Dukungan Pemerintah dan Orangtua Terkait Sekolah Tatap Muka

Dian Lestari Ningsih, bonitaspratama16-459
·Bacaan 2 menit

<p>VIVA – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim melalui media online Youtube pada Jumat (20/11) menyatakan bahwa pembelajaran tatap muka dapat diselenggarakan kembali dimulai semester genap tahun ajaran 2020/2021, dengan syarat mendapatkan izin dari pemerintah daerah, satuan Pendidikan, dan orang tua siswa.

Adapun mekanisme yang diharapkan dapat berjalan selama pembelajaran tatap muka nanti adalah adanya pengurangan kapasitas siswa setiap kelas, setidaknyya 50?ri jumlah normal, dengan tujuan menghindari kerumunan.

Penyelenggaraan KBM secara tatap muka tentu perlu dilakukan monitoring secara berkala oleh Dinas Pendidikan, Pemda, dan Gugus Tugas (Covid-19) di setiap daerah untuk memastikan protokol ini terjaga. Lantas, sebenarnya apa saja alasan yang mendasari pemerintah dalam mendukung pembukaan kembali sekolah tatap muka di masa pandemi ini?

Alasan utama yang mendasari pemerintah mengambil kebijakan ini adalah kekhawatiran timbulnya dampak negatif yang terjadi pada anak bila KBM online terus dilakukan. Dampak yang pertama ialah munculnya risiko putus sekolah dikarenakan anak 'terpaksa' bekerja untuk membantu keuangan keluarga di tengah krisis pandemi Covid-19.

Kedua, akan terjadi kesenjangan pencapaian belajar akibat perbedaan akses dan kualitas selama pembelajaran jarak jauh dapat mengakibatkan kesenjangan capaian belajar. Selain itu juga akan terjadi ketidakoptimalan pertumbuhan pada kemampuan anak di usia emas akibat turunnya keikut sertaan dalam kegiatan PAUD.

Pemerintah juga mencemaskan hilangnya pembelajaran tatap muka secara berkepanjangan berisiko terhadap pembelajaran jangka panjang, baik secara kognitif maupun perkembangan karakter. Ketiga, minimnya interaksi dengan guru, teman, dan lingkungan luar ditambah tekanan akibat sulitnya pembelajaran jarak jauh dapat menyebabkan stres pada anak.

Keputusan Nadiem ini mendapat sambutan yang beragam dari masyarakat, baik mereka yang memiliki pandangan positif maupun kontra. Misalnya saja dalam sejumlah percakapan grup WhatsApp di berbagai sekolah, banyak orang tua yang menuangkan opininya terkait kesiapan anak maupun sekolah dalam pembelajaran tatap muka.

“Gapapa bagus tuh sekolah udah mulai offline lagi, karena saya juga ga ngerti sama tugasnya anak-anak jadinya saya searching. Kalo offline kan dibantu sama gurunya terus saya takut anak-anak saya nanti malah ga ngerti apa-apa kan kasian. Walaupun emang mereka harus saya didik dulu bagaimana caranya untuk tetap menjaga protokol Kesehatan,” ujar Heni selaku orang tua murid MI Asih Putera, asal Kota Cimahi.

Di sisi lain, ada pula orangtua yang mengungkapkan penolakannya karena keraguan menjaga jarak yang mungkin akan sulit dilakukan oleh para siswa di sekolah. “Ngeri membayangkan anak-anak SD sekolah, soalnya mereka susah banget jaga jarak bila sudah bertemu temannya, anakku aja cuma setengah jam suka lupa masker diturunin di dagu, gimana nanti berjam-jam di sekolah, belum kebayang deh,” tutur Irma selaku orang tua murid SDIT Nur Ar-Rohman, asal Kota Cimahi.

Selaku mahasiswa, saya sendiri mendukung pelaksanaan KBM tatap muka pada Janauri 2021 mendatang, karena pembelajaran yang dilakukan secara tatap muka lebih efektif diaplikasikan ketimbang secara online. Berdasarkan pengalaman saya selama melaksanakan pembelajaran online, pelajar seringkali tidak fokus atau kurang konsentrasi terhadap materi ajar, sehingga minimnya pemahaman terhadap pelajaran tertentu.