Ekonom Prediksi Yield Obligasi Pemerintah Turun di Kuartal IV 2020

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Ekonom Bank CIMB Niaga Adrian Panggabean memperkirakan rata-rata yield obligasi 10 tahun pemerintah pada kuartal IV-2020 turun dari perkiraan.

Yield obligasi akan turun ke kisaran 6,25 persen dari perkiraan sebelumnya 6,75 persen. Sehingga estimasi yield obligasi 10 tahun di tahun 2020 direvisi turun menjadi 6,9 persen dari sebelumnya 7,1 persen.

"Kami memperkirakan rata-rata yield obligasi 10 tahun pemerintah Indonesia akan turun ke kisaran 6,25 persen di kuartal empat 2020 dari perkiraan sebelumnya di kisaran 6,75 persen," kata Adrian kepada wartawan, Jakarta, Rabu (28/10).

Adrian menerangkan kondisi ini dipicu karena selisih yield obligasi pemerintah Indonesia dan obligasi Amerika Serikat yang lebih tebal di tahun 2020 dibandingkan dengan 2021. Nilai tukar USD/IDR juga lebih stabil sejak bulan Juli dibandingkan dengan periode Maret–Juni.

Selain itu neraca transaksi berjalan Indonesia membaik. Beberapa faktor yang mendukung yakni penguatan pasar obligasi dalam negeri. Neraca transaksi berjalan diperkirakan akan defisit 0,5 persen dari PDB di tahun 2020. Lebih baik dari estimasi sebelumnya yaitu defisit 1,6 persen dari PDB.

Saat ini selisih yield obligasi 10 tahun pemerintah Indonesia dan AS yakni 580 bps (INDOGB 10Y = 6,65 persen; USGG 10Y = 0,85 persen). Selisih ini masih lebih tebal dibandingkan rata-rata selisih yield di tahun 2019 yang sekitar 540 bps (INDOGB 10Y = 7,55 persen; USGG 10Y = 2,15 persen).

Lainnya,standar deviasi kurs USD/IDR turun menjadi sekitar 140 pips antara Juli – Oktober dari sebelumnya 820 pips antara Maret – Juni. Surplus neraca perdagangan barang mencapai USD 13,5 miliar di periode Januari – September 2020. Jauh lebih baik dibandingkan dengan defisit USD 2,2 miliar di periode yang sama tahun 2019.

Adrian menjelaskan, perkembangan ini mengingatkan pada fakta dalam rentang waktu 2009 – 2019, selalu terjadi arus dana asing masuk neto antara Rp 30 triliun sampai Rp 140 triliun per tahun. Dana asing ini masuk ke pasar obligasi negara dengan rata-rata sekitar Rp 85 triliun per tahun.

Artinya, jika arus dana asing di tahun 2020 ini (hingga tanggal 23 Oktober) tercatat keluar Rp 109,5 triliun, maka ada kemungkinan akan ada arus dana asing masuk sebesar IDR 140 triliun. Kemungkinan hal ini terjadi dalam waktu dua bulan kedepan atau setara dengan USD 10 miliar.

"Perkiraan ini tampaknya bombastis tetapi didukung oleh data historis," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Waskita Karya Lunasi Obligasi Rp 1,15 Triliun

Gedung PT Waskita Karya (Persero) Tbk (dok: WSKT)
Gedung PT Waskita Karya (Persero) Tbk (dok: WSKT)

PT Waskita Karya (Persero) Tbk (Kode Saham : WSKT) telah melunasi obligasi sebesar Rp 1,15 triliun yang jatuh tempo pada tanggal 16 Oktober 2020.

Senior Vice President Corporate Secretary Waskita Karya, Ratna Ningrum, menyebut bahwa dana pelunasan telah efektif masuk ke Kustodian Sentral Efek Indonesia pada Kamis (15/10) siang.

“Dana sudah kami sampaikan ke KSEI dan sudah efektif untuk dapat didistribusikan kepada para pemegang obligasi," terang Ratna kepada wartawan, Jumat (16/10/2020).

Adapun obligasi jatuh tempo yang dimaksud adalah Obligasi Berkelanjutan I Tahap II Tahun 2015 Seri B senilai Rp 1,15 triliun. Obligasi bertenor 5 tahun tersebut memiliki tingkat bunga sebesar 11,10 persen serta mendapatkan peringkat idBBB+ dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).

Transaksi tersebut menjadi pelunasan obligasi kedua untuk Waskita selama bulan Oktober 2020. Pada tanggal 6 Oktober, Waskita telah terlebih dahulu melunasi obligasi senilai Rp 1,37 Triliun, sehingga total pelunasan obligasi Waskita pada Oktober adalah sebesar Rp 2,52 triliun. Sebelumnya Ratna menjelaskan bahwa seluruh pelunasan obligasi tersebut menggunakan dana yang berasal dari kas internal perusahaan dan juga fasilitas perbankan.

Setelah sukses dalam pelunasan obligasi, Waskita Karya juga tengah fokus dalam mengejar target kinerja diantaranya perolehan Nilai Kontrak Baru. Hingga 30 September, Emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 19 Desember 2012 itu telah mencatatkan perolehan nilai kontrak baru sebesar Rp12,2 Triliun. Pencapaian tersebut masih ditopang oleh proyek-proyek infrastruktur konektivitas dan pengairan.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: