Dukung Komunitas Seni dan Budaya Papua agar Terus Berkarya

Syahdan Nurdin, Meliani
·Bacaan 2 menit

VIVA – Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki banyak sekali ragam seni dan budaya. Kekayaan tersebut menjadi sebuah daya tarik tersendiri dalam dunia pariwisata.

Hal tersebut menjadi sebuah keuntungan bagi negara Indonesia untuk meningkatkan devisa negara melalui pengenalan budaya-budaya lokal. Namun, dengan cepatnya masa globalisasi, banyak generasi muda yang lebih mengenal budaya luar daripada budaya bangsa sendiri.

Terkikisnya pemahaman seni dan budaya negara menjadikan banyak pihak tertarik untuk mengembangkan kembali potensi daerah, salah satunya adalah Yeheskiel Indamarei, Alumni BGF 2014. Saat itu, Yeheskiel turut menyusun petunjuk teknis program fasilitasi bantuan pemerintah terhadap Komunitas Budaya di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat.

Pemberian fasilitasi bantuan pemerintah kepada komunitas budaya dan satuan pendidikan dimaksudkan untuk revitalisasi, pemberdayaan, dan peningkatan kualitas keberadaan komunitas budaya dalam rangka pelestarian kebudayaan.

Kemudian, sasaran dari penerima fasilitas bantuan tersebut juga dikategorikan menjadi beberapa kelompok yaitu Komunitas Budaya, Komunitas Tradisi, Komunitas Kepercayaan, dan Satuan Pendidikan. Menurut Yeheskiel, komunitas budaya dan sanggar seni budaya dibantu oleh pemerintah melalui fasilitasi karena sanggar-sanggar adalah lembaga strategis dalam pembentukan karakter.

Pendampingan Sanggar Seni

Pelaksanaan program Bantuan Sosial (Fasilitasi Bantuan Pemerintah) oleh Direktrorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah berlangsung sejak tahun 2012 hingga tahun 2020.

Secara khusus di Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat, melalui koordinasi antara Direktorat Pembinaan Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Balai Pelestarian Nilai Budaya Jayapura-Papua telah terjaring sebanyak 107 komunitas budaya.

“Mereka berkesempatan menerima bantuan sosial dengan kisaran dana untuk setiap komunitas budaya antara Rp100.000.000 sampai dengan Rp150.000.000,” ujar Yeheskiel.

Verifikasi Lapangan Terkait Bantuan Pemerintah (Dok. Yeheskiel)
Verifikasi Lapangan Terkait Bantuan Pemerintah (Dok. Yeheskiel)

Verifikasi Lapangan Terkait Bantuan Pemerintah (Dok. Yeheskiel)

Pembangunan fasilitas tersebut juga tidak berjalan dengan lancar. Hingga delapan tahun berdiri, masih terdapat beberapa kendala yang dihadapi, di antaranya kondisi geografis wilayah yang luas dan topografi yang sulit.

Hal ini mengakibatkan keterbatasan dalam aspek transportasi dan komunikasi sehingga menyebabkan kesulitan dalam tahapan-tahapan pelaksanaan program seperti sosialisasi, pendampingan, monitoring, dan evaluasi.

Tidak hanya itu, keterlambatan dan singkatnya waktu pelaksanaan program sehingga sedikit berpengaruh terhadap kualitas hasil yang dicapai (secara khusus perencanaan yang hasil akhirnya berwujud fisik), juga tingkat kemahalan harga di wilayah Indonesia Timur juga menjadi kendala yang dihadapi oleh Yeheskiel.