Emas jatuh saat "greenback" menguat dan investor memburu aset berisiko

Nusarina Yuliastuti
·Bacaan 2 menit

Harga emas jatuh pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah menguat sehari sebelumnya, tertekan oleh dolar yang lebih kuat dan optimisme seputar potensi vaksin COVID-19 meningkatkan harapan ekonomi akan rebound dengan cepat, mendorong investor menuju aset-aset berisiko.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember di divisi COMEX New York Exchange merosot 14,8 dolar AS atau 0,79 persen menjadi ditutup pada 1.861,6 dolar AS per ounce. Sehari sebelumnya (10/11/20200, emas berjangka melonjak 22 dolar AS atau 1,19 persen menjadi 1.876,4 dolar AS per ounce.

Emas berjangka anjlok 97,3 dolar AS atau 4,99 persen menjadi 1.854,40 dolar AS pada Senin (9/11/2020), setelah bertambah 4,9 dolar AS atau 0,25 persen menjadi 1.951,70 dolar AS pada Jumat (6/11/2020), dan melambung 50,6 dolar AS atau 2,67 persen menjadi 1.946,80 dolar AS pada Kamis (5/11/2020).

Baca juga: Emas "rebound" terangkat ekspektasi stimulus dan kekhawatiran ekonomi

"Emas memiliki dua hal yang berlawanan, ekuitas yang kuat dan dolar yang kuat pada saat ini. Sulit bagi emas untuk terus reli karena kedua pasar tersebut bergerak lebih tinggi," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.

"Pelarian ke tempat yang aman pada logam mulia yang kami miliki minggu lalu setelah pemilu AS hilang saat berita vaksin virus corona."

Merusak daya tarik emas, dolar naik 0,4 persen ke level tertinggi hampir satu minggu, membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya.

Baca juga: Rusia sebut vaksin Sputnik V 92 persen efektif

Sentimen risiko di antara investor menguat karena prospek vaksin COVID-19 yang efektif menutupi kekhawatiran atas lonjakan infeksi.

Namun terobosan tersebut menyoroti tantangan logistik dalam mendistribusikan ratusan juta dosis vaksin begitu tersedia.

"Mengingat reaksi yang kami lihat terhadap berita vaksin dalam beberapa hari terakhir, risiko penurunan langsung untuk emas tidak diragukan lagi telah meningkat," kata analis OANDA, Craig Erlam dalam sebuah catatan.

"Area utama tetap antara 1.850-1.860 dolar AS dan terlihat sangat rentan dalam waktu dekat." Namun, "prospek emas jangka panjang tetap bullish, jalan menuju pemulihan akan memakan waktu dan membutuhkan lebih banyak dukungan bank-bank sentral dan pemerintah-pemerintah."

Baca juga: WHO: Vaksin COVID Pfizer "sangat menjanjikan", namun ada tantangan

Pembuat kebijakan Federal Reserve pada Selasa (10/11/2020) menyoroti perlunya dukungan fiskal yang lebih bertarget dari pemerintah.

Emas, yang telah meningkat lebih dari 22 persen tahun ini, cenderung diuntungkan dari langkah-langkah stimulus yang luas dari bank-bank sentral karena secara luas dipandang sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan penurunan nilai mata uang.

Logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 19,5 sen atau 0,8 persen menjadi ditutup pada 24,267 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Januari turun 24,6 dolar AS atau 2,76 persen menjadi menetap di 868,1 dolar AS per ounce.