Dulu Tak Menyukainya, 2 Milenial Sukses Bangun Bisnis Minuman Kopi dari Garasi Kecil

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Pernell Cezar dan Rod Johnson berhasil membangun startup kopi. Pendapatan perusahaan yang mereka bangun terus tumbuh hingga mampu mengantongi pendapatan mendekati USD 1 juta (Rp 14,2 miliar) hanya dalam waktu 3 tahun.

Ini bermula sejak 4 tahun lalu, Pernell Cezar menelepon teman masa kecilnya, Rod Johnson, dengan pertanyaan sederhana yang akhirnya akan mengubah hidup mereka: Apakah Anda minum kopi?

“Saya tidak minum saat itu,” ujar Johnson seraya menambahkan jika dia lebih menyukai teh daripada kopi.

Namun ternyata keberuntungan mereka berasal dari kopi. Mereka pun memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan fokus menggeluti bisnis kopi dengan merek BLK & Bold Coffee pada 2018.

Kedua teman masa kecil itu menyebut BLK & Bold Coffee sebagai merek kopi milik orang kulit hitam pertama yang didistribusikan di Iowa, Amerika. Bisnis tersebut dibangun atas misi sosial.

Keuntungan sebesar 5 persen akan disumbangkan untuk organisasi nirlaba yang mendukung anak-anak di komunitas yang kurang terlayani.

Melansir dari CNBC, Selasa (5/10/2021), kesuksesan BLK & Bold Coffee semakin tercermin setelah menjalin kerja sama dengan beberapa merek terkenal.

Pada Mei lalu, BLK & Bold Coffee menandatangani perjanjian lisensi dengan NBA. Kemudian, startup tersebut juga menjalin kerja sama dengan perusahaan manufaktur Ben & Jerry untuk memproduksi es krim kopi bernama Change Is Brewing.

BLK & Bold diprediksi sudah menghasilkan keuntungan sebesar USD 840 ribu (Rp 11,9 miliar) pada 2020.

Namun, Cezar dan Johnson menolak untuk mengonfirmasi jumlah pasti keuntungan dan mengatakan bahwa mereka ingin melipatgandakan pendapatan perusahaan tahun ini.

Diketahui, produk kopi dan teh yang dihasilkan startup sudah tersedia di lebih dari 5.600 lokasi retail di seluruh Amerika.

Terinspirasi Masa Lalu

Kopi BLK & Bold Coffee.
Kopi BLK & Bold Coffee.

Sebelum 2018, Cezar dan Johnson sudah membangun karier yang cukup kuat. Johnson mengerjakan penggalangan dana di University of the Pacific yang berbasis di Stockton, California. Sementara itu, Cezar adalah direktur penjualan untuk retailer produk kecantikan Sundial Brands.

Sama seperti kebanyakan generasi milenial, mereka menginginkan kepuasan pribadi yang lebih dari pekerjaan mereka sehingga bermimpi untuk meluncurkan bisnis bersama. Cezar akan menjadi CEO dan Johnson akan menjadi kepala pemasaran.

Tidak peduli dengan produk yang dijual, mereka memutuskan agar perusahaan harus memberikan dampak sosial dan memberikan pendapatannya untuk kegiatan amal.

“Kami ingin memastikan bahwa kami menemukan cara untuk menginvestasikan kembali kepada mereka yang membutuhkan dorongan, membutuhkan uluran tangan untuk mengatasi keadaan mereka masing-masing,” kata Johnson.

Inspirasi ini datang dari kehidupan mereka di masa lalu. Pasalnya, Cezar dan Johnson berasal dari kota Gary, Indiana.

Kota tersebut memiliki tingkat kemiskinan dan kejahatan kekerasan yang tinggi sehingga menjadi salah satu kota yang paling kurang beruntung.

Guru ekonomi Shelia Carpenter yang mengenal Cezar dan Johnson di Sekolah Menengah Atas menceritakan dua mantan muridnya itu sering menghabiskan waktu untuk berolahraga atau berkunjung ke Boys & Girls Club setempat. Kebiasaan ini membantu mereka menghindari masalah dan melakukan hal yang benar.

Boys & Girls Club memberikan wawasan kepada Cezar dan Johnson terkait pentingnya organisasi nirlaba yang berfokus pada generasi muda.

Pada 2020, BLK & Bold menyumbangkan USD 42 ribu (Rp 599 juta) kepada 14 organisasi berbasis komunitas seperti No Kid Hungry, yang memerangi kelaparan pada anak, serta program pendidikan di Des Moines.

Perjalanan Membangun Perusahaan

ilustrasi kafein/Photo by Nathan Dumlao on Unsplash
ilustrasi kafein/Photo by Nathan Dumlao on Unsplash

Saat melakukan riset pasar, Cezar dan Johnson menemukan orang kulit hitam Amerika kurang terwakili dalam industri kopi, baik sebagai pelanggan maupun pengusaha.

Berdasarkan penelitian dari National Coffee Association pada 2019 menyebutkan orang Afrika-Amerika di AS adalah kelompok etnis yang paling kecil kemungkinannya untuk minum kopi secara teratur.

Cezar pun mengaitkan tidak banyaknya jumlah pengusaha kulit hitam di industri kopi karena kekurangan informasi dan sumber daya, termasuk pendanaan.

Awalnya, mereka menjual sekantong biji kopi rumahan ke kedai kopi dan retailer di Midwest. Media sosial digunakan untuk memasarkan produknya.

Lalu, Cezar dan Johnson pun menghabiskan USD 22 ribu (Rp 313 juta) dari tabungan pribadi untuk membangun website dan menghadiri pameran perdagangan industri. Tujuannya agar bisa memperkenalkan produknya di hadapan retailer.

Pencapaian besar pertama kali berhasil diraih pada 2020. Produk BLK & Bold hadir di 200 lokasi target di seluruh AS, bekerja sama dengan supermarket Whole Foods atau rantai grosir Midwestern Hy-Vee.

Pandemi COVID-19 tidak mengganggu penjualan produk. Sebaliknya, penjualan online justru meningkat, terutama di Amazon.

Pelanggan dari seluruh bagian Amerika berbondong-bondong mendukung bisnis milik orang kulit hitam setelah terjadinya pembunuhan George Floyd. Oleh karena itu, BLK & Bold juga mendapatkan dorongan finansial lainnya.

Startup milik milenial berusia 34 tahun itu harus bersaing dengan merek kopi terkenal lainnya, seperti Blue Bottle, Stumptown, La Colombe, Starbucks, hingga Peet's dan Dunkin'.

Untuk tetap mempertahankan perusahaan, Cezar berpikir menambahkan produk baru, termasuk ide kopi botolan siap minum. Ia juga ingin menjalin kerja sama dengan lebih banyak perusahaan besar lainnya.

Cezar berharap keinginan untuk mendukung bisnis kulit hitam tidak berkurang sehingga pelanggan tetap membeli kopi karena menikmatinya.

Reporter: Shania

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel