Efek Rumah Kaca Adalah Panas Matahari yang Terperangkap di Atmosfer Bumi, Begini Prosesnya

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta Efek rumah kaca adalah bentuk pengandaian keadaan bumi yang menangkap panas matahari. Efek ini terjadi persis seperti rumah kaca yang dibuat di bumi dalam bidang biologi.

Rumah kaca dalam ilmu biologi memang sengaja dibuat untuk memerangkap panas matahari. Tujuannya agar suhu di dalam rumah kaca lebih panas daripada suhu di luarnya. Tentu berbeda dengan keadaan bumi.

Jika disamakan dengan bumi, efek rumah kaca adalah panas matahari yang terperangkap di atmosfer bumi. Untuk beberapa kondisi mungkin menguntungkan, tetapi lebih banyak dampak merugikannya.

Penyebab efek rumah kaca adalah aktivitas manusia. Tepatnya ketika aktivitasnya menghasilkan gas-gas tertentu yang dapat menahan panas matahari hingga membuatnya terperangkap di atmosfer bumi. Gas yang dimaksud adalah karbondioksida, metana, uap air, ozon, nitrous oxide, CFC, dan HFC.

Berikut Liputan6.com ulas efek rumah kaca adalah panas di atmosfer bumi dari berbagai sumber, Jumat (30/10/2020).

Pengertian Efek Rumah Kaca

Ilustrasi Bumi (Sumber: Pixabay)
Ilustrasi Bumi (Sumber: Pixabay)

Asosiasi Energi New Mexico, Amerika Serikat (AS)

Menurut Asosiasi Energi New Mexico, Amerika Serikat (AS), efek rumah kaca adalah kejadian di mana panas di Bumi terperangkap karena terhalang oles gas emisi seperti karbon dioksida pada atmosfer. Gas emisi tersebut kebanyakan berasal dari asap kendaraan dan pabrik serta kebakaran hutan.

Badan Perlindungan Lingkungan (AS)

Badan Perlindungan Lingkungan (AS) menyerbutkan bahwa efek rumah kaca adalah proses meningkatnya suhu rata-rata permukaan Bumi karena lapisan atmosfer Bumi yang kian menipis bahkan bocor. Hal ini menjadikan cuaca di Bumi semakin panas karena sinar matahari tidak lagi terhalang oleh lapisan atmosfer.

Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam

Efek rumah kaca adalah krisis lingkungan dan kemanusiaan yang sedang terjadi di Bumi. Suhu permukaan Bumi kian meningkat akibat terperangkap oleh gas karbon dioksida yang semakin banyak dari hari ke hari, dan menjadikan Bumi semakin panas dan rawan akan bencana.

Proses Efek Rumah Kaca

Ilustrasi kawah Chicxulub, bukti asteroid pernah jatuh ke bumi (Mark Garlick/ Science Photo Library/AFP Photo)
Ilustrasi kawah Chicxulub, bukti asteroid pernah jatuh ke bumi (Mark Garlick/ Science Photo Library/AFP Photo)

Proses terjadinya efek rumah kaca dapat dijelaskan sebagai berikut. Dalam rumah kaca (greenhouse) yang digunakan dalam budidaya terutama di negara yang mengalami musim salju, atau percobaan tanaman dalam bidang biologi dan pertanian.

Energi matahari (panas) yang masuk melalui atap kaca sebagian dipantulkan keluar atmosfer dan sebagian lainnya terperangkap di dalam greenhouse sehingga menaikkan suhu di dalamnya.

Contoh lain yang dapat mengilustrasikan proses terjadinya efek rumah kaca adalah ketika kita berada dalam mobil dengan kaca tertutup yang sedang parkir di bawah terik matahari.

Panas yang masuk melalui kaca mobil, sebagian dipantulkan kembali ke luar melalui kaca tetapi sebagian lainnya terperangkap di dalam ruang mobil. Akibatnya suhu di dalam ruang lebih tinggi (panas) daripada di luarnya.

Dalam proses terjadinya efek rumah kaca, terdapat gas kaca yang keluar dan membentuk lapisan yang menyelimuti bumi. Gas kaca ini berupa CO2 (karbon dioksida), metana, NOx (nitrogen dioksida), serta beberapa gas lainya yang merupakan reaksi alamiah industri.

Jika gas efek rumah kaca ini terlepas, maka partikelnya mampu naik sampai lapisan troposfer lalu membentuk lapisan yang menyelimuti bumi.

Berikut adalah rincian energi yang memantul lagi ke bumi:

25% : dipantulkan awan dan partikel partikel lain

25% : di serap oleh awan

45% : di serap oleh permukaan bumi

10% : dipantulkan lagi oleh permukaan bumi

Bumi dilapisi oleh lapisan atmosfer. Dengan proses terjadinya efek rumah kaca, akan ada partikel gas yang melayang di antara bumi dan lapisan atmosfer tersebut. Hal ini menyebabkan panas bumi memantul dan harus di bawa keluar.

Namun pada prosesnya, panas bumi kembali masuk sehingga suhu bumi naik dan akhirnya menghangat. Pada awalnya, kondisi bumi hanya akan menghangat saja. Namun jika ini terus berlanjut, bumi bukan hanya menghangat tapi juga memanas yang sifatnya mengglobal, dikenal dengan pemanasan global (global warming).

Bahaya Efek Rumah Kaca

Ilustrasi pemanasan global | Valdemaras D. dari Pexels
Ilustrasi pemanasan global | Valdemaras D. dari Pexels

Peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagian besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia. Suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C antara tahun 1990 dan 2100.

Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas dari proses terjadinya efek rumah kaca telah stabil. Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan.

Hingga saat ini masih terjadi perdebatan politik dan publik di dunia mengenai apa, jika ada, tindakan yang harus dilakukan untuk mengurangi atau membalikkan pemanasan lebih lanjut atau untuk beradaptasi terhadap konsekuensi yang ada. Sebagian besar pemerintahan negara-negara di dunia telah menandatangani dan meratifikasi Protokol Kyoto, yang mengarah pada pengurangan emisi gas-gas rumah kaca.

Protokol ini mengharuskan negara-negara industri untuk menurunkan emisinya sebesar 5,2 persen di bawah tingkat emisi tahun 1990 dengan target waktu tahun 2012 dan baru memperoleh kekuatan hukumnya secara internasional pada tanggal 16 Februari 2005.

Hingga 23 Oktober 2007 sudah 179 negara yang meratifikasi Protokol Kyoto tersebut. Hal ini adalah upaya dan bukti komitmen negara-negara sedunia dalam mengurangi emisi Gas Rumah Kaca atau proses terjadinya efek rumah kaca, demi menanggulangi permasalahan lingkungan yang terjadi saat ini.

Manfaat Efek Rumah Kaca

Ilustrasi sampah antariksa yang ada di sekitar orbit bumi (sumber: mirror.com)
Ilustrasi sampah antariksa yang ada di sekitar orbit bumi (sumber: mirror.com)

Efek rumah kaca adalah proses masuknya radiasi dari matahari dan terjebaknya radiasi di dalam atmosfer akibat GRK sehingga menaikkan suhu permukaan bumi.

Justru pada proporsi tertentu, efek rumah kacalah yang memberikan kesempatan kehidupan berbagai makhluk di planet ini. Artinya efek rumah kaca bukan sesuatu yang buruk, namun justru memberikan manfaat bagi kehidupan.

Kalau saja tidak ada efek rumah kaca, maka suhu rata-rata permukaan bumi bukanlah 15°C seperti sekarang ini, melainkan -18°C. Proses terjadinya efek rumah kaca ini berkaitan dengan daur aliran panas matahari.

Kurang lebih 30% radiasi matahari yang mencapai tanah dipantulkan kembali ke angkasa dan diserap oleh uap, gas karbon dioksida, nitrogen, oksigen, dan gas-gas lain di atmosfer. Sisanya yang 70% diserap oleh tanah, laut, dan awan. Pada malam hari, tanah dan badan air itu relatif lebih hangat daripada udara di atasnya.