Ekonom: BSI Jadi Titik Balik Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Ekonom Senior INDEF Iman Sugema, menilai merger 3 bank Syariah Indonesia di masa pandemi covid-19 sangat tepat. Hal itu bisa menjadi titik balik untuk ekonomi Syariah di Indonesia kedepan.

“Ironis sekali kalau kita sebagai negara berpenduduk muslim terbesar itu tidak memiliki bank syariah atau Islamic Banks yang cukup recognized di tataran global itu sangat ironis,” kata Iman dalam Diskusi Online INDEF, Selasa (16/2/2021).

Sebab market Indonesia sangat luas diantara negara-negara berpenduduk muslim di dunia. Sehingga Iman berpendapat, hal itu menjadi sah jika ada keinginan dari pemerintah untuk mendorong Indonesia agar memiliki Islamic Bank yang recognisable secara global.

Lebih lanjut, dilihat dari sisi komparatif, dampak dari covid-19 di Indonesia relatif lebih ringan dibandingkan negara-negara lain. Sehingga inilah kesempatan untuk melakukan positioning bagi perbankan di Indonesia untuk membentuk Bank Syariah Indonesia.

“Tampaknya yang menjadi tujuan utama atau top target Ultimate golnya adalah menjadikan bank syariah Indonesia menjadi top 10 dalam capitalization globalisasi Islamic Banks. Tentunya kita mengerti mengenai positioning akhir dari hal tersebut, hanya saja mungkin nanti perlu kita cermati mengenai implikasi-implikasinya,” jelasnya.

Meskipun di hampir semua negara dan rata-rata terdampak covid-19 jauh lebih berat dibandingkan Indonesia. Sebenarnya ini menjadi kesempatan Pemerintah Indonesia memperkuat sektor perbankan, khususnya perbankan Syariah.

“Karena kita lebih ringan maka kita sebetulnya bisa curi start,artinya kita bisa memicu akselerasi dan melakukan akselerasi dikala bank-bank lain dan negara-negara lain sedang kesulitan, sehingga keuntungan curi start ini hanya bisa diperoleh jika bank hasil merger ini menghimpun kekuatan yang cukup besar untuk lompatan-lompatan ke depan,” ungkapnya.

Lantas lompat-lompatan apa saja yang bisa dilakukan oleh bank syariah Indonesia?

“Tentunya lompatan yang akan paling dirasakan adalah digitalisasi, kita tahu bahwa dengan pandemi ini akselerasi digitalisasi justru menjadi bertambah deras. Intinya Kalau sebuah bank syariah itu masih relatif kecil maka digitalisasi itu menjadi terbatas,” pungkasnya.

OJK: Kehadiran BSI Menjawab Tantangan Pengembangan Ekonomi Syariah Indonesia

Pekerja beraktivitas di kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selasa (2/2/2021). Pada 27 Januari 2021, BSI telah mendapatkan persetujuan dari OJK ditandai dengan keluarnya Salinan Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 4/KDK.03/2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pekerja beraktivitas di kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selasa (2/2/2021). Pada 27 Januari 2021, BSI telah mendapatkan persetujuan dari OJK ditandai dengan keluarnya Salinan Keputusan Dewan Komisioner OJK Nomor 4/KDK.03/2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso membeberkan beragam tantangan dalam mengembangkan ekonomi syariah di Indonesia. Mulai dari market share industri jasa keuangan yang masih rendah, literasi yang minim, hingga sumber daya yang masih terbatas.

Untuk menjawab tantangan tersebut, kehadiran Bank Syariah Indonesia (BSI) dinilai menjawab tantangan pengembangan ekonomi syariah dengan modal dan sumber daya yang kuat.

"Dengan kemampuan permodalan dan sumber daya yang kuat dapat menjadi momentum untuk mengakselerasi perkembangan industri keuangan syariah di Indonesia bahkan untuk eksis di kancah global dan regional," ujar Wimboh dalam keterangannya, ditulis Senin (15/2/2021).

BSI yang merupakan bank hasil merger BNI Syariah, Bank Syariah Mandiri dan BRI Syariah diyakini memiliki infrastruktur yang kuat dan lengkap. Hal ini sangat vital dalam mendukung peningkatan competitiveness dengan skala ekonomi yang lebih besar, cakupan produk yang lebih bervariasi serta market share yang tinggi.

"Infrastruktur tersebut diantaranya kehandalan teknologi informasi, sumber daya manusia yang berkualitas, produk dan layanan yang bervariasi dan berkualitas, serta harga yang murah," tukas Wimboh.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama BSI Hery Gunardi menuturkan, tujuan dibentuknya untuk menjadi bank syariah terbesar, menjadi barometer market di indonesia dan memiliki daya saing global.

"Kami tampil inovatif dengan branding yang beda, lebih universal, friendly dan inklusif tidak hanya non milenial tapi juga milenial. BSI saat ini ranking 7 bank terbesar di Indonesia dan kami punya mimpi 5 thn ke depan masuk 10 besar bank syariah terbesar di dunia," ungkapnya.

Kekuatan BSI

Pekerja menghitung uang di kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selasa (2/2/2021). PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) resmi beroperasi dengan nama baru mulai 1 Februari 2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pekerja menghitung uang di kantor cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta Selasa (2/2/2021). PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) resmi beroperasi dengan nama baru mulai 1 Februari 2021. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Untuk mewujudkan mimpi itu, BSI punya punya aset hampir Rp 240 triliun, DPK Rp 209,9 triliun, modal Rp 21,74 t dan kapitalisasi pasar per 9 Februari 2021 telah mencapai Rp117 triliun.

Di sisi lain, Hery mengungkapkan, sinergi BSI dan bank syariah lain tentu sangat diperlukan karena besarnya potensi ekonomi dan keuangan syariah, penduduk muslim yang besar hingga ratusan juta jiwa, dan potensi industri halal yang jumlahnya mencapai Rp 6.505 triliun.

"Tapi kondisi saat ini nasabah yang baru berbank syariah baru 30 juta penduduk tentu ini gap-nya besar. Kemudian dari sisi industri halal, aset bank syariah juga sangat kecil sekitar Rp 591 triliun. Dan potensi halalnya besar sekali dengan segmen UMKM, retail, mikro, gadai, cicil emas, dan wholesale. Potensi yang besar ini bisa kita gaet di masa yang akan datang," tutur Hery.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: