Dwi Soetjipto Bocorkan Peluang Bisnis Bagi Perbankan di Sektor Migas

·Bacaan 2 menit

VIVA – Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, membocorkan beberapa peluang bisnis yang dapat disinergikan antara sektor perbankan dengan sektor migas di Tanah Air.

Hal tersebut antara lain adalah terkait kesejahteraan dan fasilitas untuk karyawan migas, dimana ini juga menjadi salah satu peluang bagi industri perbankan nasional.

"Antara lain untuk pembayaran gaji, pemberian fasilitas kredit asuransi, dan banyak hal lain yang terkait untuk kebutuhan karyawan (di sektor migas)," kata Dwi dalam telekonferensi di webinar 'Peran Perbankan Nasional di Industri Hulu Migas', Kamis 19 Agustus 2021.

Untuk industri penunjang kegiatan hulu migas, Dwi memastikan bahwa potensi dan peluang bagi sektor perbankan untuk masuk dalam kegiatan tersebut juga masih terbuka sangat besar.

Berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, tercatat bahwa multiplier effect dari industri hulu migas saat ini adalah sebesar 1,6 kali dari nilai investasinya.

Besarannya terus tumbuh dari tahun ke tahun, sehingga pertumbuhan industri ini tidak hanya dinikmati oleh sektor migas saja, tapi juga sektor-sektor lain seperti misalnya industri perbankan.

"Hal ini menjadi peluang bagi industri perbankan nasional termasuk BUMN, untuk mengambil bagian dalam pembiayaan industri hulu migas dan industri-industri pendukung lainnya," kata Dwi

Dwi menjelaskan industri hulu migas dan industri penunjang membutuhkan modal pembiayaan yang cukup besar, sehingga potensi-potensi tersebut dapat disediakan oleh pihak perbankan nasional. Menurutnya, di tahun 2020 total penyaluran kredit perbankan nasional sendiri sudah mencapai sekitar Rp5.482 triliun lebih.

Sedangkan, kebutuhan investasi hulu migas dengan kisaran US$12 miliar, atau sekitar 3 persen dari kemampuan pembiayaan perbankan nasional.

"Jadi sesungguhnya kebutuhannya masih sangat kecil dibandingkan dengan kemampuan perbankan," kata Dwi.

"Maka PR besar kita bersama adalah bagaimana agar industri hulu migas dapat menjadi salah satu sektor usaha yang menjadi target utama dalam pembiayaan perbankan nasional," sambungnya.

Disamping itu, lanjut Dwi, struktur investasi hulu migas yang memiliki jangka waktu yang lama, semestinya bisa dilihat oleh sektor perbankan sebagai peluang bisnis yang harus digarap lebih lanjut khususnya dalam ranah segmentasi kredit.

"Kami harapkan hal itu dapat disikapi sektor perbankan nasional dengan menawarkan rate bunga yang lebih kompetitif, dengan time frame yang berbeda dengan pinjaman komersial lain," ujarnya.

Sehingga, ke depannya bank-bank nasional juga bisa turut bersaing dengan bank-bank asing, dalam pembiayaan proyek-proyek migas baik di sektor hulu maupun hilir.

Apalagi, Dwi memastikan bahwa international rate return (IRR) industri migas saat ini minimalnya sudah berada dalam kisaran 14 persen pada saat investasi awal.

Hal itu menurutnya masih bisa meningkat lagi akibat adanya sejumlah faktor pendukung lain, seperti misalnya dengan ditemukannya sumber-sumber atau sumur migas yang baru suatu saat nanti.

"Bahkan, beberapa blok migas yang sudah berproduksi seiring dengan ditemukannya sumur migas yang baru, membuat IRR juga meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan saat direncanakan di awal," ujarnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel