Ekosistem Jadi Modal Utama Perbankan Konvensional Berubah Jadi Neo Bank

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Ekonom Indef, Aviliani menuturkan jika saat ini industri perbankan konvensional mulai mengubah alur, dengan mengarah untuk berkolaborasi bersama perusahaan finance technology (fintech). Atau yang disebut dengan digital perbankan atau Neo bank.

Neo bank merupakan bank yang beroperasi secara digital penuh, tanpa kehadiran kantor cabang. Neobank lahir dari aplikasi teknologi chatting atau aplikasi sosial media lainnya.

Aviliani menilai perbankan konvensional bisa beralih atau melakukan transformasi menjadi Neo bank dan lebih mudah. Sebab telah memiliki ekosistem yang kuat dan investasi yang diperlukan pun tidak terlalu besar.

"Kita lihat perbankan yang punya ekosistem, tanpa itu tidak akan menutup biaya investasi dengan biaya untuk mendapatkan pendapat tersebut," kata Aviliani dalam diskusi bertajuk Traditional Bank VS Neo Bank, Jakarta, Selasa (17/11/2020).

Tanpa ekosistem yang baik, Aviliani memastikan tidak banyak bank konvensional yang berhasil bertransformasi ke neo bank. Saat ini dia menilai ada 35-40 bank yang sudah memiliki ekosistem baik di sektor keuangan maupun sektor keuangan non bank.

"Jadi neo bank ini tidak banyak yang akan mampu ke sana. Tapi kalau kita lihat di Indonesia ada sekitar 35-40 bank yang punya ekosistem," tuturnya.

Sehingga, modal utama neo bank yakni ekosistem. Sebab, tanpa ekosistem modal besar belum menjamin bisnis kemajuan di industri ini.

"Kalau enggak punya ekosistem dan punya modal besar belum tentu dibagian merchant itu mau mnejadi bagian dari mereka," kata dia.

"Jadi enggak ada untungnya kalau akhirnya mau jadi neo bank tapi tidak punya ekosistem," kata dia mengakhiri.

Reporter: Anisya Alfaqir

Sumber: Merdeka.com

Bank Harus Jadikan Generasi Milenial Target Nasabah Utama

Ilustrasi Bank Dunia (Liputan6.com/Andri Wiranuari)
Ilustrasi Bank Dunia (Liputan6.com/Andri Wiranuari)

Pandemi Covid-19 membuat semua sektor bertransformasi dengan cepat menggunakan teknologi digital. Termasuk di industri perbankan dengan hadirnya neo bank yang masih menggunakan teknologi digital.

Sisi lain 60 persen nasabah bank berasal dari kalangan milenial dan gen z selama 5 tahun terakhir. Sementara perbankan selama ini hanya berfokus pada generasi yang telah berpenghasilan.

"Bank harus mulai masuk ke usia milenial. Selama ini bank masih tangani yang punya duit atau orang tua, tapi anaknya ini belum dipegang dengan baik," kata Ekonom Indef Aviliani dalam diskusi bertajuk Traditional Bank VS Neo Bank, Jakarta, Selasa (17/11/2020).

Saat ini, sektor keuangan non bank telah mengambil porsi pelayanan perbankan berbasis digital dan ini bisa jadi fee base income. Hal ini bisa menjadi masalah jika diambil dalam kondisi krisis kecil seperti yang terjadi pada tahun 2008 lalu.

Biasanya fee base income ini jadi tumpuan karena kredit bisa jadi masalah. Dia mencontohkan di masa krisis akibat pandemi permintaan restrukturisasi kredit.

"Jika bank hanya tergantung kredit saja, tidak akan mendapat fee base, ini kecenderungan besar," kata dia.

Aviliani mengingatkan, industri perbankan sudah harus menjadikan nasabah milenial dan gen z sebagai sasaran produk perbankan. Bila ini tidak dilakukan, khawatir generasi melek teknologi tersebut malah berpindah kepada bank asing.

Apalagi bank asing memiliki obligasi dan banyak dana murah. Dana investasi yang dibutuhkan obligasi sangat besar dan bisa memengaruhi kapasitas bank.

Merdeka.com

Saksikan video di bawah ini: