Dulu Dikerangkeng, Kini First Lady Aceh

TRIBUNNEWS.COM - RAMAH dan bersahaja. Itulah kesan pertama yang didapat Serambi saat bertemu Niazah A Hamid, istri dr Zaini Abdullah, gubernur Aceh terpilih. Perempuan kelahiran Dayah Lampoh Awe, Simpang Lhee, Pidie inilah yang akan menjadi First Lady Aceh sejak Senin (25/6)  besok hingga lima tahun ke depan.

Walau mengaku merasa letih setelah melalui perjalanan darat Sigli-Banda Aceh, ia tetap setia mendampingi Doto Zaini--panggilan akrab Dokter Zaini Abdullah--menerima sejumlah tamu, menjawab pertanyaan Serambi, hingga bercanda dengan cucu-cucu tercintanya di rumah mereka di kawasan Geuceu, Banda Aceh.

“Panggil saja saya Ummi,” ujar perempuan yang dinikahi Zaini Abdullah pada 1969 ini. Berbagai cobaan dan tantangan hidup memang telah dihadapinya. Mulai dari berpindah-pindah tempat tinggal, ke luar-masuk kurungan (tahanan), membesarkan anak tanpa didampingi suami bertahun-tahun, hingga hijrah ke Jakarta, kemudian menetap dan menjadi warga negara Swedia.

“Masa-masa terberat dalam hidup rasanya sudah terlewati. Saya sangat bersyukur dan terharu dengan apa yang saya dapatkan sekarang. Bisa kembali ke Aceh dan bebas menemui semua handai taulan di kampung halaman. Saya juga merasa bahagia dan puas, karena Allah masih memberi saya kesempatan merawat ibu saya hingga ke akhir hayatnya,” ujar Niazah yang baru saja kehilangan ibunda tercintanya dua minggu lalu.

Niazah menikah dengan Zaini Abdullah di Meunasah Dayah Lampoh Awe, Mukim Peukan, Kecamatan Simpang Tiga, Sigli pada 1969. Pasangan ini dinikahkan oleh almarhum Teungku Daud Beureueh, pejuang Aceh yang pernah menjabat Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah Karo.

Dari perkawinan tersebut mereka dikaruniai tiga putri yang kini semuanya telah dewasa, yaitu Niza Ratna, Hasnita Zahra, dan Sri Wahyuni.

Pada 1981, Niazah sempat ditahan 20 hari di Kantor Camat Luengputu (Bandar Dua) Pidie, sekarang Pidie Jaya. Tahun 1982 ia juga dikerangkeng bersama 30 istri kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) lainnya di Penjara Lamlo. Tahun 1983 ia dan ketiga anaknya berkesempatan berkumpul bersama dr Zaini Abdullah di Swedia, tempat Dr Hasan Tiro bermukim setelah meninggalkan Amerika Serikat.

“Abu pernah bertahun-tahun tidak turun gunung dan tidak bertemu dengan saya dan anak-anak selama enam tahun. Pernah suatu malam hanya pulang satu jam untuk melihat anak, lalu langsung berangkat ke Jakarta hingga akhirnya sudah di Swedia. Abu terlebih dulu tiba di Swedia pada 1981 dan kami menyusulnya pada 1983,” ungkap Niazah yang saat ini masih berkewarganegaraan Swedia.

Meskipun telah melalui berbagai kesulitan hidup selama mendampingi suami tercinta, tidak tersirat sedikit pun gurat kesedihan di rawut wajah perempuan lulusan Sekolah Kepandaian Putri, Sigli, ini. Ia senantiasa setia mendampingi sang suami ke mana pun dan mengerjakan semua tugas domestik selaku istri, mulai dari memasak, hingga mengurus rumah tangga.

Menurutnya, tarif jasa pembantu rumah tangga di Swedia sangat mahal dan hampir tidak digunakan oleh masyarakat biasa.

Sewaktu berada jauh dari Indonesia, wanita yang terampil memasak ini berusaha maksimal untuk menyediakan makanan kesukaan dr Zaini. “Abu suka kari kambing dan salad sayur. Setiap hari harus ada salad sayur di meja makan. Sewaktu di Swedia memang jarang sekali makan kari kambing, tapi saya selalu usahakan untuk membuatkan kari kambing jika ada bahan yang cukup,” kata Ummi.

Sekarang, ia merasa sangat bahagia bisa kembali berada di Aceh dengan segala kerinduannya pada tanah indatu. “Tidak ada kata yang bisa saya ucapkan atas segala nikmat Allah yang kami rasakan. Mudah-mudahan rasa syukur ini juga bisa dirasakan seluruh bangsa Aceh dan seluruh masyarakat Aceh bisa hidup damai dan sejahtera,” tutup Ummi dengan senyum hangat dan tetap bersahaja. (Serambi Indonesia/Azminurti Thursina)

Baca juga:

  • Guru Siantar akan Gelar Demo di Kantor Gubernur
  • Uang Formulir SMAN 4 Siantar Dianggap Akal-akalan
  • Ganasnya Sungai Lhoksukon
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.