Ekonom Indef Proyeksikan Ekonomi RI 2021 Cuma Tumbuh 3 Persen

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini mengungkapkan catatan awal kondisi 2021. Dia menilai ada masalah berat dalam kebijakan pemerintah mengatasi pandemi COVID-19, yang akan berdampak krusial bagi ekonomi nasional.

Didik mengatakan, pada dasarnya ekonomi Indonesia sudah mulai berjalan dengan baik. Ditandai dengan kontraksi ekonomi yang mulai mengecil sejak kuartal III-2020 sebesar minus 3,49 persen dari kuartal II-2020 yang jatuh hingga minus 5,32 persen secara tahunan.

Baca juga: Bank Indonesia Rombak 135 Ketentuan Sistem Pembayaran

"Pertumbuhan negatif yang semakin kecil memberikan indikasi bahwa perekonomian berjalan lebih baik, tetapi bukan berarti sudah terjadi proses pemulihan menuju pertumbuhan positif," kata Didik dikutip dari keterangannya, Jumat, 8 Januari 2021.

Meski kondisi itu mulai membaik, akar masalah dan asal muasal dari resesi serta krisis ekonomi Indonesia, menurutnya, belum juga membaik. Yaitu pandemi COVID-19 yang juga tidak surut penyebarannya, bahkan kasus positif harian hampir tembus 10 ribu.

"Belum ada tanda-tanda menurun, sementara itu negara lain sudah memperlihatkan tanda-tanda penurunan relatif lebih rendah dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Dibandingkan dengan negara-negara tetangga dan negara-negara ASEAN, kebijakan dalam mengatasi COVID-19 ini tertinggal dan gagal," tutur dia.

Jika COVID-19 tidak bisa diatasi, ditegaskannya pemerintah jangan bermimpi bisa mengatasi resesi. Sebab, tidak ada pertumbuhan ekonomi tanpa mengatasi pandemi, sehingga proses pemulihan ekonomi akan jauh lebih sulit dan resesi diperkirakan akan berkepanjangan jika wabah terus naik seperti sekarang.

"Pemerintah optimis sekali memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 4-5 persen. Perkiraan pertumbuhan ini tidak berdasar pada fakta yang sebenarnya dari perkembangan COVID-19 yang buruk dan kapasitas kebijakan pemerintah yang rendah," tutur dia.

Dengan memperhatikan data penyebaran COVID-19 yang ada saat ini, terutama dengan pecah rekornya kasus positif COVID-19 harian pada 7 Januari 2021 yang bertambah 9.321 kasus, dia memperkirakan ekonomi RI 2021 hanya tumbuh 3 persen.

Dia pun mengungkapkan alasan perkiraan pertumbuhan ekonomi yang lebih realistis. Antara lain belanja domestik kelas menengah sebagai motor penggerak ekonomi belum maksimal karena kasus harian COVID-19 yang belum mereda, bahkan memburuk.

Pada sisi pemerintah, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menyerap anggaran yang besar tetapi efektivitas dan penyerapannya tidak maksimal. Bahkan dianggapnya terjebak dalam kasus korupsi yang buruk.

Kemudian, dari sisi belanja kesehatan dan belanja sosial justru diturunkan pada 2021. Hal ini ditekankannya akan memberikan dampak pada permintaan domestik yang terkendala oleh efektivitas program kesehatan dan belanja pemerintah di sektor ini.

Di sisi lain, kredit perbankan ditegaskan Didik masih lemah sekaligus sebagai indikasi pertumbuhan rendah. Sementara itu, proses vaksinasi sudah mulai dijalankan tetapi masih terbatas dan dampaknya dikatakan Didik tidak pada 2021.

"Dari perkembangan COVID-19 yang buruk dan kapasitas kebijakan pemerintah yang rendah, karena itu pertumbuhan ekonomi tahun 2021 diperkirakan hanya sebesar 3 persen, kecuali ada perubahan kebijakan yang lebih baik dalam mengatasi pandemi," tuturnya.