Efek Jajanan Cikibul, Begini Kondisi Para Korban di Tasikmalaya usai Dirawat

Merdeka.com - Merdeka.com - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat memastikan tidak ada anak yang mengalami kerusakan usus akibat mengonsumsi jajanan ciki ngebul (cikibul) nitrogen cair atau ice smoke. Sejumlah anak yang sempat mendapatkan perawatan, saat ini kondisinya sudah sehat kembali.

Kepala Bidang (Kabid) Pengawasan, Pelayanan Kesehatan dan Tempat Usaha Dinkes Tasikmalaya, Reti Zia Dewi Kurnia mengatakan bahwa pada 15 November 2022 memang sempat ada sejumlah anak yang diduga mengalami gejala sakit usai mengkonsumsi cikibul.

Pada saat itu, jumlah korban tercacat 23 orang, 16 tidak bergejala dan sisanya bergejala. Dari tujuh orang tersebut, enam orang mengalami pusing dan satu orang sempat muntah-mudah kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

"Saat ini (seluruh korban) sudah sehat semuanya. Jadi enggak ada lagi tambahan korban dan kejadiannya enggak ada lagi selain waktu itu," kata Reti kepada wartawan, Senin (9/1).

Sempat beredar kabar adanya korban berusia empat tahun yang kondisinya parah dan membutuhkan tindakan operasi. Reti memastikan bahwa kabar tersebut tidak benar. Seluruh korban dipastikan sudah sembuh dan kembali ke rumah masing-masing saat itu juga.

"Tidak benar juga kalau para korban keracunan cikibul seperti informasi yang beredar sekarang ususnya bolong-bolong dan rusak juga," ungkapnya.

Terkait adanya korban akibat cikibul, dijelaskan Reti, pihaknya langsung membuat laporan resmi ke tingkat yang lebih atas. Pihaknya juga menindaklanjuti surat edaran Kementerian kesehatan bekerja sama dengan Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan juga melaporkannya.

"Hasil penanganan, evaluasinya dan laporan sudah dikirimkan ke Kemenkes RI kejadian itu. Kalau analisa studi kasus hasilnya pun sudah disampaikan ke Kemenkes RI," jelasnya.

Dalam kejadian dugaan keracunan akibat cikibul, diakuinya pihaknya tidak memiliki hasil lengkap uji kasus dan tidak bisa menyimpulkan. Itu dikarenakan ranahnya ada di Kementerian Kesehatan, sehingga yang dilakukan adalah laporan kejadian dengan langkah sosialisasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi. [cob]