Ekspor sawit sumbang Rp2,3 triliun devisa Sulbar

Ekspor sawit beserta turunannya menyumbang devisa terbesar di Sulawesi Barat, yakni senilai Rp2,3 triliun, kata Kepala Karantina Pertanian Mamuju Agus Karyono.

"Sawit dan turunannya menjadi komoditas ekspor penyumbang devisa terbesar di Sulbar sehingga devisa tersebut mampu mendorong dan meningkatkan perekonomian di Sulbar," kata Agus Karyono di Mamuju, Kamis.

Data sistem automasi Badan Karantina Pertanian (IQ-Fast) Kantor Karantina Pertanian Mamuju periode Januari hingga Agustus 2022 kata Agus Karyono, telah mensertifikasi Crude Palm Oil (CPO) dan turunan sawit sebanyak 184 ribu ton dengan nilai barang Rp2,3 triliun.

Baca juga: Pemerintah perpanjang pembebasan tarif pungutan ekspor produk sawit

Turunan sawit tersebut terdiri dari refined bleached deodorized (RBD) palm olein sebanyak 132.000 ton, RBD palm Sstearin 46.000 ton, palm fatty acid distillate (PFAD) 4.000 ton dan RBD palm oil 1.750 ton.

"Selama periode tersebut RBD palm olein menyumbang Rp1,7 triliun, kemudian RBD oalm stearin sebanyak Rp505,8 miliar, disusul oleh PFAD sebanyak Rp57,3 miliar dan ditutup oleh RBD palm oil sebanyak Rp21,6 miliar," papar Agus Karyono.

Terdapat 11 negara tujuan ekspor lanjut Agus Karyono, yaitu Tiongkok, Filipina, Pakistan, India, Malaysia, Korea, Jepang, Denmark, Yordania dan Yaman.

Pintu pengeluaran ekspor di Pelabuhan Tanjung Bakau di Kabupaten Pasangkayu dan Pelabuhan Belang-Belang di Kabupaten Mamuju.

Jika dibandingkan pada tahun lalu dengan periode yang sama, capaian ekspor tahun ini mengalami penurunan.

"Hal ini disebabkan adanya kebijakan pemerintah terkait pelarangan ekspor CPO dan prioritas mencukupi kebutuhan dalam negeri, namun setelah ada pencabutan larangan ekspor CPO sejak 23 Mei 2022 secara bertahap ekspor mulai meningkat," beber Agus Karyono.

Baca juga: BPDPKS dukung perpanjangan pembebasan tarif pungutan ekspor sawit

Secara umum, Agus Karyono menyampaikan bahwa terdapat sembilan komoditas pertanian ekspor Sulbar yang meliputi olein, stearin, PFAD, oil, cangkang sawit, kopi, sapu lidi, briket batok kelapa, dan durian.

"Subsektor perkebunan CPO dan turunannya, mendominasi lebih dari 90 persen dalam hal kontribusi sebagai penyumbang devisa terbesar ekspor," ujarnya.

Sementara itu, Plant Manager PT TSL Eka Prasetyawan mengaku optimistis ekspor tahun ini berangsur membaik.

"Pulihnya ekonomi nasional dan global dari dampak pandemi COVID-19 serta tingginya permintaan negara tujuan terhadap CPO dan turunannya, membuat kami optimistis ekspor tahun ini perlahan akan membaik," kata Eka Prasetyawan.