Ekonom: Investor domestik peroleh momentum "capital gain" di SBN

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede mengatakan keluarnya modal asing dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) menjadi momentum bagi investor domestik masuk ke pasar itu untuk meningkatkan keuntungan atau opportunity capital gain.

£Di tengah keluarnya dana asing atau investor asing justru menjadi momentum supaya kita bisa mendapatkan capital gain yang lebih baik lagi untuk investor domestik," kata Josua saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Kamis.

Josua mengatakan investor domestik harus mengambil momentum seiring dengan membaiknya kondisi fiskal dan fundamental ekonomi Indonesia daripada ikut menarik modal dari pasar SBN.

Baca juga: Sri Mulyani: Pembiayaan utang APBN semester I turun 56,9 persen

"Jangan sampai ikut-ikutan, pada saat investor asing keluar justru investor domestik ya mengambil opportunity itu semestinya," ujar Josua.

Josua mengatakan investor domestik khususnya asuransi dan dana pensiun tercatat sudah mengalami peningkatan dalam kepemilikan SBN pada 2022. Kepemilikan SBN oleh sektor ini sebesar 15,85 persen pada Juni 2022 dari yang sebelumnya 14,00 persen pada Desember 2021.

"Pada saat harganya lagi turun seperti sekarang ini, ya investor domestik malah masuk,” ujar Josua.

Josua menjelaskan keluarnya modal asing ada kemungkinan salah satunya disebabkan oleh perspektif investor asing dalam melihat perbedaan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) dan The Fed.

Baca juga: Pengamat sarankan BI naikan suku bunga cegah investor asing keluar SBN

Namun, menurut dia, kondisi ini bisa juga terjadi karena investor asing melihat pada sektor konsumsi yang akan terdorong sentimen positif atau negatif.

“Koreksi yang terjadi saat ini di pasar saham ataupun obligasi ini karena faktor sentimen,” ujar Josua.

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan Juli 2022 mengatakan aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik hingga 19 Juli 2022 mencapai 2 miliar dolar AS sejalan dengan ketidakpastian global yang semakin meninggi.

Baca juga: BI: Penyesuaian bertahap GWM rupiah serap likuiditas Rp219 triliun

Baca juga: Pengamat: Ekonomi pulih, saatnya investor milenial masuk ke pasar SBN

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel