku berinisial ROR, MSA dan D, telah diamankan. Ketiganya diduga berperan melakukan penganiayaan dan pengeroyokan hingga MIH meninggal dunia.

"Diawali korban dan beberapa temannya dengan mengendarai motor melewati kelompoknya pelaku. Karena merasa tertantang, pelaku dan beberapa temannya mengejar korban dan teman-temannya," jelas Sarly, Selasa (26/7/2022).

Saat aksi kejar-kejaran dengan sepeda motor itu terjadi, MH terjatuh dan tertinggal dari kelompok teman-teman kompleks perumahannya. Dia menjadi bulan-bulanan aksi kekerasan yang dilakukan anak-anak di bawah umur tersebut.

"Korban terjatuh dari motor, sehingga pelaku dan teman-temannya melakukan pengeroyokan," jelasnya.

Akibatnya, MIH yang menerima hantaman benda tumpul dan senjata tajam tidak lagi berdaya melawan pengeroyokan itu. Dia meninggal dunia dengan penuh luka. [yan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel