Dulunya Anak Petani Miskin, Mantan Dirut PT Pos Dirikan Tempat Wisata di Bali

Aulia Akbar

Ketut I Mardjana yang gak lain merupakan mantan Dirut PT Pos Indonesia ini kini tengah asyik dengan bisnis barunya. Melirik ranah wisata, Ketut I Mardjana mendirikan Toya Devasya di kawasan Kintamani, Bali. 

Toya Devasya merupakan salah satu destinasi wisata terbesar di Kabupaten Bangli, Kintamani. Diberi nama Toya Devasya Natural Hot Spring merupakan salah satu tempat wisata banyak dilirik oleh wisatawan dalam negeri maupun mancanegara. 

Ketut I Mardjana memang bukan datang dari keluarga dengan strata ekonomi yang bagus. Ia lahir dan dibesarkan oleh orangtuanya yang hanya seorang petani miskin. Berkat kerja kerasnya, Ketut I Mardjana  pun sukses menjadi seorang Dirut PT Pos Indonesia dan kini akhirnya mencicipi dunia bisnis. 

Bagi beberapa kalangan Ketut I Mardjana tentu gak asing lagi di telinga kita. Beliau merupakan mantan Direktur Utama PT Pos Indonesia yang telah melakukan reformasi besar-besaran di BUMN tersebut.

Gak sedikit media di Indonesia ini yang mengklaim bahwa, Ketut sukses menyelamatkan BUMN yang gak bisa mencetak laba sejak 2004 hingga akhirnya bangkit pada tahun 2009. 

Pria kelahiran 1951 silam ini baru saja menerima penghargaan sebagai Indonesia “Most Leading Leader Award 2019” oleh Indonesia Achievement Center. Ia juga menerima penghargaan untuk kategori “The Most Inspiring Leader of Change and Executive Figure of the Year.”

Semua penghargaan itu diberikan lantaran dirinya mampu memberikan perubahan yang mengakselerasi kemajuan perekonomian Indonesia. Dalam sebuah media gathering di Hotel Santika Premiere Slipi, (8/11), Ketut bercerita mengenai perjalanan kariernya selama ini hingga sukses dalam berbisnis di dunia pariwisata. Mau tahu kisahnya? Yuk simak di bawah sini.

1. Pemilik area wisata Toya Devasya, waktu kecil hidup susah sekolah saja “nyeker”

Mantan Dirut PT Pos Indonesia ini tengah asyik bermain dengan bisnis barunya, (Aulia Akbar/MoneySmart).

Meski terlihat sukses pendiri Toya Devasya ini bukanlah seorang yang lahir dari keluarga kaya raya. Justru malah sebaliknya!

“Saya itu lahir di kampung, di Kintamani. Sekolah saya letaknya 7 KM (dari tempat tinggal) dan setiap kali sekolah saya nyeker. Setelah pulang, saya kerja cari rumput untuk makanan sapi-sapi di sana,” ujar Ketut di depan awak media.

Salah satu artikel di Travel Life Indonesia juga menyebut bahwa Ketut berasal dari keluarga petani miskin. Namun Ketut memang punya semangat tinggi untuk maju, hingga akhirnya bisa jadi salah satu tokoh sukses di Pulau Dewata.

“Waktu SMA saya dapat beasiswa, setelah itu sempat kuliah di STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara), dan akhirnya dapat lagi beasiswa di Monash (Melbourne). Pertama kali kerja saja ngurus kredit usaha tani, lalu akhirnya sempat bangun Gedung Bulog juga, lalu di Departemen Keuangan, di perusahaan-perusahaan lain, hingga jadi Dirut PT Pos,” paparnya.

2. Menyelamatkan PT Pos Indonesia

Ketut I Mardjana sukses membawa PT Pos Indonesia hidup kembali setelah mengalami banyak kerugian, (Ilustrasi/Shutterstock).

Salah satu prestasi yang tentunya bisa dibanggakan Ketut adalah menyelamatkan PT Pos Indonesia. Menurut artikel di Kompas pada tahun 2013, BUMN yang sudah ada di era penjajahan Belanda ini memang tertidur di tahun 2004. Kerap mengalami rugi dan gak menghasilkan uang sama sekali. 

Di tahun 2008 tercatat kerugian perseroan mencapai Rp 70,749 miliar. Namun pada setelah Ketut masuk, BUMN ini untung hingga Rp 98 miliaran di tahun 2009. Sementara itu di tahun 2012, labanya juga meroket jadi Rp 212 miliar! Wow, luar biasa ya!

“Kantor Pos saya sulap jadi hal baru, hingga bangkit dan berkembang. Kuncinya satu “online.” Saya online-kan semua jaringan yang ada di sana. Kalo orang bilang, internet tumbuh lalu Pos bakal mati, saya buktikan bahwa Pos bisa Bertahan. Tapi saat saya ingin mengembangkan digital post office, saya dipensiunkan karena saat itu sudah 62 tahun,” lanjutnya.

Kamu harus tahu bahwa saat Ketut membenahi perusahaan ini, dia cuma tidur satu jam sehari! Ia mengubah operasional perusahaan tersebut hingga membenahi kantor-kantor pos yang sudah kumuh. 

3. Usai Pensiun dari PT Pos, ia malah menjadi GM di perusahaan baru di kaki gunung

Lika liku kiprah karier Ketut mantan Dirut PT Pos Indonesia ini perlu kamu simak lho, (Aulia Akbar/MoneySmart).

Bisa dibilang, keputusan Ketut untuk mendirikan usaha di kaki gunung adalah tindakan yang berisiko. Sukses berkarier di PT Pos Indonesia, Ketut justru lebih memilih buat berbisnis di perusahaan tepatnya berada di kaki gunung. 

Sejatinya usaha ini sudah ada di tahun 2002, namun ia baru fokus untuk menggarapnya di tahun 2014. Nah, menurutnya, Toya Devasya ini ibarat sebuah investasi yang akhirnya mengubah nasibnya. Ibarat seorang yang dulu kendaraannya Toyota Kijang sekarang sudah naik Volvo hingga Mercedes-Benz. 

“Di sini, saya gak jadi CEO tapi saya cuma GM alias general manager. Yang CEO adalah anak saya. Dulu setelah dari Pos saya pernah kerja di properti, namun properti itu kan lagi lesu makanya saya pulang kampung,” lanjutnya.

“Bisa dibilang saat itu prospek bisnis di kampung ini memang belum terlihat. Tapi saya beranikan untuk membuat blue print (bisnis baru) selama lima tahun ke depan,” tegasnya sambil menjelaskan tentang bisnisnya.

4. Besarkan Toya Devasya tanpa pinjam duit

Ia mendirikan Toya Devasya tanpa meminjam uang sepeser pun lho, (Instagram/@ikmardjana).

Berkat proyeksi lima tahun yang sudah digarap oleh Ketut, tempat wisata ini langsung berkembang dalam waktu singkat. Dulu pegawainya cuma sedikit, sekarang sudah sampai 200 orang! Awal didirikan pengunjungnya yang datang hanya kisaran 50-an orang, tapi siapa yang nyangka sekarang sehari bisa 1.000 hingga 3.000 orang lho!

Kerennya, usaha ini 100 persen menggunakan uang pribadinya alias tanpa bantuan pinjaman modal dan investor! 

“Pengunjung Toya Devasya sudah luar biasa. Dari awal cuma 50-an, sekarang jadi ribuan. Saya biasa kerja dengan terstruktur, dan sejak dulu saya selalu berpikir gimana cara memfasilitasi pengunjung dengan baik,” tuturnya.

Ketut menambahkan, saat ini tempat wisatanya sudah memiliki sembilan kolam renang berukuran besar. Delapan di antaranya berukuran olimpiade dan semuanya air hangat, beda lho sama pemandian air hangat Ciater.

Keindahan Toya Devasya akan kita bahas di artikel selanjutnya ya. Tapi yang jelas, artikel aja gak cukup untuk membuktikan, kamu harus datang sendiri ke sana.

Salah satu yang terkeren dari Toya Devasya adalah mereka memiliki wahana waterboom air hangat. Tentu saja wahana ini menjadi waterboom air hangat pertama dan satu-satunya di dunia! Wisatawan asing tentu sangat senang berkunjung ke tempat wisata ini. Asal kamu tahu, tempat wisata ini selalu full booking di akhir pekan. 

5. Sulap kampung halaman jadi destinasi wisata terfavorit

Begini gaya Ketut di depan tempat wisata yang ia bangun, (Instagram).

Niat Ketut yang pulang kampung dan memulai investasi tentu membuahkan hal manis di kemudian hari. Gak hanya buat dirinya sendiri melainkan juga buat pariwisata Indonesia.

Tempat wisata ini letaknya memang agak jauh dari Bandara Internasional Ngurah Rai, waktu tempuhnya kurang lebih dua jam. Lebih tepatnya di Kaki Gunung, Batur. 

“Orang bilang Toya itu jauh tapi ketika sampai di sini, tapi setelah sampai sana mereka takjub. Lelahnya pasti hilang,” ujar Ketut. 

Itulah sekilas kisah tentang perjalanan Pak Ketut yang kini menjadi entrepreneur sukses dari Pulau Dewata. Ketut juga mengatakan, dengan pertumbuhan yang luar biasa, laba yang dicetak oleh Toya Devasya juga sangat signifikan. (Editor: Mahardian Prawira Bhisma)