Ekonomi Dunia Tertekan Hebat, Sri Mulyani: COVID-19 Tak Pandang Bulu

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menunjukkan data-data ekonomi terbaru yang menggambarkan betapa Pandemi COVID-19 telah menyebabkan tekanan hebat terhadap ekonomi dunia secara keseluruhan.

Sri mengatakan, 170 negara di dunia telah terbukti mengalami kontraksi ekonomi atau perekonomiannya yang negatif sepanjang 2020 dari total negara yang tergabung dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebanyak 193.

Berdasarkan studi yang dilakukan World Bank, Sri menyatakan bahwa kondisi ini merupakan kondisi krisis terburuk yang dialami dunia dalam 150 tahun terakhir. Oleh sebab itu, dia menekankan, COVID-19 persoalan yang tidak biasa.

"Kondisi terburuk dalam 150 tahun terakhir itu studi World Bank. Secara statistik ikatan ahli ekonomi harusnya bisa lihat statistik ini dan mulai lihat dampaknya luar biasa sekali," tegas dia dalam Webinar Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Selasa, 6 April 2021.

Sri, yang juga menjabat sebagai Ketua IAEI pun menyatakan Indonesia menjadi bagian dari negara yang ekonominya minus. Pada 2020, perekonomian Indonesia minus 2,07 persen dan mengalami kontraksi terburuk pada kuartal II-2020 sebesar minus 5,32 persen.

"Ini terdalam sejak terjadinya Asian Financial Crisis yang dialami Indonesia pada 1997-1998. Keseluruhan tahun kita kontraksi ekonomi negatif atau minus 2,07 persen, jadi kita termasuk 170 negara yang mengalami kontraksi tadi," jelasnya.

Tapi, dia mengindikasikan, dibanding negara-negara lain, posisi kontraksi ekonomi Indonesia tersebut lebih baik. Ini jika dibandingkan dengan berbagai negara yang tergabung dari kelompok negara-negara manapun.

"Supaya kita tahu karena hidup itu perspektif kita tidak hidup sendiri maka kita lihat perbandingan dan biasanya saya lihat di G20, ASEAN atau sekarang negara OIC atau organisasi negara-negara Islam supaya kita bisa memiliki sense di mana kita berada," ucapnya.

Di negara G20 Argentina ekonominya minus 9,9 persen, Prancis minus 9 persen, India minus 8 persen, Italia minus 9,2 persen, Meksiko 8,5 persen, Inggris minus 10 persen, Kanada minus 5,5 persen, Brazil minus 4,5 persen dan Arab Saudi minus 3,9 persen.

Adapun negara-negara ASEAN, disebutkannya, Singapura minus 6 persen, Filipina minus 9,6 persen, Thailand minus 6,6 persen, Malaysia minus 5,8 persen. Deretan nama-nama ini ditegaskannya adalah yang dikategorikan sebagai ASEAN 5, termasuk Indonesia.

Sementara itu, negara-negara yang tergabung dalam Organisation of Islamic Cooperation (OIC) seperti Iran yang minus 1,5 persen, Iraq minus 12 persen, Kuwait minus 8 persen, Nigeria minus 3,2 persen, Qatar minus 4,5 persen dan Uni Emirat Arab minus 6,6 persen.

"Poin saya ini adalah situasi yang regardeless tidak memandang bulu, siapa saja dihadapkan dan mengalami dampak konsekuensi luar biasa dan tentu dengan kontraksi terjadi konsekuensi kenaikan penganggguran, kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat," ucap dia.