EITI Berdampak Positif Terhadap Transparansi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pencegahan Korupsi di Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Sejak 2007 Indonesia telah memulai inisiatif Extractive Industry Transparency Initiative (EITI), yang merupakan standar global bagi transparansi penerimaan negara dari sektor ekstraktif, yang meliputi minyak, gas bumi, mineral, dan batubara. Hingga akhirnya di tahun 2010, ditandatangani Perpres No 26 tahun 2010 oleh Presiden SBY sebagai payung hukum pelaksanaan EITI. Keikutsertaan Indonesia dalam pelaksanaan EITI itu merupakan wujud penerapan good governance dalam industri ekstraktif sekaligus sebagai upaya anti korupsi di Indonesia.

"Transparansi oleh pemerintah dan perusahaan di industri ekstraktif merupakan wujud tata kelola yang baik (good governnance) sehingga dapat meningkatkan investasi dan pembangunan nasional,"ujar Satya Widya Yudha, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) saat menyampaikan keynote speech-nya pada Webinar Series Transparansi Pemanfaatan Sumber Daya Alam kepada Publik Sebagai Upaya Good Governance hari ini, Rabu (7/7).

(Foto:@Kementerian ESDM)
(Foto:@Kementerian ESDM)

Satya menuturkan, EITI telah mendorong Pemerintah dalam menciptakan good governance, akuntablitas publik, perbaikan iklim investasi dan membuka peluang untuk mengakses bantuan internasional. Seiring berjalannya waktu, Indonesia terus meningkatkan partisipasi nya dalam kegiatan EITI International hingga memperoleh predikat Meaningful Progress di tahun 2019.

Implementasi EITI ini, lanjut Satya, telah memberikan akses informasi kepada masyarakat terkait dengan pengelolaan industri ekstraktif di Indonesia. Perbaikan pengelolaan sumber daya alam beserta pelaporannya membawa Kementerian ESDM dalam Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK), meraih kategori terbaik sebagai instansi pemerintah dalam meningkatkan tata kelola pencegahan korupsi.

"Jadi kalau kita melihat, berdasarkan penilaian pada starnas PK ke-7 tahun 2020, kementerian ESDM memiliki skor di atas rata-rata 8,7%. di sektor industri ekstraktif, minyak, gas, mineral dan batubara Indonesia berupaya membuka informasi atau beneficial ownership sesuai dengan surat edaran dirjen minerba,"ujar Satya.

Dengan capaian tersebut, ke depan Satya berharap, pemerintah bersama pelaku usaha dapat saling berkolaborasi dan inovatif untuk terus meningkatkan pengelolaan sumber daya alam dan memanfaatkannya sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

(Foto:@Kementerian ESDM)
(Foto:@Kementerian ESDM)

Sementara itu dalam testimoninya, Ketua Collective Action Initiative Agains Corruption, Erry Riyana Hardjapamekas mengatakan, Indonesia pada tahun 2014 dinyatakan sebagai negara pertama di ASEAN yang dijadikan compliant country atau negara yang patuh pada EITI. Terakhir pada tahun 2019, Indonesia mendapat predikat meaningfull progress country dari hasil validasi yang dilakukan oleh Dewan EITI Internasional.

Erry mengatakan, dalam perjalanannya EITI Indonesia terus berkembang yang pada awalnya hanya mendorong transparansi penerimaan negara berlanjut mendorong perbaikan tata kelola disepanjang rantai nilai industri ekstraktif.

"Ke depan, EITI Indonesia harus bisa naik kelas, tak hanya memproduksi laporan yang berkualitas ataupun mengembangkan portal-portal data dan informasi, namun juga bagaimana bisa menjawab persoalan dan tantangan sektor ini yang kian dinamis dan komplek," tutup Erry.

Pada webinar tersebut, dilakukan penyerahan secara simbolis Laporan EITI Indonesia ke-8 dari Kementerian ESDM, yang diwakili oleh Kepala Pusdatin ESDM Agus Cahyono Adi kepada perwakilan Pemerintah Pusat dan Pemerhati Masyarakat. Webinar juga menghadirkan narasumber dari Kementerian Keuangan, PT Pertamina (Persero), PWYP, Univ. Negeri Yogyakarta dan Pemda Riau. Acara ini diikuti lebih dari 400 peserta dari Kementerian/Lembaga, asosiasi, NGO, badan usaha, akademis dan masyarakat umum.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel