Ekonom: Hilirisasi industri untuk jaga kinerja neraca perdagangan

Ekonom Bank Danamon Irman Faiz mengatakan pemerintah perlu terus mendorong upaya hilirisasi industri untuk menjaga kinerja neraca perdagangan nasional di tengah ancaman perlambatan ekonomi global pada tahun depan.

Saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Selasa, ia menjelaskan hilirisasi industri adalah meningkatkan nilai tambah produk hasil olahan di dalam negeri sebelum di ekspor ke berbagai negara.

Dengan itu, Indonesia tidak akan bergantung lagi dari ekspor komoditas (bahan mentah) yang nilai tambahnya kecil di pasar internasional.

“Ekspor- ekspor manufaktur dan barang-barang yang diproses harus ditingkatkan agar tidak terlalu tergantung pada komoditas,” kata Irman.

Dia mengatakan para pemangku kepentingan harus mendorong upaya hilirisasi industri ini sebagai transformasi struktural, serta melanjutkan program yang sudah berjalan, seperti hilirisasi industri nikel.

“Misalnya hilirisasi industri nikel dan bauksit,” kata Irman.

Sebagaimana diketahui, pemerintah menetapkan pelarangan ekspor bijih nikel, yang dibarengi dengan pembangunan smelter sebagai upaya hilirisasi industri nikel di Tanah Air.

Dia mengatakan program hilirisasi industri dapat menjaga kinerja neraca perdagangan nasional ke depan yang berpotensi mengecil, seiring dengan perlambatan ekonomi global pada tahun 2023.

Namun, dia memastikan pertumbuhan ekspor nasional tetap akan positif pada tahun depan, atau tidak menurun seperti periode krisis yang pernah terjadi sebelumnya.

“Mengecilnya surplus tersebut diiringi perbaikan ekonomi domestik,” kata Irman.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia surplus 5,67 miliar dolar AS pada Oktober 2022, dengan nilai ekspor 24,81 miliar dolar AS dan impor 19,14 miliar dolar AS.


Baca juga: Jokowi sebut negara berkembang terus perjuangkan hak untuk hilirisasi
Baca juga: Bahlil ungkap rencana hilirisasi gas dan pangan
Baca juga: Wamenkeu : Hilirisasi industri bakal dorong ekonomi domestik