Eijkman fokus pada riset zoonosis dan resistensi antibiotik pada 2022

·Bacaan 2 menit

Eijkman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) masih fokus untuk melakukan riset dan pengembangan pada beberapa bidang riset yang sudah lama digeluti antara lain zoonosis, penyakit infeksi dan keanekaragaman genom termasuk resistensi antibiotik pada 2022.

"Terkait pengajuan proposal sudah ada beberapa mendapatkan pendanaan untuk tahun 2022 dan itu misalnya terkait dengan keanekaragaman genom terutama yang kaitannya dengan zoonosis bagaimana penyakit itu ditularkan melalui hewan," kata Pelaksana tugas Kepala Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBME) BRIN Wien Kusharyoto dalam Sarasehan Arah Riset Biologi Molekuler di BRIN di Auditorium LBM Eijkman di Jakarta, Selasa.

Wien menuturkan sejauh ini para peneliti PRBME BRIN sudah memiliki kemampuan dan banyak bekerja di bidang riset yang berkaitan dengan penyakit infeksi dan keanekaragaman genom.

PRBME berencana untuk mengadakan rumah program untuk tahun 2022 tentang penyakit infeksi dengan topik riset antara lain resistensi terhadap antibiotika dan penyakit yang diakibatkan virus lainnya selain virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

Baca juga: PRBME-BRIN: Bibit vaksin Merah Putih Eijkman sesuai standar industri

Baca juga: BRIN: Eijkman fokus peningkatan yield bibit vaksin Merah Putih

PRBME juga merencanakan kerja sama riset dan pengembangan yang lebih erat dengan Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo dan rumah sakit lain di wilayah Jakarta pada 2022.

Adapun topik riset yang diangkat dalam kolaborasi dengan rumah sakit tersebut dapat berkaitan dengan sero surveilans, dampak dari penyakit infeksi, dan sejauh mana vaksinasi dapat menimbulkan kekebalan di tengah masyarakat.

Pada 2022, PRBME juga masih melanjutkan riset dan pengembangan terkait dengan penanganan COVID-19 seperti pengembangan vaksin Merah Putih.

Baca juga: LBM Eijkman kunjungi Satgas TNI Yonif 512 perbatasan RI-PNG

Baca juga: Periset Eijkman non PNS tidak otomatis jadi fungsional peneliti

Sebelumnya, peneliti vaksin di PRBME Tedjo Sasmono mengatakan bibit vaksin Merah Putih yang dikembangkan Eijkman dengan platform protein rekombinan sudah sesuai dengan standar industri antara lain dapat memicu respons imun, dan produktivitas atau yield bibit vaksinnya baik.

Dalam pengembangan bibit vaksin Merah Putih dengan platform protein rekombinan, PRBME menggunakan sel yeast atau ragi dan sel mamalia.

Untuk platform yang menggunakan sel ragi, bibit vaksinnya sudah berada di PT Bio Farma sebagai mitra industri pengembangan vaksin.

Namun untuk platform pengembangan bibit vaksin yang menggunakan sel mamalia itu, PRBME belum mendapatkan mitra industri dan hingga saat ini masih terus melakukan negosiasi dengan industri.

Baca juga: Eijkman: Varian C.1.2 belum terdeteksi di Indonesia

Baca juga: Eijkman: Vaksin Merah Putih diharapkan penuhi 50 persen kebutuhan

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel