Ekonom berharap KTT G20 hasilkan kesepakatan untuk hadapi gejolak 2023

Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal berharap Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, menghasilkan kesepakatan bersama dalam upaya menghadapi ancaman ketidakpastian ekonomi global pada tahun 2023.

Saat dihubungi Antara di Jakarta, Senin, dia berharap pertemuan ini menghasilkan kesepakatan yang dapat meminimalisasi dampak konflik geopolitik invasi Rusia ke Ukraina, serta dapat meredakan ketegangan antara China dan Amerika Serikat (AS) yang selama ini berlangsung.

“Ketegangan juga terjadi antara China dan Amerika, kita tahu untuk mengatasi isu geopolitik susah, karena di luar kendali kita. Terutama Rusia dan Ukraina, mereka tidak hadir pada KTT G20 ini tapi, paling tidak menyepakati respons terhadap kondisi tersebut apa yang harus dilakukan,” kata Faisal.

Seperti diketahui, Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping telah bertemu secara tatap muka di Bali hari ini, yang merupakan pertemuan pertama sejak tiga tahun lalu sebelum pandemi COVID-19.

Hal senada juga disampaikan peneliti ekonomi The Indonesian Institute (TII) Nuri Resti Chayyani bahwa KTT G20 sudah semestinya menghasilkan kesepakatan yang dapat menjaga perekonomian global di tengah ketidakpastian dan ancaman resesi pada 2023.

“Hasil kesepakatan yang harus diperoleh adalah bagaimana agar menjaga pertumbuhan ekonomi untuk tetap tumbuh dan masih dalam prediksi, di tengah ketidakpastian yang disebabkan oleh invasi Rusia-Ukraina. Hal ini juga agar dapat mengurangi sentimen resesi global yang semakin mendekat,” kata Nuri.

Terkait perdagangan internasional, menurut dia, anggota KTT G20 harus saling percaya satu sama lain dengan saling memenuhi kebutuhan maupun kejelasan prosedur investasi antar anggota G20 untuk menjaga neraca perdagangan.

Dia berharap KTT G20 menghasilkan kesepakatan pemberlakuan pasar bebas dan peningkatan akses ekspor-impor, terutama bagi negara-negara berkembang, seperti Indonesia.

Selain itu, setiap negara anggota KTT G20 harus saling berbagi satu sama lain terkait dengan isu sosial ekonomi yang meliputi masalah ketenagakerjaan, pendidikan, dan pemerataan ekonomi.

Sebagai informasi, forum KTT G20 merepresentasikan lebih dari 80 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, 80 persen investasi dunia, 75 persen perdagangan dunia, dan 66 persen penduduk dunia.


Baca juga: KTT G20 Bali bakal tingkatkan keyakinan untuk pemulihan ekonomi global
Baca juga: Elon Musk: Indonesia punya masa depan yang cerah
Baca juga: Direktur CORE ingin kesepakatan KTT G20 dukung transformasi ekonomi