Eksplorasi kunci generasi alfa mahir di lingkungan sosial

Generasi alfa kini menjadi generasi terbaru dan mendapatkan sorotan karena kemampuan adaptasi mereka yang tinggi terutama terhadap teknologi.

Namun di balik kemahirannya, generasi alfa rupanya memiliki kekurangan dalam hal terlibat aktif di lingkungan sosial.

Rupanya eksplorasi aktivitas dan kegiatan menjadi kunci dalam mendidik anak-anak generasi alfa untuk dapat mahir berkomunikasi di lingkungan sosial.

"Generasi alfa itu memiliki paparan screen time yang lebih lama dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Kurangnya koneksi dengan manusia lain itu yang menyebabkan mereka gak memahami dirinya sendiri. Orangtua dari generasi alfa ini memang harus berperan untuk membantu anak untuk memahami dirinya sendiri," kata dokter spesialis anak Citra Amelinda dalam acara virtual, Jumat.

Baca juga: Gen Z tentukan ruang digital yang sehat

Eksplorasi diri yang dilakukan anak bisa distimulus oleh orangtua dengan mengajarkan anak memahami berbagai macam emosi.

Anak harus memahami perasaan senang, sedih, marah, kuatir, cemburu, dan beragam emosi lainnya agar ia bisa memahami dirinya sendiri dan kemudian bisa memahami bahwa orang lain juga bisa merasakan emosi.

Orangtua harus bisa mendampingi anak untuk bisa menerima setiap hal yang dirasakannya adalah sebuah kewajaran.

"Mereka (generasi alfa) itu karena terlalu tech savvy jadinya kadang kurang bisa memahami atau terkoneksi dengan dirinya sendiri. Jadi orangtua harus bisa membantu biar anak bisa paham perasaan nyaman, senang, kuatir, cemburu. Ajarkan anak menerima apa yang dia rasakan, memberi tahu 'your feelings are valid' agar anak tidak tumbuh sehat secara fisik dan kecerdasan tapi juga mentalnya bertumbuh," kata Citra.

Baca juga: Siberkreasi: Generasi muda perlu panduan literasi keamanan digital

Di samping memahami perasaan, biasakan anak untuk sering mengutarakan pendapatnya dalam setiap pengambilan keputusan khususnya di lingkup keluarga.

Dengan demikian anak dapat memahami bahwa perannya dalam sebuah lingkungan disadari dan dengan demikian ia pun bisa menerapkannya di lingkungan sosial sebayanya.

Dokter Citra mengatakan anak yang terbiasa berkomunikasi nantinya akan terbiasa memahami konteks dalam sebuah komunikasi, untuk itu sebisa mungkin sejak anak dipastikan hadir di dunia maka orang tua harus sering mengajaknya berkomunikasi.

"Komunikasi itu cara orangtua mentransfer kecerdasan kepada anak, kita mentransfer itu pakai bahasa atau ucapan. Ketika anak memahami bahasa, itu tidak hanya ia bisa mendapatkan keterampilan berbicara tapi juga memahami konteks dalam komunikasi, itu juga sebabnya sedari kecil anak harus dibiasakan berkomunikasi," ujar Citra.

Baca juga: Adopsi digital harus dibarengi generasi melek keuangan

Baca juga: Pandemi bikin Gen Z makin lengket dengan dunia digital

Baca juga: Tantangan Tasya Kamila jadi ibu di tengah pandemi dan era digital

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel