Dukung Industri di Era New Normal, Surveyor Indonesia Tawarkan Jasa Sertifikasi

Liputan6.com, Jakarta - BUMN bidang survei, inspeksi, dan konsultasi PT Surveyor Indonesia bekerja sama dengan PT Bureau Veritas Indonesia meluncurkan jasa audit dan sertifikasi bagi industri dalam memulai bisnisnya di era New Normal.

Seperti yang diketahui, pandemi Corona menghantam hampir seluruh sektor bisnis dan menimbulkan rasa cemas bagi pelaku usaha dalam melakukan aktivitas ekonomi.

Direktur Utama Surveyor Indonesia Dian M Noer menyatakan, produk bertajuk Restart your Business with SIBV ini memungkinkan pelaku industri untuk segera memulai kembali bisnis mereka secepat mungkin dalam kondisi new normal dengan kondisi kesehatan, kebersihan, dan keamanan yang layak.

"Surveyor Indonesia berbangga atas sinergi solid dengan Bureau Veritas Indonesia yang merupakan salah satu penyedia jasa testing, inspection, & certification terkemuka di dunia sehingga memungkinkan hadirnya produk ini di Indonesia," ujar Dian dalam konferensi pers virtual, Selasa (9/6/2020).

Lebih lanjut, standar yang diterapkan Surveyor Indonesai diterapkan berdasarkan peraturan dalam negeri dan luar negeri (WHO). Setelah dilakukan aduit, maka pihaknya akan memberi label.

Dian melanjutkan, ketika sudah terstandardisasi, maka publik akan merasa aman dalam berkunjung ke tempat tersebut sehingga pelaku usaha juga tidak perlu cemas jika perusahaannya bisa memenuhi kaidah protokol kesehatan atau tidak.

Melalui produk ini, Surveyor Indonesia berharap bahwa ke depannya pelaku industri dapat merespon tantangan untuk tumbuh dalam situasi pandemi saat ini. Surveyor Indonesia juga berharap bahwa produk ini dapat turut serta mendorong kondisi new normal untuk dapat berjalan baik demi memulihkan ekonomi Indonesia.

Investasi Industri Manufaktur Naik 44 Persen di Kuartal I 2020

Suasana di Pabrik LG di Cibitung-Bekasi.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mencatat bahwa investasi sektor industri manufaktur di Kuartal I 2020 mencapai Rp 63,9 triliun. Angka tersebut naik naik 44,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang ada di angka Rp 44,2 triliun.

Agus menjelaskan, lima besar nilai investasi tersebut meliputi industri logam, mesin dan elektronik, industri kedokteran, presisi dan optik serta jam sebanyak Rp 26,5 triliun. Selanjutnya industri makanan Rp 11,6 triliun, industri kimia dan farmasi Rp 9,8 triliun, industri mineral non logam Rp 4,3 triliun, dan industri karet dan plastik Rp 3 triliun. Total menjadi Rp 63,9 triliun.

Kendati begitu, dia menyebut kondisi terkini sektor industri pengolahan melambat 2,01 persen dari sebelumnya 4,80 persen pada triwulan I 2019. Kinerja industri pengolahan yang masih positif terutama terdorong oleh peningkatan demand yang sangat tinggi untuk industri alat kesehatan dan farmasi, serta pertumbuhan positif pada beberapa sektor industri kimia, alat angkut, kertas, industri logam, makanan dan minuman, pengolahan tembakau, dan industri pengolahan kayu.

"Covid-19 selain berdampak pada sektor kesehatan juga berdampak pada perlambatan industri, sebagai informasi sampai dengan kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan menjadi 2,97 persen, dari sebelumnya 5,07 persen pada triwulan I 2019," kata Menteri Agus dalam Webinar Bersama Lawan covid-19, Selasa (9/6/2020).

"Ekspor industri pengolahan juga mengalami penurunan -0,66 persen menjadi USD 32,99 miliar, namun di sisi lain surplusnya juga masih positif meskipun ada penurunan sebesar USD 1,7 miliar. Ini juga sangat menggerakkan ada secercah ketika kita melihat bahwa investasi industri pada kenyataannya kenaikannya ada," ujarnya. 

Utilisasi Nasional

Pekerja menyelesaikan pembuatan mobil Kijang Innova pabrik Karawang 1 PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia, Jawa Barat, Selasa (26/1). Pabrik ini memproduksi Kijang Innova serta Fortuner mencapai 130.000 unit pertahun. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Namun demikian, Agus mengatakan utilisasi nasional rata-rata di semua sektor sebesar 40 persen. Ini merupakan angka yang sangat rendah. Sementara rata-rata utilisasi nasional sebelum covid-19 ada pada angka 75 persen.

"Ketika itu confident dari pihak market dan industri sangat tinggi, bisa kita lihat dari Purchasing Managers Index (PMI) pada bulan Februari ada pada titik 51, 9 poin, ini tertinggi dalam sejarah Indonesia, tapi setelah covid-19 menjadi problem yang begitu besar di Indonesia, dengan sendirinya tentu akan membawa tekanan-tekanan terhadap industri itu sendiri," pungkasnya. 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: