Dulu John Kei, sekarang Hercules disikat polisi

MERDEKA.COM. 26 Januari 2012, salah satu preman yang ditakuti di Jakarta terlibat kasus pembunuhan. Tidak tanggung-tanggung korbannya adalah direktur PT Sanex Steel Indonesia, Tan Hary Tantono alias Ayung.

Tidak membutuhkan waktu lama, polisi berhasil menangkap pria asal Maluku tersebut, pada Jumat 12 Februari 2012 di hotel C'one. Tidak mudah menangkap John Kei, karena dia melakukan perlawanan dan polisi pun harus menembak kaki kanannya untuk melumpuhkan pria yang berprofesi sebagai debt collector itu.

Karena perbuatannya, John Kei dikenakan pasal 340 KUHP dan dijatuhi hukuman kurungan penjara selama 12 tahun.

Kini, giliran penguasa Pasar Tanah Abang Hercules ditangkap polisi beserta anak buahnya yang berjumlah 44 orang. Hercules diduga meresahkan masyarakat karena sering mengganggu dan memeras warga.

"Benar, mereka di sana sedang mengamankan lahan, tapi sering memeras warga dan mengganggu," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto kepada merdeka.com saat dihubungi, Jumat (8/3).

Saat hendak dibawa ke mapolda metro jaya, Hercules sempat marah-marah dan hampir membuat keributan.

"Hercules kira pihak Bellmont yang manggil polisi buat apel. Dia enggak suka, ribut besar. Petugas sempat lepas tembakan ke atas," ujar Kapolsek Kembangan Sutoyo terpisah.

Hercules dan anak buahnya meradang. Mereka mencoba melawan polisi. Tapi polisi tidak gentar. Polisi mengeluarkan beberapa tembakan peringatan. Suasana sempat mencekam, tapi polisi berhasil meringkus Hercules dan anak buahnya.

Tak lama kemudian puluhan anggota Resmob Polda Metro Jaya datang ke lokasi. Mereka dipimpin Kasat Resmob Polda Metro Jaya AKBP Herry Heriawan. Herry menangkap Hercules bersama 49 anak buahnya.

AKBP Herry sempat berteriak meminta Hercules diborgol. "Borgol Hercules jangan sampai diistimewakan!" kata Herry. Herry dikenal sebagai sosok perwira yang keras melawan premanisme. Dia juga yang dulu pernah menembak mati anak buah Hercules di Cengkareng.

Sumber: Merdeka.com
Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.