Ekonom: Kebijakan fiskal dan moneter yang tepat redam gejolak global

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kebijakan fiskal dan moneter yang tepat dapat meredam gejolak ketidakpastian ekonomi yang sedang terjadi di tingkat global.

“Arahnya lebih ke stabilitas, baik dari sisi fiskal maupun moneter. Karena menghadapi ketidakpastian yang masih ada, dari masih berlanjutnya normalisasi kebijakan moneter dan fiskal secara global,” ujar Josua saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan pemerintah dari sisi fiskal melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dapat memberikan bantalan sosial (bansos) lagi, apabila terjadi goncangan baru yang berasal dari ketidakpastian di tingkat global.

Dia melanjutkan perlu adanya perluasan ruang fiskal agar pemerintah dalam melakukan belanja dapat lebih tepat sasaran, yakni dengan mendahulukan yang prioritasnya besar dan tinggi .

Menurut dia, bansos juga harus diberikan kepada kelompok desil 5-6 atau berpenghasilan menengah, karena mereka juga terdampak akibat krisis pangan maupun energi yang terjadi di tingkat global.

“Potensi penurunan konsumsi akan tetap ada, untuk yang menengah (desil 5-6) pastinya akan mengurangi belanja lainnya, atau dia menggunakan tabungannya,” kata Josua.

Sementara, dari sisi moneter, Josua menyebut otoritas moneter dapat menaikkan suku bunga lagi untuk menjaga tingkat inflasi domestik, khususnya inflasi inti yang ditargetkan kembali di bawah 4 persen pada tahun depan.

“Inflasi inti inilah yang merupakan acuan atau indikator yang terus dipantau oleh Bank Indonesia (BI), dan ini menjadi acuan suku bunga ke depannya,” kata Josua.

Dalam kesempatan ini, dia mengatakan para pemangku kepentingan dalam menetapkan kebijakan juga harus memperhatikan dampaknya ke pelaku usaha, baik usaha besar maupun Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Menurut dia, para pelaku usaha harus diberikan kemudahan dalam menjangkau pembiayaan dari lembaga keuangan karena berkat mereka perekonomian nasional dapat terus bergerak.

Seperti diketahui, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan perekonomian global sedang dihadapkan pada ketidakpastian yang diperkirakan akan berlanjut hingga tahun depan. Dia menyebut terdapat tiga area krisis yang sedang dihadapi saat ini, yakni pangan, energi, dan utang.