Ekonomi China Hingga Jepang Tertekan Imbas Kenaikan Suku Bunga The Fed

Merdeka.com - Merdeka.com - Dunia saat ini sedang mengalami ketidakpastian global yang menghantui perekonomian setiap negara. Ancaman resesi ekonomi global sudah menghantui di mana banyak negara-negara yang inflasinya sangat meningkat tajam.

Inflasi di negara-negara maju yang sebelumnya selalu single digit atau mendekati 0 persen dalam 40 tahun terakhir, sekarang melonjak mencapai double digit. Bahkan inflasi di Turki mencapai 80,2 persen dan di Argentina mencapai 78,5 persen.

Dikutip CNN, dalam sebuah laporan dari sebuah badan PBB memperingatkan bahwa tindakan The Fed yang menaikkan suku bunga acuan kemudian disambut dengan kenaikan bank sentral lainnya, itu akan berisiko mendorong ekonomi global ke dalam resesi.

China, merupakan negara kedua dengan ekonomi terbesar di dunia, terlihat nilai tukar mata uang yuan terhadap dollar yakni USD 0,14 atau setara dengan Rp 2133,41. Ini merupakan rekor terendah bagi China dalam perdagangan internasional.

Sedangkan Jepang, yang merupakan ekonomi terbesar ketiga di dunia, juga mengalami nasib yang lebih buruk. Nilai tukar mata uang Yen telah jatuh tahun ini sebesar 26 persen, yakni penurunan terbesar di antara semua mata uang asia. Sementara di Asia Selatan, Rupee India juga merosot ke rekor terendah.

Beberapa analis keuangan khawatir akan situasi yang tidak terkendali ketika tekanan kuat pada mata uang utama Asia berlanjut itu dapat menyebabkan krisis keuangan di kawasan asia.

"Lingkungan dolar yang kuat telah menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana Asia akan terpengaruh dan apakah ini akan memicu krisis keuangan lain," ujar kepala ekonom Asia Morgan Stanley Chetan Ahya, dikutip dari CNN, Kamis (6/10).

Kementerian Keuangan Jepang mengungkapkan pekan lalu bahwa mereka menghabiskan hampir USD20 miliar pada bulan September untuk memperlambat penurunan yen dalam intervensi pertama untuk menopang mata uang sejak 1998.

Bank sentral India sejauh ini telah menggunakan hampir USD75 miliar untuk mengurangi volatilitas rupee ke dolar, Menteri keuangan India Nirmala Sitharaman mengatakan pada sebuah acara pekan lalu.

Sementara China belum mengungkapkan angka apa pun, People's Bank of China memperingatkan pedagang yuan pekan lalu bahwa mereka akan kehilangan uang dalam jangka panjang jika mereka bertaruh melawan mata uang.

Pada tahun 1997 krisis ekonomi pernah dipicu di kawasan Asia yakni disebabkan oleh devaluasi mata uang Thailand yaitu baht. krisis yang terjadi menyebabkan pelarian modal besar-besaran dan turbulensi pasar saham. Kekacauan itu menyebabkan resesi mendalam di kawasan itu membuat perusahaan bangkrut dan menggulingkan pemerintah,

Namun, walaupun investor saat ini masih mengkhawatirkan hal tersebut terulang kembali di tahun ini, mereka tidak begitu panik, karena ekonomi Asia walaupun melemah namun dalam posisi yang jauh lebih baik untuk mempertahankan mata uang mereka dari pada saat itu.

Tekanan pada mata uang begitu kuat sehingga Thailand akhirnya kehabisan cadangannya untuk mempertahankan patok dolarnya. Thailand menyerahkan nilai tukar tetapnya dan mendevaluasi baht relatif terhadap dolar, memicu serangkaian devaluasi mata uang di wilayah tersebut.

Saat ini, ketika dunia menuju resesi global, beberapa faktor yang sama muncul lagi, termasuk pengetatan Fed yang agresif untuk menahan inflasi. "Lingkungan eksternal untuk Asia telah menjadi lebih menantang dalam konteks tantangan inflasi yang meluas dan laju pengetatan moneter yang hampir sinkron dan tajam," kata analis Morgan Stanley. [azz]