Eks Kader Kritik Jagoan PKS di Pilkada Depok: Tidak Ada yang Inovatif

Mohammad Arief Hidayat, Zahrul Darmawan (Depok)
·Bacaan 2 menit

VIVA – Partai Gelora resmi mendeklarasikan diri untuk mendukung calon wali-wakil wali kota Depok Pradi Supriatna-Afifah Alia dalam pilkada tahun 2020. Keputusan itu disampaikan tepat pada hari jadi Partai Gelora pada 28 Oktober 2020.

“Jadi kita juga memberikan momentum ini hadiah besar buat Bang Pradi dan Bu Afifah untuk memberikan dukungan,” kata Ketua Bidang Teritorial Gelora Depok Bramastyo Bontas saat ditemui pada Kamis, 29 Oktober 2020.

Bramastyo menjelaskan, meski sebagai partai baru dan terakhir yang mendukung Pradi-Afifah, Gelora akan sepenuhnya memainkan mesin politik untuk kemenangan calon yang mereka dukung.

Mantan pengurus PKS Depok itu mengungkap sejumlah alasan mendukung kubu yang diusung oleh Gerindra, PDIP, Golkar, PKB, PSI dan PAN itu. Salah satunya adalah setelah melihat visi-misi lawan. Bramastyo menilai tidak ada hal yang baru.

Bramastyo merupakan seorang yang dipercaya untuk memenangkan Mohammad Idris (kandidat dari kubu PKS), dalam pilkada Depok pada lima tahun silam. Kini Idris kembali maju dan diusung PKS, PPP, dan Demokrat.

“Saya tahu persis, karena kebetulan saya ikut dalam menyusun visi-misi kemarin dan tidak ada hal yang baru yang inovatif. Oleh karena itu ketika saya komunikasi dengan Bang Pradi, dia juga oke, kita kasih masukan dia banyak memberikan persetujuan,” ujarnya.

Ia menganggap, selama dipimpin Idris, Depok tak banyak perubahan. Permasalahan Depok ialah kapasitas fiskal, keuangan daerah, dan gaya birokrasi seorang pemimpin.

“Kalau kita lihat bandingkan dengan daerah sekitar, dari Depok sangat minim. Kuncinya gini, apa pun program unggulan yang diberikan paslon tapi kalau tidak memiliki keuangan daerah yang bagus, dia enggak bisa jalankan itu,” katanya.

Menurutnya, tak perlu bicara tentang program unggulan kalau kapasitas fiskalnya tidak bagus. Itulah masalah kota Depok yang tidak dibenahi sejak lima tahun silam. Pertumbuhan ekonomi Depok kecil sekali jika dibandingkan Bekasi, apalagi Tangerang Selatan.

“Ibaratnya gini: langit di Depok terlalu tinggi tapi dia terbang terlalu rendah. Jadi, kemampuan Depok sebetulnya banyak, tapi dia enggak bisa naik, karena masalah di kepemimpinan yang enggak kuat,” katanya.

Baca: Kritik PDIP untuk Rezim PKS di Depok: 15 Tahun Hasilnya Seperti Ini