Ekosistem Himalaya Sudah Tak Stabil Ancam Sumber Air Minum Asia

Ezra Sihite, DW Indonesia
·Bacaan 3 menit

Miliaran populasi di Cina, Asia Selatan dan Asia Tenggara bergantung hidup dari sungai-sungai raksasa yang mengalir dari Himalaya. Sungai Yangtse, Ganga, Indus, Bhramaputra, Irrawady atau Mekong hingga kini merupakan sumber air terpenting di kawasan.

Namun perubahan iklim perlahan menggerogoti stabilitas ekosistem di Himalaya, yang ditandai dengan penyusutan gletser akibat kenaikan temperatur. Kondisi gletser secara langsung berpengaruh pada kondisi sungai, yang mengandalkan separuh volumenya pada asupan gletser.

Hal ini diperparah dengan giatnya pembangunan infrastruktur air seperti bendungan irigasi atau pembangkit listrik.

"Ekosistem sungai terancam oleh proyek pembangunan, pembuangan limbah solid atau cair, penambangan pasir atau batu,” kata Himanshu Thakkar, peneliti Jaringan Asia Selatan untuk Bendungan, Sungai dan Manusia, kepada AFP.

"Perubahan iklim yang terjadi dalam jangka waktu panjang sudah mulai terlihat. Dampaknya sudah nyata,” imbuhnya. "Jadi sungai-sungai ini memang sedang sangat terancam”.

Bencana di negara bagian Uttarakhand, India, akhir pekan silam, diyakini dipicu akibat jebolnya kantung air di dalam gletser, yang menghunjam ke lembah di bagian bawah dengan kecepatan tinggi.

Terjangan air menewaskan belasan orang, sementara sebanyak 170 orang masih dinyatakan hilang. Banjir turut menghancurkan satu bendungan, dan merusak bendungan lain yang berada tak jauh di bawah. Sungai Dhauliganga adalah salah satu anak sungai Ganga yang mengalir hingga ke Teluk Benggala.

Bendungan lemahkan struktur geologi?

Tim ilmuwan telah diterjunkan ke lokasi kejadian untuk menyelidiki sebab bencana. Sejumlah pegiat lingkungan kembali menggaungkan kecurigaan lama, betapa proyek bendungan bisa membuat kawasan pegunungan menjadi tidak stabil.

"Area ini sangat rentan, jadi tidak tepat untuk dijadikan lokasi pembangunan dua pembangkit listrik yang saling berdekatan,” kata Himanshu. "Tidak ada perencanaan yang matang, atau penelitian dampak dan studi geologis,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan sejumlah organisasi lingkungan internasional, yang mencatat proyek pembangunan kedua bendungan membuat dinding lembah yang curam menjadi rapuh, dan berisiko longsor.

Kenaikan temperatur juga dinilai berkontribusi pada pelemahan struktur geologi di pegunungan Himalaya. Sebuah studi pada 2019 silam menyimpulkan laju penyusutan gletser meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan saat pergantian abad, atau 25 tahun sebelumnya.

"Dampak perubahan iklim di pegunungan Himalaya adalah kenyataan,” kata Benjamin P. Horton, direktur lembaga sains, Earth Observatory of Singapore. Selain bencana alam, penyusutan gletser mengancam pasokan air minum penduduk, atau kelangsungan sektor pertanian, imbuhnya.

Pada 2013 silam, kawasan yang sama pernah dilanda bencana banjir bandang akibat tanah longsor menyusul hujan lebat. Sebanyak 6.000 orang dikabarkan tewas, sementara desa-desa penduduk hanyut terbawa terjangan air.

Cina: air sebagai properti negara

Di bagian utara Himalaya, Cina pun mencatat kenaikan intenstitas bencana di sungai-sungai besarnya. Tahun lalu, banjir di sungai Yangtse menewaskan ratusan orang dan menghanyutkan ribuan rumah.

Pegiat lingkungan menilai bencana tersebut merupakan indikasi menguatnya dampak perubahan iklim.

Serupa halnya India, Cina juga giat membendung sungai demi mengalihkan air ke kawasan yang lebih kering. Saat ini pemerintah sedang menggiatkan pembangunan kanal Irigasi Selatan-Utara, sebuah proyek irigasi lintas generasi yang berupaya memindahkan air dari Tibet ke perbatasan Gurun Gobi di utara dan sudah dimulai sejak era Mao Zedong.

Namun pemerintah di Beijing berdalih proyek irigasi tersebut justru memudahkan pengendalian banjir.

Cina juga giat membiayai proyek bendungan di negara lain yang juga dialiri sungai-sungai dari Himalaya, seperti di Pakistan atau negara-negara Mekong di Asia Tenggara. Adapun rencana pembangunan bendungan irigasi di sungai Brahmaputra memicu kekhawatiran di Bangladesh yang berada di bagian hilir.

Partai Komunis Cina kini "menguasai sungai-sungai paling besar di dunia yang menjadi nadi kehidupan bagi berjuta-juta manusia di negara hilir, untuk bahan pangan, pertanian, perkapalan dan juga keamanan,” katra Patricia Adams, Direktur Eksekutif Probe International, sebuah lembaga konservasi Kanada.

rzn/gtp (afp, rtr)