Eks Direktur WHO Ungkap Antisipasi COVID-19 di Area Hotel

Donny Adhiyasa
·Bacaan 5 menit

VIVA – Kendati masih dalam ancaman tinggi COVID-19, tapi di hari-hari libur panjang sekarang ini pada kenyataannya sebagian masyarakat masih memanfaatkan waktu untuk berlibur.Bahkan, tak sedikit masyarakat memilih untuk menginap di hotel.

Memang di satu sisi banyak anjuran agar di rumah saja. Tapi di sisi lain ada pula yang beranggapan bahwa mengambil kesempatan libur bersama keluarga memang diperlukan juga.

Situasi ini dapat dilihat dari berbagai analisa dan sudut pandang yang berbada, tetapi kenyataan yang ada perlu mendapat antisipasi segera, salah satunya adalah bagaimana cara terbaik jikalau harus menginap di hotel.

Berikut penjelasan skema antisipasi penyebaran COVID-19 di lingkungan area hotel oleh guru besar paru FKUI yang juga mantan Direktur Regional WHO SEARO dan mantan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes, Profesor Tjandra Yoga Aditama:

Tamu hotel
World Health Organization (WHO) memberi beberapa panduan umum bagaimana menggunakan hotel (untuk berbagai keperluan) di masa COVID-19 ini. Yang amat penting adalah kaidah menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker perlu benar-benar diterapkan.

Pengelola hotel patut menyediakan tempat cuci tangan yang memadai (atau hand sanitizer) di tempat-tempat umum di hotel, misalnya di lobby / resepsionis, ruang makan, ruang pertemuan (kalau masih dibuka) dan lainnya.

Baca juga: Pasien Sembuh COVID-19 Bertambah, Dokter Masih Butuh Bantuan Alkes

Pengunjung hotel harus sering mencuci tangan (sedikitnya selama 20 detik kalau menggunakan pencuci berbasis alkohol atau setidaknya 40 detik kalau dengan sabun dan air mengalir) termasuk sesudah membayar uang misalnya atau menyerahkan kartu kredit, atau menyentuh barang-barang yang banyak disentuh/dipegang tamu-tamu lain.

Lalu proses check in dan check out sebaiknya dibuat se efisien mungkin sehingga tidak banyak orang di lobby dan kontak antar tamu serta tamu dan petugas hotel dapat diminimalisir.

Bicara tempat umum di hotel, maka ruang makan/restoran perlu dapat perhatian penting. Kalau bisa dihindari tentu lebih baik, misalnya dengan menggunakan jasa room service.

WHO menyampaikan bahwa di restoran sebaiknya makanan tidak disajikan dalam bentuk prasmanan, karena ada kemungkinan pengunjung jadi berdekatan mengambil makanan dan bersentuhan pula satu dengan lainnya.

Di dalam ruang makan hotel maka harus diatur agar hanya boleh ada 4 orang dalam area 10 meter persegi. Jarak antara punggung kursi dengan punggung kursi lain dibelakangnya harus setidaknya 1 meter, dan tentu tamu hotel yang duduk berhadapan juga harus berjarak 1 – 2 meter antara mereka.

Secara praktis cara mengurangi kapasitas pengunjung ini antara lain dengan memberi tanda pada kursi/meja yang tidak boleh diduduki atau membuat jam giliran tamu makan dll. Tamu juga harus mencuci tangan waktu masuk dan waktu keluar ruang makan.

WHO juga menyampaikan ventilasi ruangan merupakan faktor penting mencegah penularan COVID-19. Sedapat mungkin kita harus menghindari re-sirkulasi udara di dalam kamar, kecuali kalau hanya seorang diri yang menginap di kamar.

Kalau sekiranya re-sirkulasi tidak dapat dihindari maka tingkatkan ventilasi dengan udara bebas, misalnya membuka jendela kalau situasinya memungkinkan. Juga harus dihindari adanya hembusan aliran udara dari satu orang ke orang lainnya.

Untuk kebersihan kamar, WHO mengharapkan agar pengelola hotel harus punya prosedur yang baik untuk membersihkan, men desinfeksi dan memventilasi kamar secara baik bila tamu sudah check out. Proses ini harus dijamin berjalan sempurna agar kesehatan tamu berikutnya dapat terjaga baik.

Kalau tamu hotel ada keluhan gejala mengarah ke COVID-19 seperti demam, batuk dll., maka petugas hotel harus segera diberi tahu agar segera dapat dilakukan pemeriksaan medis yang diperlukan.

Sementara itu maka tamu harus diisolasi, termasuk dipisahkan dari sesama teman bepergiannya, dan tentu seyogyanya menggunakan masker bedah.

Pengelola hotel
WHO juga sudah membuat rekomendasi bagi pengelola hotel tentang apa-apa saja hal yang mereka perlu lakukan secara rinci di masa COVID-19 ini.

Dokumen yang berjudul “COVID-19 management in hotels and other entities of the accommodation sector” patut jadi pegangan pengelola hotel untuk bekerja dan juga panduan bagi Dinas pemerintah terkait untuk melakukan pengawasan secara berkala dan ketat.

Pedoman WHO ini mencakup area pelayanan hotel meliputi:

  • Resepsionis dan concierge

  • Aspek teknis dan maintenance

  • Restoran dan Bar

  • Kolam renang dan area senam, sauna dll.

  • Kebersihan hotel secara umum dan pengelolaa kamar tamu (housekeeping)

  • Apa yang harus dilakukan kalau ada pasien/suspek COVID-19

Di sisi lain, Badan Penanggulangan Penyakit - Communicable Disease Control (CDC) Amerika Serikat juga mengeluarkan pedoman yang membahas tentang bagaimana pekerja hotel dapat ber risiko tertular COVID-19 serta upaya pencegahannya.

Kemungkinan tertular tentu mungkin saja terjadi di ruang publik di hotel, atau ketika bersalaman, atau menyetuh benda-benda seperti uang, kunci kamar, pena di front desk dll., atau mungkin sehabis menyentuh tombol lift, ATM dll. yang mungkin tercemar virus dan juga ketika membersihkan kamar para tamu.

Pedoman CDC Amerika Serikat ini menyampaikan beberapa kegiatan manajemen kesehatan masyarakat yang perlu dilakukan pengelola hotel pada masa COVID-19 ini, yaitu:

  • Bentuk suasana kerja yang aman terhadap COVID-19

  • Siapkan prosedur yang jelas kalau ada karyawan hotel yang suspek -apalagi kalau sudah pasti- COVID-19

  • Lakukan sistem pencegahan infeksi yang baik

  • Adaptasi sistem administrasi sehingga lebih aman untuk kemungkinan tertular penyakit

  • Jaminan ketersediaan alat pelindung diri (APD) yang memadai

  • Prosedur kebersihan yang baik dalam lingkungan hotel

  • Pengelolaan aspek mental para karyawan

Keputusan untuk berwisata atau tidak memang bukan hal yang mudah. Tentu aspek utama adalah pertimbangan kesehatan agar rantai penularan COVID-19 tidak terjadi.

Di sisi lain harus disadari bahwa memang ada masyarakat yang memerlukan -katakanlah- selingan liburan sejenak. Juga industri pariwisata yang praktis sudah lumpuh total mungkin perlu mencari jalan keluar terbaik.

Diperlukan persiapan yang matang, pemahaman aspek kesehatan yang mendalam serta kajian sosio budaya yang mendalam sebelum keputusan dilakukan.

Jumlah pasien COVID-19 saat ini masih tinggi, maka jangan lupakan 3M: memakai masker, menjaga jarak dan hindari kerumunan, serta mencuci tangan.

#pakaimasker
#jagajarakhindarikerumunan
#cucitanganpakaisabun
#ingatpesanibu
#satgascovid19