Dunia Putin dan Sikap Misterius Mikhail Gorbachev Soal Perang di Ukraina

Merdeka.com - Merdeka.com - Pada 24 Februari 2022, hari ketika Rusia menginvasi Ukraina, pidato Presiden Vladimir Putin menyinggung soal keruntuhan Soviet, yang dipelopori Mikhail Sergeyevich Gorbachev.

Bagi Putin, keruntuhan Soviet merupakan cerminan lumpuhnya kekuatan, juga "bencana geopolitik terbesar abad ini".

"Kita kehilangan kepercayaan diri hanya dalam sesaat, tapi itu cukup untuk merusak keseimbangan kekuatan di dunia," ujarnya, dikutip dari The New York Times, Rabu (31/8).

"Bencana" akibat runtuhnya Uni Soviet menurut Putin disebabkan oleh kelemahan pemimpin saat itu yang mau tunduk dan ingin mengikuti Barat. Putin tidak ingin "kesalahan" itu terulang kembali.

Di Ukraina, Putin bertarung dalam bayang-bayang kejayaan Uni Soviet di masa lalu, ingin mengembalikan dominasi Moskow terhadap wilayah yang diklaim merupakan milik orang Rusia.

Saat Gorbachev berkuasa, muncul sejumlah media yang menjadi simbol kebebasan di Rusia. Salah satunya radio Echo of Moscow yang pertama kali mengudara pada 1990. Namun setelah invasi di Ukraina, Kremlin menutup paksa radio tersebut.

Novaya Gazeta, koran independen di Rusia didirikan dengan uang hadiah Nobel Perdamaian yang diterima Gorbachev pada awal 1990-an. Namun koran ini berhenti terbit pada Maret karena diancam dengan UU penyensoran baru yang disahkan belum lama ini.

Sejak perang dimulai, Gorbachev secara pribadi tidak mengomentari invasi Ukraina karena kondisinya sedang sakit. Namun yayasannya, Gorbachev Foundation mengeluarkan pernyataan meminta gencatan senjata dan segera dilakukan perundingan damai.

Tetapi Gorbachev, yang ibunya adalah orang Ukraina, mendukung pandangan Putin yang menilai Ukraina sebagai "negara saudara" yang seharusnya berada di orbit Rusia. Gorbachev mendukung pencaplokan Krimea pada 2014, menyebut langkah itu mewakili kehendak wilayah yang sebagian besar dihuni orang Rusia. Dia juga mengecam Barat yang ingin menarik Ukraina menjadi anggota NATO. Menurut Gorbachev, langkah itu hanya akan menciptakan perselisihan antara Rusia dan Ukraina.

Gorbachev juga yakin perang bisa dihindari. Saat ditanya terkait ketegangan Ukraina-Rusia pada 2014, dia mengatakan kepada media Siberia, "Perang antara Rusia dan Ukraina hal yang absurd."

"Ini adalah orang yang berprinsip menentang kekerasan dan pertumpahan darah," kata editor Novaya Gazeta dan peraih Nobel Perdamaian 2021, Dmitri A Muratov.

Sampai pada kematiannya, Gorbachev belum mengomentari soal invasi Ukraina. Gorbachev meninggal dunia pada Selasa (30/8) malam.

Muratov mengatakan dia sering membesuk Gorbachev di rumah sakit dalam dua tahun terakhir dan menurutnya Gorbachev tidak dalam keadaan yang memungkinkan untuk mengomentari peristiwa politik saat ini.

Belasungkawa Putin

rev1
rev1.jpg

Saat kabar wafatnya Gorbachev tersiar, Putin menyampaikan belasungkawa. Kendati para sekutu politiknya di parlemen enggan menyampaikan duka cita.

"Mikhail Gorbachev adalah politikus dan negarawan yang memiliki pengaruh besar dalam jalannya sejarah dunia," kata Putin dalam pernyataannya.

"Dia sangat memahami bahwa reformasi diperlukan, dia berusaha menawarkan solusi sendiri untuk masalah mendesak," tambah Putin.

Kabarnya Kremlin tidak akan melakukan upacara penghormatan terhadap Gorbachev. Namun menurut juru bicara Kremlin, format pemakaman Gorbachev belum ditetapkan, apakah akan dilakukan dengan upacara penghormatan kenegaraan atau tidak.

Bagi orang Rusia yang ingin memiliki hubungan yang akrab dengan Barat dan kebebasan yang lebih luas di dalam negeri, Gorbachev tetap menjadi tokoh visioner. Bagi Dmitri Muratov, warisan terbesar Gorbachev adalah perundingan pengendalian senjatanya dengan Presiden AS Ronald Reagan yang mendorong pemusnahan senjata nuklir.

"Mereka (Gorbachev dan Reagan) memberikan kami hadiah selama sekurang-kurangnya 30 tahun hidup tanpa ancaman perang nuklir global," kata Muratov.

"Kita telah menyia-nyiakan hadiah ini. Hadiah itu telah hilang." [pan]