Dunia Produser dan Proses Development Produksi Film ala Salman Aristo

Syahdan Nurdin, akmaliaazzahra
·Bacaan 5 menit

VIVA – Sebagai penonton film, rasa penasaran akan suasana di balik layar pasti pernah dirasakan. Berbagai asumsi bermunculan di kepala usai kita menonton sebuah film. Ending film yang tak sesuai harapan kerap kali membuat kita melabeli film tersebut “jelek”.

Ketika kita merasa film yang kita tonton “bagus”, tak segan kita memuji sang Sutradara pembuat film. Realitasnya, baik buruknya kualitas suatu film tak lepas dari peran produser yang berada dibalik layar, sehingga tak adil rasanya bila hanya sutradara yang diberikan pujian atau bahkan cacian apabila kualitas suatu film “jelek”.

Saat ini, sudah banyak produser kenamaan Indonesia yang karyanya bisa disandingkan dengan karya-karya produser mancanegara, salah satu di antaranya adalah Salman Aristo. Sebagai pekerja seni, ia juga turut mendirikan rumah produksi yang awalnya merupakan story development company.

Berbekal latar belakang pendidikan di bidang Jurnalistik, Aris memulai kariernya di industri film sebagai penulis skenario. Ia tak pernah menyangka, kegiatan nongkrong di Gelanggang Seni, Sastra, Teater dan Film di Universitas Padjadjaran (Unpad) akan jadi titik awal perjalanannya mengarungi karier di industri film Indonesia.

Kalimat “mau bikin film” yang dikatakan oleh salah seorang anggota gelanggang tersebut jadi momen tak terlupakan yang ia ingat sampai detik ini. Momen itu yang kemudian membawa hidupnya menjadi seorang penulis skenario, produser dan sutradara terkemuka di Indonesia.

Pada sebuah kuliah umum yang diselenggarakan oleh Universitas Padjadjaran, Salman Aristo, atau yang kerap disapa Aris ini menceritakan bagaimana cara kerja produser juga proses development dalam produksi film dari sudut pandang produser.

Proses produksi film sendiri terbagi ke dalam beberapa tahapan yakni development, pra produksi, produksi, dan post produksi.

Dalam proses development, kita mengenal istilah development room atau ruangan development. Development room ini diartikan sebagai ruangan yang dipakai dalam proses pembuatan cerita yakni skenario sebagai hasil akhirnya.

Pada proses produksi film, seorang produser mengawali kerja perdananya dengan menemui penulis skenario. Penulis skenario lah yang nantinya akan membantu mengembangkan ide sang Produser ke dalam bentuk naskah cerita. Tentu, dalam proses ini seorang produser tak hanya ditemani oleh penulis skenario, melainkan juga dengan sutradara.

“Kalo mau garap sesuatu emang dibutuhkan tim advance lah istilahnya, itu ada sutradara, produser dan penulis skenario,” kata Aris.

Ketiganya adalah pihak yang terlebih dahulu dipertemukan dalam ruangan development sebelum berhubungan dengan pemain, dan elemen lainnya. Bukan berarti hanya 3 orang saja yang bekerja dalam proses penggarapan naskah, namun ketiganya memiliki elemen-elemen di dalamnya yang akan membantu mereka dalam mengerjakan tugas. Nah, dalam proses ini produser bertanggung jawab untuk menciptakan panduan dan pondasi dalam ruangan kolaborasi ini.

Ketika seorang produser tak lagi bisa mengontrol ruangan developmentnya, ruangan tersebut berubah menjadi development hell. Akibatnya, ruangan development menjadi tak karuan. Kondisi ini sangat mungkin terjadi salah satunya akibat skill produser yang kurang mumpuni. Maka dari itu untuk menghindari kondisi development hell ini, seorang produser perlu dibekali dengan skill yang cakap salah satunya diawali dengan mengenal diri sendiri. “You must know yourself” kata Aris.

Hal-hal yang Dicari Produser
Produser Dua Garis Biru ini mengaku, setidaknya ada 3 hal yang umumnya dicari oleh seorang produser diantaranya adalah:

1. Perimbangan Seni dan Bisnis
Meskipun dunia perfilman bergerak di bidang seni, tapi tak bisa dipungkiri, pasti terdapat unsur bisnis yang melekat di dalamnya. Seni dan bisnis jadi dua elemen tak terbantahkan yang saling terikat satu dengan yang lainnya. Hal pertama yang perlu produser kuasai adalah bisa membaca skenario, dengan demikian ia bisa tahu apa yang bisa ia cari. Titik itu lah yang kemudian menciptakan keseimbangan antara seni sm bisnis.

2. Cerita yang Memikat Penonton
Dalam memproduksi film, seorang produser diharapkan paham akan cerita apa yang sekiranya dapat memikat masyarakat untuk menonton film produksinya. Produser harus bisa menemukan tema dan harus sadar bahwa skenario yang berpotensi memikat masyarakat ialah yang memiliki tema, premis, karakter, dan plot yang kuat.

3. Talenta yang Pas
Ketika produser sudah tahu seperi apa cara menceritakan “cerita” dalam skenario, lanjut ke tahapan menemukan aktor dan aktris yang sesuai dengan cerita yang dibawa. Hal ini akan berhubungan dengan siapa yang akan bercerita, dan siapa yang akan ikut menceritakan. Ia berserta tim di rumah produksinya percaya bahwa yang dibutuhkan itu adalah “voice” bukan “noise”.

“Kami tidak pernah peduli dengan jumlah followers Instagram pemain karena itu noise, apa yang ada di sosial media itu kalo nggak pinter-pinter milahnya nggak dapet voice, cuma dapat noise,” tambah Aris.

Istilah Fix It in Pre
Dari segelintir produser terkemuka di Indonesia, Aris ini salah satu produser yang percaya akan prinsip Fix It in Pre bukan Fix It in Post. Dalam dunia perfilman, kedua istilah ini tentu sudah tak asing lagi di telinga.

Istilah Fix It in Pre dipakai ketika misalnya terjadi perubahan dalam proses pembuatan film yang diperbaiki saat prosenya masih di atas kertas yakni ketika masih dalam proses penggarapan skenario. Menurutnya, bila terjadi perubahan kemudian diperbaiki pada saat proses shooting, film tersebut berpotensi menjadi berantakan.

“Nggak ada tuh istilahnya entar dibetulin di post nggak ada, karena post production itu bukan reparasi,” tambah Aris.

Uniknya lagi prinsip yang dipercaya Aris ini serupa dengan prinsip yang dipegang oleh salah satu penyedia layanan streaming film Internasional. Di mana menurut pengakuannya, prinsip Fix It in Pre ini jadi mantra pertama mereka dalam memproduksi film-film yang tayang di layanan streaming tersebut.

Tips Menciptakan Ruangan Development yang Sehat
Seperti yang telah disinggung di atas, bila produser sudah tak lagi bisa mengontrol ruangan developmentnya, maka ruangan tersebut akan berubah menjadi development hell. Menurut Aris, untuk menciptakan ruangan development yang sehat, kuncinya adalah empati yakni:
1. Mengenali rekan kerja (tipikal, karakter, dll)
2. Memenuhi hak-hak pekerja
3. Memahami situasi dan kondisi (keahlian, mental & fisik, waktu)
4. Mengetahui waktu yang tepat untuk melakukan “being kind” dan "being right

Aris juga mengingatkan, sebagai produser kita perlu betul-betul memahami visi yang ingin kita bawa sebelum lanjut ke proses kolaborasi dan proses pembuatannya. Visi yang perlu dibawa oleh seorang produser antara lain, konteks, konsep, konten, leadership dan manajemen. Ia lantas mengilustrasikan visi tersebut, baginya konten itu ibarat air, konteks adalah botolnya, dan konsepnya adalah air mineral. Selain itu, berbicara soal produser jelas kita berbicara soal leadership dan manajemen.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, produser itu bertanggung jawab untuk membuat panduan dan pondasi dalam ruangan development, sehingga secara otomatis ia berperan sebagai pemimpin. Baik, konteks, konsep, konten, maupun leadership dan manajemen, semuanya terkoneksi satu sama lain untuk mencapai keberhasilan. Dengan demikian, produser yang baik ialah produser yang memahami akan keseluruhan elemen dalam visi yang ingin ia bawa. (AA)