Ekonom Unair Prediksi Ekonomi RI Membaik pada Kuartal IV 2020

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Konsumsi masyarakat terutama menengah atas diharapkan meningkat sehingga dapat dongkrak pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2020. Hingga akhir 2020, pertumbuhan ekonomi diprediksi capai 0-1 persen.

Pengamat ekonomi Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo menuturkan,konsumsi rumah tangga minus 4,04 persen pada kuartal III 2020. Ia menilai, masyarakat terutama menengah atas belum menggenjot konsumsinya sehingga diharapkan konsumsi meningkat pada kuartal IV.

"Masyarakat menengah atas banyak likuidnya, diharapkan tidak hanya simpan di bank, tetapi juga konsumsi,” ujar dia, saat dihubungi Liputan6.com, ditulis Jumat, (6/11/2020).

Wisnu menambahkan, harapan vaksinasi juga menjadi sentimen positif pada kuartal IV 2020. Selain itu, Wisnu mengatakan, investasi juga diharapkan meningkat seiring Undang-Undang (UU) Cipta Kerja sudah diteken oleh DPR dan Presiden Jokowi.

"Ini menjadi tantangan pemerintah untuk membuktikan UU Cipta Kerja itu dapat mendorong investasi masuk. Kalau iya, ini berdampak positif untuk ekonomi. Ini menjadi modal untuk optimalkan ekonomi," kata dia.

Wisnu menuturkan, ekonomi Indonesia kuartal IV juga diharapkan dari potensi ekspor yang meningkat. Selain itu, sektor pariwisata juga diperkirakan tumbuh pada kuartal IV 2020.

Wisnu menuturkan, hotel sudah mulai menerapkan adaptasi baru dan libur panjang akhir Oktober 2020 yang dimanfaatkan berwisata oleh masyarakat sebagai indikator momentum untuk meningkatkan ekonomi optimal.

Dengan melihat kondisi itu, Wisnu prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa capai 0-1 persen pada 2020. “Pencapaian ekonomi itu sudah bagus. Ekonomi akan berangsur meningkat. Pada 2021, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 3-4 persen,” ujar dia.

Indonesia masuk resesi dengan alami kontraksi atau tumbuh negatif 3,4 persen pada kuartal III 2020 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Sebelumnya Indonesia alami kontraksi 5,23 persen pada kuartal II 2020. Indonesia masuk jurang resesi sejak 1999. Pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 2,03 persen selama Januari-September 2020.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Ekonom: Resesi Bukan Akhir Segalanya

Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 mendatang tidak jauh berbeda dari tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Pekerja tengah mengerjakan proyek pembangunan gedung bertingkat di Jakarta, Sabtu (15/12). Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2019 mendatang tidak jauh berbeda dari tahun ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Wisnu menuturkan, meski Indonesia masuk resesi tetapi bukan akhir segalanya. Wisnu melihat ekonomi Indonesia perlahan tumbuh pada kuartal III 2020. Hal ini seiring adaptasi kebiasan baru yang diberlakukan dan membuka akses distribusi logistik sehingga meningkatkan peluang operasi sektor usaha.

"Sektor manufaktur, perdagangan mulai bergerak, demikian juga pariwisata,” tutur dia.

Wisnu menambahkan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen secara kuartalan pada kuartal III 2020. Dengan pertumbuhan ekonomi secara kuartalan yang positif itu, Wisnu optimistis kondisi pertumbuhan ekonomi akan membaik pada kuartal IV 2020.

"Kita sedang dalam proses pemulihan ekonomi membaik. Sektor perdagangan pada kuartal dua minus 7,57 persen sekarang 5,02 persen. Lapangan usaha dibandingkan kuartal sebelumnya ada perbaikan meski negatif. Minus 6,91 persen menjadi minus 3,1 persen, industri mulai bergerak," tutur dia.

Selain itu, Wisnu mengatakan, sektor konstruksi dari minus 5,39 persen menjadi minus 4,5 persen. Demikian juga sektor pergudangan mulai membaik.

"Investasi juga tren meningkat dengan minus 6,48 persen dari sebelumnya minus 8,61 persen. Konsumsi masyarakat juga meningkat dari minus 5,52 persen jadi minus 4,04 persen,” ujar dia.

Wisnu juga mengakui kalau memang ekonomi sejumlah negara masih belum baik seiring kasus COVID-19. Hal ini berdampak terhadap ekspor dan impor. Meski demikian, ia optimistis kondisi ekonomi Indonesia perlahan membaik.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini