Ekonomi Digital Indonesia Berpotensi Capai USD 124 Miliar di 2025

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyebut ekonomi digital Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Bahkan berdasarkan studi dari Google, Temasek dan Bain & Company ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD124 miliar di 2025.

“Dari 44 miliar dolar AS (pada 2020) bisa meningkat menjadi 124 miliar dolar AS ini adalah sesuatu potensi yang luar biasa. Artinya tiga kali lipat potensi ekonomi bisa meningkat dengan adanya infrastruktur digital,” katanya dalam acara Perempuan Penggerak Ekonomi di Masa Pandemi, Jumat (23/4/2021).

Bendahara Negara itu mengatakan, potensi yang mencapai sebesar USD124 miliar itu dapat diraih apabila Indonesia mampu membangun infrastruktur digital dan mengembangkan ekonomi digital sendiri.

Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong pembangunan infrastruktur digital terutama dengan adanya pandemi Covid-19 karena seluruh kegiatan masyarakat pindah kepada platform digital.

Adapun untuk mendorong pemenuhan kebutuhan internet di wilayah Indonesia, tahun ini pemerintah berencana membangun menara Base Transceiver Station (BTS) atau menara pengirim sinyal di 5.053 desa.

Pemerintah juga menargetkan akan membuka akses internet di 12.077 titik tahun ini. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga akan memberikan literasi digital bagi 295.000 orang.

“Maka pemerintah pada 2021 menyediakan anggaran meningkat yang cukup signifikan,” ujar Sri Mulyani.

Sebelumnya pada 2016, pemerintah juga sudah menandatangi kerja sama Palapa Ring senilai Rp7,6 triliun. Kerja sama ini untuk penyediaan jaringan backbone kabel bawah laut dan komunikasi serat optik sepanjang 36.000 Kilometer (Km).

Dwi Aditya Putra

Merdeka.com

Sri Mulyani Sebut Pemerataan Akses Internet Jadi Kendala Pembangunan Nasional

Para siswa ini berburu jaringan internet di tepi pantai untuk bisa melaksanakan ujian sekolah secara online.
Para siswa ini berburu jaringan internet di tepi pantai untuk bisa melaksanakan ujian sekolah secara online.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, kehadiran Covid-19 memaksa seluruh dunia untuk hijrah ke platform digital. Hal ini dikarenakan di dalam kondisi new normal pertemuan fisik dibatasi, sehingga semua harus menggunakan teknologi digital.

Namun dengan adanya keharusan untuk saling menjaga jarak dan kemudian teknologi digital diharapkan menjadi solusi, maka persoalan lain muncul. Sebab, menjadi pertanyaan apakah semua negara memiliki infrastruktur digital atau sebaliknya.

"Untuk negara-negara yang sudah punya (infrastruktur digital) mungkin juga ada persoalan, bagaimana pemerataannya," jkatanya dalam diskusi Perempuan Penggerak Ekonomi di Masa Depan, Jumat (23/4/2021).

Menurutnya, persoalan inilah yang kemudian sekarang terjadi di Indonesia. Indonesia sudah memiliki infrastruktur digital, namun secara pemerataan masih belum terjadi secara keseluruhan.

Sri Mulyani mengatakan, Indonesia sebagai negara dengan geografis yang luar biasa besar yang selalu menjadi sorotan adalah Jakarta. Seolah-olah akses internet itu sesuatu yang bisa dirasakan oleh semua orang. Padahal tidak.

"Indonesia tidak sama seperti Jakarta masih ada daerah yang tertinggal terluar termiskin yang kemudian perlu untuk mendapatkan bantuan," katanya.

Berdasarkan catatan, terdapat sebanyak 12.377 desa atau daerah yang menjadi pelayanan publik. Di mana di dalamnya ada sekolah, puskesmas, pesantrenhingga lainnya yang belum mendapatkan akses internet.

"Itu yang masih belum tercakup atau belum memiliki fasilitas 4G. Sehingga kualitas komunikasinya sangat tidak bagus aksesnya bahkan mungkin ada yang belum mendapatkan," jelas Sri Mulyani.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: