Ekspor Perikanan Sumatera Barat Capai Rp 3,6 Miliar di Januari 2021

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Nilai ekspor perikanan di Sumatera Barat mencapai Rp 3,6 miliar pada Januari 2021. ekspor tersebut kombinasi antara ikan hidup dan non-hidup yang dikirim ke Jepang hingga Amerika Serikat (AS).

"Alhamdulillah, kenaikannya drastis dari ekspor di Desember yang hanya Rp174,7 juta," kata Kepala Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Padang Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rudi Barmara, Senin (8/2/2021).

Rudi merincikan peningkatan ekspor tersebut berasal dari 640 ekor ikan hidup dan 20.108,09 kilogram (kg) komoditi non hidup. Adapun dari sisi komoditas terdiri dari ikan hias laut sebanyak 640 ekor dengan senilai Rp 128 juta. Ikan ini dikirim ke Tokyo, Jepang dalam sekali pengiriman.

Lalu ada juga ikan tuna beku (frozen tuna) seberat 20.108,09 kg yang dikirim ke Miami, Amerika Serikat. Nilai sekali kirim komoditas ini mencapai dengan nilai mencapai Rp 3,5 miliar. Rudi memastikan ikan-ikan ekspor dari Sumatera ini dipastikan sehat dan terjamin kualitasnya.

“Hasil perikanan yang ditangkap di perairan Sumbar dipastikan sehat, terjamin kualitasnya, aman dikonsumsi, dan memenuhi persyaratan negara tujuan ekspor” sambungnya.

Rudi menambahkan, kapal ikan di Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus, Kota Padang melakukan bongkar muat seminggu sekali. Pihaknya pun selalu melakukan pemeriksaan ke lokasi untuk memastikan kualitas ikan yang akan diolah untuk ekspor.

Dalam setiap kunjungan, pihaknya melakukan cek secara fisik kesegaran ikan hasil tangkapan dengan cara memeriksa daging ikan yang masih kenyal, kulit yang mengkilap dan mata ikan yang masih cembung, cerah.

Rudi memastikan, petugas mengambil sampel ikan untuk diperiksa ke laboratorium untuk pengecekan. Tujuannya untuk memastikan produk dari Unit Pengolahan Ikan bebas dari bakteri berbahaya, formalin, dan sesuai dengan permintaan negara tujuan.

"Kami berkomitmen menjaga mutu dan keamanan hasil perikanan terutama yang keluar dan masuk provinsi Sumatera Barat," kata dia.

Reporter: Anisyah Al Faqir

Sumber: Merdeka.com

Dalam 3 Bulan, Ekspor Langsung Produk Perikanan dari Manado ke Jepang Capai Rp 14 Miliar

Nelayan menurunkan ikan hasil tangkapan laut di Muara Baru, Jakarta, Kamis (29/3). Untuk mendorong ekspor komoditas perikanan KKP akan memberikan bantuan alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Nelayan menurunkan ikan hasil tangkapan laut di Muara Baru, Jakarta, Kamis (29/3). Untuk mendorong ekspor komoditas perikanan KKP akan memberikan bantuan alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, direct call atau ekspor langsung dari Manado ke Jepang menunjukkan tren positif tiga bulan sejak diluncurkan. Dalam kurun waktu 23 September - 23 Desember 2020, Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) telah melakukan 14 kali direct call dengan total volume yang dilalulintaskan mencapai 97.070,87 kilogram.

Dari kegiatan itu, nilai ekspor produk perikanan yang dilalulintaskan melalui direct call tersebut mencapai USD 1.042.426,58 atau berkisar Rp 14, 7 miliar (kurs 14.131).

"Tentu ini menjadi kabar positif, sejak diluncurkan, kita telah melakukan 14 kali direct call Manado-Jepang," kata Kepala BKIPM, Rina, seperti dikutip dari keterangan resmi pada Kamis (28/1/2021).

Dari total 14 unit pengolah ikan (UPI) yang menjadi bagian dari direct call ini, lima di antaranya merupakan UPI yang baru melakukan ekspor. Komoditas top yang diekspor adalah yellowfin tuna whole, yellowfin tuna loin, frozen tilapia, lobster hidup, dan ornamental marine fish.

"Kita semakin bangga, karena ada 5 UPI baru yang bisa ikut ekspor juga selain 9 yang memang sudah sering ekspor," tutur Rina.

Rata-rata volume ekspor yang dilalulintaskan per direct call mencapai 6.998,56 kilogram. Kemudian rata-rata nilai per direct call sebesar USD 74.459,04.

Rina mengungkapkan, estimasi efisiensi biaya cargo dari adanya direct call Manado-Jepang ini sebesar Rp 218,7 juta. Ia berharap direct call juga bisa dilakukan di daerah-daerah lain, terutama sentra-sentra perikanan.

"Ini mencapai 56,81 persen dari biaya sebelum adanya direct call. Artinya ada efisiensi biaya cargo," tuturnya.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: