Ekonom nilai pandemi buat UMKM mampu adopsi transformasi digital

·Bacaan 2 menit

Ekonom senior sekaligus Founder CORE Indonesia Hendri Saparini menilai kondisi pandemi Covid-19 telah membuat para pelaku UMKM mampu mengadopsi transformasi digital sejalan dengan perubahan perilaku konsumen yang terjadi.

Hal itu disampaikan Hendri terkait riset bertajuk "Dampak Sosial dan Ekonomi OVO terhadap UMKM" yang dilakukan CORE Indonesia terhadap 2.001 UMKM secara tatap muka dan daring di 8 provinsi dan 12 kota, di mana sebanyak 91 persen UMKM telah berhasil terhubung dalam ekosistem OVO.

"Kita tahu semua orang sepakat bahwa perilaku konsumen saat pandemi pasti berubah. Dalam survei itu, ternyata perilaku dari pelaku usahanya juga berubah," katanya dalam Webinar UMKM Merdeka yang digelar secara daring dan dipantau dari Jakarta, Kamis.

Baca juga: Kominfo dorong implementasi proyek transformasi digital

Menurut Hendri, banyaknya pelaku UMKM yang ikut mengadopsi digitalisasi menepis kekhawatiran soal transformasi digital yang tengah digalakkan pemerintah.

"Artinya tidak perlu ada kekhawatiran bahwa transformasi yang terjadi, perubahan yang terjadi di sisi konsumen tidak diikuti oleh mereka para pelaku usaha (UMKM). Ternyata mereka melakukan itu, artinya mereka dengan cepat adopsi itu," katanya.

Hendri mengakui adanya education gap di Indonesia karena masih banyaknya masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah. Namun, menurut dia, mereka yang berpendidikan rendah pun ternyata mengalami literasi atau inklusi keuangan selama pandemi.

Baca juga: Pemerintah optimalisasi produktivitas ekonomi digital

"Artinya, mereka yang pendidikan rendah pun, mereka jadi kenal tabungan, transaksi, transfer, pinjaman. Ternyata diawali digitalisasi dengan pembayaran ini, menjadikan peluang-peluang tersebut bisa dilakukan," ujarnya.

Dalam survei tersebut, terungkap bahwa sebanyak 70 persen UMKM mitra OVO rata-rata mengalami peningkatan transaksi harian hingga 30 persen.

Sebanyak 68 persen UMKM juga mengalami kenaikan pendapatan bulanan hingga 27 persen.

Dalam survei tersebut, pembayaran digital OVO juga telah berhasil mendongkrak pendapatan UMKM selama pandemi. Aplikasi tersebut telah berhasil menghubungkan 91 persen UMKM ke dalam ekosistemnya. Ekosistem di aplikasi itu juga tercatat memberikan kontribusi hingga 18 persen terhadap total penjualan UMKM.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Samuel Abrijani Pangarepan mengatakan untuk mendorong pemanfaatan transformasi digital, pemerintah telah menggelar sejumlah program diantaranya UMKM Go Online hingga Gernas Literasi Digital.

"Tidak hanya sekadar meng-onboard-kan, kita juga mendorong penjualan mereka. Penjualan bisa meningkat kalau punya akses sistem pembayaran yang mudah. Maka, sistem pembayaran elektronik ini hadir untuk ikut membangun ekosistem yang kuat," tuturnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel