Ekonomi China Meroket Bikin Rupiah Perkasa, Begini Penjelasannya

Raden Jihad Akbar, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menguat pada perdagangan awal pekan ini, Senin, 19 April 2021. Rupiah kembali bergerak di kisaran Rp14.500 setelah pekan lalu bergerak di posisi Rp14.600

Pada pembukaan perdagangan hari ini di pasar spot, rupiah telah ditransaksikan di level Rp14.535 per dolar AS. Menguat hingga 0,20 persen dari level penutupan perdagangan akhir pekan lalu Rp14.565.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) terakhir mematok nilai tengah rupiah pada akhir pekan lalu di level Rp14.592 per dolar AS. Menguat dari hari sebelumnya Rp14.646.

Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menjelaskan, sentimen positif pelaku pasar keuangan hari ini berkaitan dengan tumbuh pesatnya perekonomian China pada kuartal I-2021.

Baca juga: Angin Segar dari China Bakal Dongkrak IHSG Pekan ini

"Tumbuh hingga 18,3 persen disaat hantaman pandemi COVID-19 yang belum usai, akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ini merupakan sinyal positif," kata dia dikutip dari analisisnya.

Menurut Ibrahim, cepatnya pertumbuhan ekonomi China ini akan memicu pemulihan ekonomi di dalam negeri bergerak juga lebih cepat. bahkan perkiraan pertumbuhan kuartal II-2021 7 persen bisa terealisasi.

"Sebagai kalkulasi saja, setiap pertumbuhan ekonomi China 1 persen akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,05 persen. Dengan demikian dampak dari pertumbuhan ekonomi China akan terasa pada kuartal II dan III 2021," paparnya.

Selain itu korelasi ini dikatakannya bisa dilihat dari sisi kontribusi ekspor Indonesia ke China sebesar 21 persen per Maret 2021. Lebih tinggi kontribusinya dari pada sebelum COVID-19 melanda dunia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor nonmigas Indonesia ke China tercatat sebesar US$3,73 miliar per Maret 2021. Angka itu naik dari posisi Februari 2021 yang sebesar US$2,95 miliar.

Dengan sentimen tersebut, Ibrahim memperkirakan, mata uang rupiah kemungkinan masih akan bergerak berfluktuasi namun ditutup menguat di rentang Rp.14.545-14.600 per dolar Amerika Serikat.