Eksportir Diminta Ekspor Produk Pertanian dalam Olahan Ketimbang Mentah

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengajak eksportir untuk mengekspor produk pertanian dalam bentuk olahan. Langkah ini demi meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk pertanian Indonesia. 

 

"Kami akan dorong para eksportir agar tidak lagi mengekspor komoditas pertanian dalam bentuk gelondongan. Kami harapkan para eksportir bisa belajar untuk mengekspor produk pertanian dalam bentuk produk olahan," kata SYL melalui keterangan tertulis, Jumat (21/2/2020).

 

Kementerian Pertanian bersama perbankan dan pemerintah daerah siap untuk memberi dukungan penuh kepada para eksportir dalam bentuk Kredit Usaha Rakyat (KUR).

 

Dia optimis pembangunan pertanian, terutama di daerah Sumatera Utara (Sumut) dapat terus meningkat. Hal ini diperkuat dengan data ekspor komoditas Sumut pada 2018 yang mencapai Rp 26,6 triliun, naik dari 2019 senilai Rp 32,2 triliun. 

 

"Saya senang eksportir banyak yang berminat untuk menggunakan KUR. Saya minta dengan Gubernur (Sumut, Edy Ramhayadi) ini bisa difasilitasi. Kita butuh energi yang kuat termasuk dari Pemda untuk bisa mendorong komoditi pertanian berskala ekspor," ungkap SYL. 

 

Lebih lanjut, ia mengklaim Indonesia sebagai negara tropis memiliki potebsi pertanian yang sangat besar untuk dapat memenangkan pasar dunia. Hal ini dibuktikan salah satunya oleh Sumatera Utara yang berhasil melepas ekspor 28 komoditas pertanian senilai Rp 79,6 miliar ke 28 Negara. 

 

"Kita kembali membuktikan bahwa ekspor pertanian adalah sesuatu yang menjanjikan. Saya juga menjadi sangat yakin dengan potensi pertanian kita, karena sarang burung walet kita tetap bisa masuk ke China. Itu membuktikan dalam situasi apapun kebutuhan dunia terhadap pertanian kita tetap terbuka," tuturnya.

Butuh Partisipasi Milenial untuk Transformasi Sektor Pertanian

Petani Kabupaten Pali, Sumatera Selatan.

Lemahnya sumber daya pertanian sebabkan tingkat kesejahteraan petani relatif rendah. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Hermanto Siregar.

Ia juga menjelaskan, untuk memperbaiki keadaan tersebut, perlu adanya transformasi pertanian. Sebab, saat ini tenaga kerja pertanian diserap oleh industri, terutama milenial.

"Tenaga kerja sektor pertanian yang turun itu diserap oleh sektor industri," ungkap Hermanto dalam Seminar Nasional Ekonomi Pertanian,  Pertanian Masa Depan di Jakarta, Selasa (18/02/12).

Permasalahan lainnya adalah terkait produktivitas petani. Dimana sebagian besar berasal dari usia tua dan memiliki latar belakang pendidikan yang rendah.

"Produktivitasnya relatif rendah tidak memiliki keterampilan lainnya yang memadai. Seperti untuk pengolahan hasil pertanian hingga menjadi produk yang dapat memberikan nilai tambah," terangnya.