Dukung aksi iklim, Luhut: RI siap kembangkan ekosistem karbon biru

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menegaskan kesiapan Indonesia untuk mengembangkan ekosistem karbon biru sebagai dukungan menghadapi perubahan iklim.

"Indonesia sangat siap untuk mengembangkan ekosistem karbon biru melalui investasi komprehensif dalam konservasi ekosistem pesisir dan keanekaragaman hayati dengan kemitraan yang efektif dari semua pemangku kepentingan dan mekanisme keuangan campuran," katanya dalam Talkshow on the G20 Summit bertajuk Partnership in Climate Actions di Nusa Dua, Bali, Senin.

Dalam keterangan di Bali, Senin, Luhut mengatakan Indonesia mendorong penerapan ekonomi sirkular, dan mengurangi penggunaan sumber daya tak terbarukan, mengurangi emisi karbon, dan mendorong pertumbuhan ekonomi baru.

Meningkatnya minat terhadap karbon biru juga merupakan solusi untuk perubahan iklim serta meningkatkan ekosistem laut dan keanekaragaman hayati laut dalam konservasi laut.

Lebih lanjut, Luhut menjabarkan pengelolaan hutan memiliki keterkaitan erat dengan mata pencaharian, ketahanan pangan, lingkungan yang berkelanjutan, dan perubahan iklim.

Sebagai negara yang memiliki hutan tropis dan lahan basah yang khas, termasuk lahan gambut dan bakau, Indonesia, Brasil, dan Republik Demokratik Kongo memiliki kepentingan bersama untuk berkolaborasi meningkatkan nilai dari hutan tropis mereka, dan untuk memastikan bahwa hutan tropis ini terus memberi manfaat bagi iklim dan manusia.

"Perwakilan dari Indonesia, Brasil, dan RDK telah mengumumkan kerja sama hutan tropis dan aksi iklim dalam side event COP27 Mesir pada 7 November 2022, dan sepakat untuk menandatangani Pernyataan Bersama hari ini," tambahnya.

Selain itu, dalam rangka mempercepat transisi energi, Indonesia telah mengesahkan Peraturan Presiden tentang Pengembangan Energi Terbarukan untuk Penyediaan Tenaga Listrik, yang menciptakan kerangka kerja yang luas untuk transisi energi bersih dan menyerukan penyusunan peta jalan yang terperinci dan pedoman pelaksanaan untuk mempercepat peralihan dari batubara ke energi bersih.

"Indonesia saat ini sedang menyelesaikan negosiasi kerja sama dengan International Partners Group yang dipimpin oleh AS-Jepang untuk program Just Energy Transition Partnership. Selain itu, Indonesia siap untuk menerapkan program JETP menuju phase down termasuk penghentian dini pembangkit listrik tenaga batu bara dengan pengurangan gas rumah kaca yang signifikan untuk target NDC kami yang lebih," katanya.

Wakil Perdana Menteri dan Menteri Lingkungan Hidup dan Pembangunan Berkelanjutan Republik Demokratik Kongo Eve Bazaida Mazudi mengatakan Indonesia, Brasil dan RDK memiliki kesamaan potensi sumber daya alam, sehingga memiliki tantangan yang sama, kesempatan yang sama untuk menjadi solusi dari perubahan iklim.

"Dunia saat ini menjadi semakin hangat dan lebih hangat, sehingga umat manusia membutuhkan hutan hujan untuk mengikat CO2," jelasnya.

Selain itu dalam hal transisi energi, Wakil Perdana Menteri Eve mengatakan bahwa RDK juga memiliki sumber daya mineral yang banyak, yang mana membutuhkan kerja sama dalam melakukan pengolahannya agar dapat semakin kuat dalam pemanfaatannya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan saat ini Indonesia sedang mengurangi penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara, dan mulai beralih dengan menggunakan tenaga gas alam, energi matahari, panas bumi dan air.

Selain itu Indonesia memiliki sumber daya mineral yang dapat diolah untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi dan dapat membuka peluang kerja baru.

"Saya mengapresiasi penandatanganan kerja sama di bidang kehutanan antara Indonesia, Brasil dan RDK, dan kami berharap kedepannya juga dapat terjalin kerja sama dalam pengolahan mineral," katanya.

Baca juga: Luhut tegaskan kesiapan RI kembangkan ekosistem karbon biru di COP27

Baca juga: Pengelolaan karbon biru diujicobakan di dua pulau Kepulauan Riau