Ekonom UI: Biden menang, kesepakatan dagang mungkin bahas dari awal

Faisal Yunianto
·Bacaan 2 menit

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menilai jika Joe Biden memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS), Indonesia mungkin harus memulai dari awal pembahasan kesepakatan perdagangan yang telah disepakati di bawah Presiden Donald Trump.

Menurut Fithra, komitmen kesepakatan dagang Indonesia dengan AS di bawah Presiden Donald Trump sudah jauh lebih dalam. Hal itu juga dibuktikan dengan diperpanjangnya fasilitas GSP oleh AS hingga rencana negosiasi kesepakatan dagang terbatas (LTD).

"Kalau misal Biden yang menang mungkin kita harus memulai pembicaraan lagi dari awal. Tapi Biden pun akan melihat Indonesia penting dan saya rasa ini masalah negosiasi saja," katanya saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Fithra menuturkan kunci utama perdagangan dan ekonomi internasional adalah soal kemampuan negosiasi. Indonesia, dalam dua tahun ke belakang dinilai sudah sangat maju terkait negosiasi tersebut. Terutama sejak Indonesia memenangkan gugatan sengketa kertas di WTO pada 2019 dan diperpanjangnya fasilitas GSP oleh AS.

Dengan prestasi tersebut, meski harus mulai kembali negosiasi perdagangan, ia menilai hal itu akan tetap bisa ditangani dengan baik oleh Indonesia.

"Itu prestasi kerja tim negosiator kita. Jadi saya rasa siapapun yang terpilih, Biden pun juga akan bisa membuka kerangka negosiasi tersebut," katanya.

Baik Joe Biden dan Donald Trump dinilai memiliki pendekatan kebijakan perdagangan dan ekonomi yang berbeda. Pendekatan Biden dari Partai Demokrat lebih regional dan asertif sementara Trump dari Partai Republik lebih bilateral dan agresif.

Perang dagang yang terjadi dengan China juga merupakan salah satu hasil kebijakan AS di bawah Trump yang kesal karena neraca perdagangan AS yang selalu defisit dengan China. Ia mengenakan bea masuk impor yang tinggi terhadap negeri tirai bambu sebagai langkah proteksionisme.

Sebaliknya, salah satu kebijakan Partai Demokrat untuk mengurangi pengaruh China yang besar bagi AS yakni dengan menggulirkan Kemitraan Trans Pasifik (TPP). Kebijakan TPP menjadi bagian usaha mantan Presiden Barrack Obama--di mana kala itu Biden menjadi wakilnya--untuk melakukan penetrasi ke pasar Asia dan ASEAN.

Baca juga: Indonesia penting bagi siapapun pemenang Pilpres AS, ini alasannya
Baca juga: Mendag: RI tetap dapat fasilitas GSP Amerika Serikat
Baca juga: Dubes: GSP pintu masuk kesepakatan perdagangan terbatas Indonesia-AS