Ekonomi China Diprediksi Melesat 8,5% di Tahun Ular Air

Liputan6.com, Beijing : Optimisme ekonomi dunia yang diperkirakan akan membaik pada 2013, juga diproyeksikan oleh pemerintah China. Negeri Tirai Bambu bakal bersiap mencicipi pertumbuhan ekonomi di tahun Ular Air, setelah merasakan jatuh bangun pada tahun lalu.

Berdasarkan data resmi yang dirilis pemerintah China, pada periode Desember 2012, perdagangan ekspor naik 14,1% dibanding tahun lalu. Padahal di November, ekspor China hanya 2,9%. Sedangkan impor tumbuh 6% alias stagnan.

"Target pertumbuhan ekonomi China akan ditopang stabilnya ekonomi dunia, karena pemerintah bakal mengambil kebijakan-kebijakan untuk menggerakkan kembali perekonomian dunia," kata para analis seperti dilansir dalam situs China Daily, Senin (14/1/2013).

Kepala Ekonom dari Bank of Communications, memprediksi, pertumbuhan ekonomi China tahun ini akan jauh lebih cepat 8,5%, dari sekitar 7,8% di 2012. Perbaikan ekonomi dunia dapat mendongkrak nilai ekspor di 2013.

"Proyek-proyek infrastruktur dari pemerintah tumbuh sangat cepat dalam beberapa bulan terakhir dan ini dapat dijadikan momentum reformasi ekonomi China," ungkapnya.

 

Pemerintah China telah sepakat membangun infrastruktur jalan, pelabuhan, rel kereta api dan jaringan pembuangan limbah di semester II 2012 lalu. Total investasi yang tercatat itu lebih dari 5 triliun yuan atau sekitar US$ 795 miliar.

Lian menuturkan, pada 2013, investasi aset tetap mampu meningkat 23% dari periode sebelumnya sebesar 21%. Pemerintah daerah juga akan mendorong program urbanisasi demi memperkuat permintaan investasi di tahun ini.

"Pemotongan pajak struktural dan distribusi pendapatan akan menaikkan lebih banyak konsumsi domestik," tutur Lian.

Dia menghimbau, agar pemerintah China lebih berhati-hati dalam pembangunan infrastruktur agar tidak menyedot investasi bodong.

Senada dengan Lian, Ekonom Seniot di Bank Pembangunan Asia, Zhuang Jian juga memproyeksikan performa ekonomi China di 2013 akan lebih baik dibanding tahun 2012.

"Yang perlu diingat, ketidakpastian pulihnya ekonomi dunia menyebabkan perdagangan eskpor masih ketar ketir. Begitupula dengan tekanan inflasi yang tinggi," pungkasnya. (FIK/NDW)