Eijkman: Tidak Penting Bicara Kapan Pandemi Corona Berakhir

Liputan6.com, Jakarta Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio menegaskan, pembicaraan tentang kapan pandemi virus corona Covid-19 berakhir tidak penting. Hal ini dia sampaikan dalam diskusi virtual bersama Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto.

“Tidak penting untuk membicarakan puncaknya kapan, bulan depan, tiga bulan lagi,” kata dia, Minggu (3/5/2020).

Menurut dia, hal yang paling penting untuk didiskusikan, yakni apa upaya yang harus dijalankan Indonesia, baik pemerintah maupun masyarakat untuk menangani virus corona Covid-19.

“Buat kami yang penting adalah yang harus kita lakukan hari ini oleh setiap orang. Jadi sekecil apapun yang harus diupayakan masyarakat itu harus dilakukan,” tegas dia.

Saat ini, Indonesia tidak hanya berhadapan dengan upaya menangani Covid-19. Indonesia pada saat yang sama harus memberikan penanganan terbaik kepada mereka yang sudah menjadi korban penyakit yang disebabkan virus corona SARS-Cov-2 itu.

“Karena kita berhadapan dengan makhluk hidup, virus di satu sisi. Di sisi lain ada makhluk hidup yang masih berjuang antara hidup dan mati, pasien-pasien itu harus dipikirkan karena mereka sama sekali tidak peduli puncaknya kapan yang penting dia bisa selamat,” ujar dia.

"Artinya kalau bisa mereka tidak sakit. Kalau sakit tidak berat. Kalau berat tidak meninggal. Itu yang harus kita (lakukan) dan itu harus sekarang. Kita memikirkan puncaknya itu semuanya kan akibat dari yang kita kerjakan sekarang,” imbuhnya.

 

Perbaiki Pendataan

Petugas memantau penyebaran virus corona (COVID-19) di Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Senin (9/3/2020). Pemprov DKI Jakarta menyebut Posko COVID-19 menerima panggilan telepon sebanyak 2.689 terkait virus corona. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Salah satu upaya saat ini yang harus dilakukan oleh masyarakat, sebut dia, yakni mengikuti arahan pemerintah terkait penanganan Covid-19.

Sementara satu contoh langkah yang harus dilakukan pemerintah, yakni memperkuat kapasitas untuk mendeteksi penyebaran Covid-19 juga perbaikan dalam metode pengumpulan data dari seluruh Indonesia.

“Karena saya ingin membantu Pak Yuri misalnya bukan untuk menambah angka yang positif (Covid-19) tapi memang betul-betul apa yang dibutuhkan, artinya kalau memang pasien atau orang membutuhkan pemeriksaan segera mungkin sekarang kita sadari bahwa ada delay dalam pelaporan sampai 5 hari, bahkan ada yang lebih dari seminggu. Itu yang harus kita perbaiki sehingga apa yang dilaporkan Pak Yuri itu adalah angka riil satu atau dua hari delay-nya. kalau bisa betul-betul angka yang nyata,” tandasnya. 

 

Wilfridus Setu Embu/Merdeka.com

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: