Elon Musk Bubarkan Seluruh Dewan Direksi Twitter

Merdeka.com - Merdeka.com - Miliarder Amerika Serikat Elon Musk membubarkan dewan direksi Twitter. Pembubaran yang Musk lakukan diketahui sebagai usahanya untuk memperkuat kendali atas platform media sosial yang baru dibelinya itu.

Musk pun akan menjadi pemimpin eksekutif atas perusahaan yang dibelinya seharga USD 44 miliar atau Rp 688.5 triliun.

Berbagai rencana untuk mengubah platform media sosial yang sering dipakai para politisi dan jurnalis itu sudah dicanangkan Musk, salah satunya seperti biaya per bulan sebesar USD 20 atau Rp 312.000 yang harus dikeluarkan akun terverifikasi atau centang biru hingga pemotongan tenaga kerja perusahaan.

Kantor berita The Washington Post melaporkan, Musk akan melakukan pemotongan pekerja Twitter sebesar 25 persen.

Sebelumnya Musk juga sudah memecat petinggi-petinggi Twitter, mulai dari CEO Twitter Parag Agrawal, Kepala Dewan Direksi Bret Taylor, hingga CFO Twitter, Ned Segal. Anggota dewan direksi lainnya seperti Martha Lane Fox juga diyakini akan dipecat Musk.

Dibalik semua pemecatan itu, terdapat pihak lain yang mendapatkan keuntungan dari pembelian Twitter oleh Musk, seperti pendiri Twitter Jack Dorsey.

Menurut laporan Komisi Sekuritas dan Bursa AS, Dorsey melepas 18 juta saham yang dimilikinya di Twitter. Dengan satu lembar saham seharga USD 54.20 atau Rp 848.3 ribu, maka Dorsey mendapat keuntungan sebesar USD 978 juta atau Rp 15.3 triliun dari penjualan Twitter.

Dorsey yang meninggalkan dewan direksi Twitter pada Mei lalu mengungkap dia mendukung pembelian Musk atas platform media sosial yang didirikannya.

“Elon adalah solusi yang satu-satunya saya percaya. Saya percaya misinya untuk memperluas cahaya kesadaran,” jelas Dorsey, dikutip dari BBC, Selasa (1/11).

Selain misinya untuk memperluas kesadaran, Musk yang menjelaskan dirinya sebagai ‘Chief Twit’ atau ‘Bos Twit’ juga diyakini akan menghapus akun-akun Twitter yang sudah tidak aktif selama satu tahun.

Bagi Senator AS Chris Murphy, pembelian Twitter oleh Musk dapat mengancam keamanan AS. Sebab pemegang saham Twitter terbesar kedua adalah perusahaan swasta Arab Saudi yang dimiliki Pangeran Al-Walid bin Talal, mengingat juga hubungan AS dan Arab Saudi yang sedang tidak akur.

“Kita harus khawatir bahwa Saudi, yang memiliki kepentingan jelas dalam menekan kebebasan berpolitik dan mempengaruhi politik AS, sekarang adalah pemilik terbesar kedua dari platform media sosial utama. Ada masalah keamanan nasional yang jelas dipertaruhkan dan CFIUS (Komite Investasi Asing di Amerika Serikat) harus melakukan tinjauan,” tulis Murphy di Twitter.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan [pan]