Elon Musk Ancam Batal Beli Twitter Jika Data Akun Palsu Tidak Diberikan

Merdeka.com - Merdeka.com - Miliarder Elon Musk mengancam akan membatalkan kesepakatan pembelian Twitter jika platform media sosial tersebut tidak memberikan data yang dia minta soal akun palsu dan bot.

Pada akhir April lalu, Musk bersepakat membeli Twitter dengan harga USD 44 miliar atau setara Rp 635 triliun. Namun kesepakatan ini masih menunggu persetujuan para pemegang saham.

Dalam surat yang disampaikan kepada Twitter, kuasa hukum CEO Tesla dan SpaceX itu menuding Twitter "menolak dan menghalangi hak-hak informasi Musk" berdasarkan kesepakatan pembelian platform tersebut.

"Ini jelas merupakan pelanggaran material terhadap kewajiban Twitter berdasarkan perjanjian merger dan Bapak Musk memiliki semua hak yang dihasilkan darinya, termasuk haknya untuk tidak menyelesaikan transaksi dan haknya untuk mengakhiri perjanjian merger," tulis tim kuasa hukum dalam surat tersebut, dikutip dari Al Jazeera, Selasa (7/6).

Twitter mengatakan pihaknya bermaksud untuk menutup kesepakatan dengan harga dan persyaratan yang disepakati.

"Twitter telah dan akan terus bekerja sama berbagi informasi dengan Musk untuk menyelesaikan transaksi sesuai dengan ketentuan perjanjian merger," jelas Twitter dalam sebuah pernyataan pada Senin.

Saat mengumumkan membeli Twitter, Musk mengatakan memberantas akun bot atau akun palsu akan menjadi salah satu prioritasnya. Namun bulan lalu dia mengatakan akuisisi ini masih tertunda karena masalah ini.

Bulan lalu, CEO Twitter, Parag Agrawal mengatakan pihaknya memperkirakan kurang dari 5 persen dari semua pengguna Twitter yang merupakan akun palsu.

"Tantangan sulitnya adalah banyak akun yang kelihatan palsu - sebenarnya adalah orang sungguhan," tulisnya.

"Dan beberapa akun spam yang sebenarnya sangat berbahaya dan sangat merugikan pengguna kami, dapat terlihat benar-benar absah di permukaan." [pan]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel