Ekonom: CBDC dorong pembangunan infrastruktur digital terpadu

Ekonom Universitas Indonesia Haryyadin Mahardika mengatakan mata uang digital atau Central Bank Digital Currency (CBDC) mendorong Bank Indonesia untuk membangun infrastruktur digital yang terpadu.

"Jika nanti masyarakat atau swasta ingin membuat sebuah pembayaran digital, tinggal nempel aja ke infrastruktur CBDC dengan single format yang bersifat universal dan semua orang bisa connect ke situ,” ujarnya saat dihubungi Antara di Jakarta, Selasa.

Haryyadin mencontohkan bahwa saat ini terdapat beberapa, platform e-wallet yang berbeda, yang mengharuskan untuk melakukan integrasi dari awal termasuk membangun infrastruktur masing-masing. Oleh karenanya, melalui CBDC, ia berharap akan mendorong Bank Indonesia selaku regulator untuk membangun infrastruktur yang terpadu.

Selain itu dengan kehadiran CBDC, Haryyadin menilai akan ada regulasi yang jelas mengatur transaksi digital yang saat ini kondisinya masih belum jelas. CBDC, ujarnya, bisa meningkatkan inklusi keuangan dan menghadirkan solusi yang belum bisa dilakukan oleh uang konvensional.

“Begitu membicarakan digital, ini lebih baik bisa memberikan solusi untuk hal yang saat ini belum bisa dilakukan uang konvensional, itu yang sebenarnya ditunggu-tunggu. Atau jangan-jangan hanya sekedar supaya tidak ketinggalan zaman,” katanya.

Kendati demikian, ia menyayangkan Bank Indonesia yang terkesan terburu-buru menyiapkan CBDC dan belum terlalu sering melakukan diskusi publik. Menurutnya Bank Indonesia harus memperhatikan kemungkinan resiko-resiko yang bisa ditimbulkan dari kondisi global seperti konflik geopolitik Rusia dan Ukraina saat ini.

Ia pun mencontohkan jika China yang merupakan salah satu mitra strategis perdagangan Indonesia juga turut membuat uang internasional yang baru dan mengarah kepada CBDC global, dikhawatirkan akan menimbulkan blok baru.

“Pilihannya apakah kita akan membuat aspek CBDC itu universal ke siapapun? Ekosistemnya seperti apa? Apakah seiring dengan pandangan politik atau bagaimana? Karena kita tidak tahu kondisi 10 tahun mendatang akan seperti apa,” tuturnya.

Terkait penerbitan CBDC yang berbasis retail atau wholesale, ia berpendapat kedua jenis CBDC tersebut diperlukan. Jika Bank Indonesia hanya menerbitkan CBDC retail, dikhawatirkan bank sentral tersebut akan kesulitan mengatasi distribusi jika sewaktu-waktu nilai mata uang digital sedang turun. Jika menggunakan CBDC wholesale, bank nantinya akan menjadi distributor dengan value beli yang berbeda dibandingkan retail.

“Kalau cuma retail saja, BI harus mengatur semacam clearing house sendiri yang mengurus distribusi. Jadi ketika nilai turun, dia harus tarik uangnya supaya nilainya enggak turun, kalau kurang supply harus ditambah karena mata uang digital bisa naik turun secara signifikan,” jelasnya.


Baca juga: Ekonom sarankan bank sentral pilih mata uang digital retail
Baca juga: IMF tak sarankan bank komersial bergantung pada CBDC
Baca juga: BI: Desain acuan mata uang digital bank sentral masih belum selesai

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel